
Mencoba untuk menjadi teman seorang iblis menyebalkan seperti Audrey bukanlah hal yang buruk, sebenarnya Audrey adalah tipe pria yang ramah dan baik, dia juga selalu mengajarkan ku tentang setiap hal, tapi entah kenapa setiap kali aku menatapnya aku teringat akan kejadian menyebalkan tiga tahun yang lalu, saat Audrey pergi tanpa pamit setelah sehari acara wisudanya.
Hari itu Audrey sedang wisuda sebenarnya tapi ia malah meninggalkan acara itu dan pergi untuk menjelaskan pada kakek tentang apa yang terjadi, tentang seorang Blevin Victoria Clark yang menjatuhkan tasnya di acara pesta narkoba.
Saat ini aku hanya termenung di dalam kamar tanpa mau melakukan aktivitas apapun sekarang, aku menatap tas biola ku, aku tersenyum miris dan mengeluarkan biola itu.
Aku mulai menggesek senarnya, mendengarkan suara yang berasal dari dawainya.
Nyaman yang kurasakan seakan kembali teringat pada Bella, Bella adalah kembaran ku, dia kakak ku, namun sayang dia harus meninggalkan ku secepat ini.
Tok... tok... cklek... pintu kamar ku terbuka, ada Haruka disana rupanya.
"Ada apa datang ke kamar ku?" tanya ku tidak suka.
"Aku hanya ingin berbicara empat mata dengan mu."
aku masih menatap ke luar jendela, sementara Haruka sudah duduk di sofa.
"Sebenarnya siapa dirimu?" tanya Haruka.
__ADS_1
Aku tersenyum miris, bagaiman bisa dia tidak tau bahwa aku adalah istri sah dari Audrey, apakah dia tidak pernah membaca majalah atau menonton televisi?
"Aku tidak membaca berita di sosial media atau kau tidak punya televisi di rumah mu?" ujar ku, aku kembali memasukan biola itu kedalam tasnya dan berdiri sambil melipat kedua tangan ku di depan dada.
"Kau tau, orang yang memberi mu tempat tinggal dan status di rumah ini adalah suami sah ku? kau tau inirumah ku yang dirancang olehnya, dan mereka telah mengenal mu sebagai istri darinya? Haruka siapa sebenarnya dirimu?" tanya ku balik.
Haruka meneteskan air matanya saat aku mulai menumpahkan rasa kesal ku padanya.
"Blevin, bisakah aku meminta sesuatu pada mu?" ujarnya.
"Meminta? tidak sopan sekali anda meminta pada nyonya yang sebenarnya dan kini kau sudah di akui sebagai nyonya palsu di rumah ini."
Apa maksudnya wanita ini? dia sama seperti Audrey menyebalkan.
"katakan!" ucap ku singkat.
"Berikan Audrey pada ku, aku mencintainya, aku tidak bisa hidup tanpa dia, dia adalah orang yang paling berharga dalam hidup ku."
Mata ku menatapnya nanar, dia meminta Audrey dari ku? gila! kenapa dia tidak mati saja coba?
__ADS_1
"Hey! kau tidak tau diri atau bagaimana? kau meminta orang suami dari seorang istri? jika aku bisa memberikan Audrey pada mu maka dari dulu sudah ku lakukan, bahkan aku sudah memintanya menceraikan ku, tapi kau lihat iblis itu masih dengan angkuhnya menguasai hidup ku, maaf Haruka, Audrey tidak akan pergi dari ku sebelum dirinya sendiri yang mengatakan ingin menjauh." ujar ku.
"Blevin, kau yakin tidak mencintai Audrey? dan apakah kau yakin jika anak ini bukan anak Audrey?"
Aku benar-benar kesal saat ini, wanita ular! aku yakin aku tidak mencintai Audrey tapi anak itu?
"Jika dia anak Audrey, itu adalah kesalahan kalian bukan kesalahan ku, dan aku cukup mengenal suami pura-pura mu itu, dia bukan orang yang akan lari dari tanggung jawab, dan masalah itu bukanlah urusan ku, kau mengerti!" ujar ku kesal, dan aku segera pergi dari kamar ku.
Muak sekali rasanya harus ikut campur dengan masalah antara wanita ular dan si raja iblis itu.
Aku kembali ke kandang James dan Jeny, aku ingin berkuda sekarang juga, halaman belakang rumah ini sangat luas, bagaimana tidak? jika luas tanah saja mencapai 1,2 hektar, bagian yang terpakai hanya separuhnya, dan sisanya di buat kebun, aku sangat senang bisa berkuda di sini sebenarnya.
Aku memasang pelana pada James, kemudian aku menungganginya.
" James, menurut mu bagaimana sikap Audrey? kau percaya jika anak itu anaknya bersama wanita ular itu? aku bimbang James." ucap ku sendiri pada James, aku tidak punya teman, bahkan di kantor pun aku sedikit menjauh dan menjaga jarak, alasan ku? entah lah aku juga tidak tahu, selama ini teman ku hanya Davi pria presto kata Audrey dan juga teman lama ku saat aku SMA.
Aku turun dari tubuh James, aku duduk di kursi taman, dan seorang pelayan mengantar anggur segar untuk ku.
"Nona, silahkan di nikmati, saya permisi." aku hanya mengangguk menanggapinya, aku mengunyah anggur itu dengan perlahan, sensasi manis dan asam membuat ku menyukai buah ini.
__ADS_1
"James apa yang harus aku lakukan jika benar apa yang dikatakan wanita itu, jika memang itu anak Audrey harusnya Audrey menikah dengan wanita itu bukan dengan ku, dan Audrey tentunya akan sangat senang karena pada akhirnya dia memiliki keturunan, ibu Hana juga pasti akan senang karena selama ini dia menginginkan cucu bukan? James aku harus apa?" ujar ku berkali kali, pasalnya aku tidak tau sekarang harus bagaimana, seperti di dua sisi tebing dan aku harus melompat kedalam jurang.