Straight Devil

Straight Devil
Kalah Dengan Teh


__ADS_3

Hari berganti, ibu dan ayah mertua ku mengundang ku untuk datang ke sebuah acara anniversary pernikahan salah satu keluarga mereka siang ini, aku dan Audrey mengenakan baju senada, kami berdua mengenakan kemeja berwana maron, aku dengan rok selutut berwarna hitam, sementara Audrey dengan celana jeans-nya.


Sesampainya di tempat acara aku dan Audrey turun dari mobil, kami disambut oleh keluarga Tajima, ini adalah rumah orang tua ibu mertuaku.


Kami berdua membungkuk sebagai sopan santun kepada mereka yang derajatnya lebih tinggi dibandingkan kita berdua.


"Cucu menantu keluarga mu memang sangat cantik Hana, tidak salah Audrey memilihnya." ucap seorang wanita tua, usianya kira² 80 tahunan.


"Blevin, ini adalah nenek Audrey, dia adalah adik ibu ku, usianya sekarang 89 tahun, saat pernikahan kalian dia tidak hadir karena kondisinya tidak memungkinkan." jelas ibu mertua ku.


"Audrey, mari ikut ayah dan paman Juno." Ayah mertua ku memanggil Audrey dan meninggal ku bersama ibu.


"Blevin, duduk dan nikmati teh mu, oh ya ini Dahlia dan anak anaknya." ibu memperkenalkan ku kepada anggota keluarga lainnya.


"Dahlia adalah cucu menantu keluarga dari nenek Tagashi, dia orang Indonesia juga, dan dia sudah memiliki 5 orang anak, karena suaminya merupakan anak tunggal dari keturunan Tagashi, jadi untuk meneruskan keturunan dia harus memiliki banyak pewaris." ucap ibu, aku sedikit terpukul disini, ibu tidak menyuruh ku untuk memiliki banyak anak bukan?


"Blevin, kau mau menggendong anak ku?" tanya Dahlia yang kini berada di samping ku.


"Boleh?"


"Tentu saja, dia juga keponakan mu, oh ya... jadi selama ini apa saja kesibukan mu, sudah 7 bulan menikah, apakah kalian belum berencana untuk memiliki penerus?" tanya Dahlia, aku hanya tersenyum miris.


"Oh.. sepertinya kau dan Audrey sedang menikmati masa pacaran terlebih dahulu, tapi kau juga perlu tau Blevin, Audrey sudah berusia 30 tahun saat ini, dan keluarga pasti sangat menginginkan cucu bukan?"


"Oh ya... mungkin nanti kami akan memikirkannya." putus ku, aku menimang bayi berusia 4 hari di tangan ku, sungguh ini sangat menakjubkan, apakah dulu aku terlahir selembut ini?


Jawabannya, mungkin aku tidak seperti dia, ibu dan ayah sibuk dengan keadaan Bella yang memiliki kelainan saluran cerna saat baru lahir.


"Blevin, kau sudah cocok untuk menggendong bayi mu sendiri." itu ayah mertua ku, dia datang dengan membawa peralatan tenisnya.


Aku hanya tersenyum dan kini kami berpindah tempat, kami para wanita bibi Dania, ibu, aku, nenek Tagashi, Dahlia serta para anak Dahlia duduk di halaman belakang dengan pemandangan Audrey dan Taoko yang sedang bermain tenis, sementara para orang tua menyaksikan di sudut lapangan.

__ADS_1


"Suami mu itu memang selalu menjadi pemenang dalam tenis, meski begitu dia sangat membenci tenis." ucap nenek Tagashi.


"Kenapa nek?" tanya ku.


"Dia membenci tenis tapi dia selalu menjadi pemenangnya, karena dia selalu bergaul dengan tenis, dia selalu berusaha meski dia membenci hal tersebut, dia memang orang yang berbeda baik dari segi pemikiran atau pun perlakuan." jelas nenek Tagashi, aku hanya mengangguk pasrah kini.


Hari sudah malam, setelah makan malam semua orang masuk ke kamarnya masing-masing, aku dan Audrey juga sama, kami menginap semalam di sini, karena rumah ini jauh dari kota lagi pula besok merupakan hari libur, jadi kami memutuskan untuk menginap.


tok... tok...


Aku membuka pintu ternyata pelayan nenek Tajima yang datang.


"Maaf nyonya, saya mengganggu malam anda, tapi nenek berpesan untuk mengantarkan teh herbal untuk anda dan tuan Audrey."


Aku hanya tersenyum dan mengambil nampan berisi dua cangkir teh herbal yang tadi disebutkannya.


"Terima kasih." ujar ku, pelayan itu keluar dan aku menutup pintu, Audrey baru saja keluar dari kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


"Minum saja, itu sudah biasa dalam tradisi keluarga ibu, ini sejenis tonik awet muda." Dan Audrey mengambil gelas dari nampan yang ku pegang, dia segera menghabiskannya dan menuju ranjang untuk tidur.


Aku juga tanpa ragu sedikitpun menghabiskan satu gelas lainnya, kemudian tertidur di samping Audrey.


Jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam, aku mulai gelisah rasa yang sama saat obat gila yang ayah berikan itu bereaksi pada tubuh ku, bedanya, sekarang tubuh ku terasa ringan dan tidak menggebu.


Aku melihat Audrey yang juga nampak gusar, dia membuka baju piyamanya.


Aku memalingkan wajah ke sisi kiri ku agar tidak melihat Audrey sekarang, Audrey memeluk ku dari belakang, aku merasakan lengan hangat Audrey yang menyentuh kulit lengan ku, ada apa dengannya?


"Audrey??? ada apa dengan mu?" cicit ku.


"Apa kau merasakannya?" tanyanya.

__ADS_1


"Apa?"


"Ada sesuatu yang mengeras di bawah sana, Blevin jika aku menginginkan mu malam ini bagaimana?" ujarnya.


"Audrey, kau berjanji akan menjadi teman ku bukan? sesama teman tidak boleh saling menyakiti."


"Kita saling membutuhkan sekarang Blevin, kita tidak akan menyakiti siapapun."


"Kita akan menyakiti hasil dari perbuatan kita Audrey, sadarlah."


Audrey membungkam mulut ku, entahlah aku hanya bisa pasrah sekarang, perasaan marah ku juga tidak bisa keluar sekarang, tuhan aku harus bagaimana?


Pagi harinya, seluruh tubuhku terasa sangat pegal, tulang ku seakan luruh dari tubuh ku, aku melihat Audrey masih bergelung dengan selimut tebal yang membungkus tubuh kami.


Aku menelan ludah ku, aku tau hal yang semalam terjadi adalah hal yang wajar, tapi kami tidak saling mencintai, bagaimana bisa kami berdua bertanggung jawab atas hal ini?


Dengan tertatih aku melangkah menuju kamar mandi, setelah selesai dan berpakaian aku membangunkan Audrey.


"Bangun." ucap ku yakin. Audrey bangun dan menatap ku, tanpa banyak tanya dia masuk kedalam kamar mandi, sementara aku sibuk mengganti sprei.


Bagaimana bisa aku tidak mencuci bekas perdebatan kami semalam.


Kami berdua turun untuk sarapan meski sudah terlewat, Audrey dan aku saling bungkam, hanya ibu yang menegur ku.


"Blevin, kau mencuci sprei di kamar mu? memang kenapa? itu baru di ganti kemarin?"


Audrey menjawab dengan cepat.


"Aku menumpahkan teh yang di antar pelayan semalam." jawab Audrey tegas.


"Tumpah ya??? sayang sekali padahal teh itu sangat mahal dan baik di konsumsi untuk kalian berdua, nenek yakin teh itu sangat baik untuk meningkatkan kesuburan dan keharmonisan rumah tangga kalian berdua."

__ADS_1


Apa apaan ini nenek benar benar jujur saat ini, sudah terbukti kami kalah dengan teh itu semalam.


__ADS_2