
Sepertinya lebih enak mengganti sebutan saya menjadi aku, supaya lebih akrab, sekarang saya akan memanggil diri saya sendiri dengan sebutan aku.
Semalam aku pergi saat Blevin mulai menyinggung ku tentang masalah kepriaan ku, tentu saja aku normal, bahkan jika Blevin semalam mau, aku akan menunjukannya, tapi sayang aku masih di batas waras, tidak mungkin aku suaminya tapi di bilang memperkosanya bukan?
Kami bersama keluarga besar Clark menunggu di restoran hotel, aku dan Blevin duduk bersebrangan, di samping ku ada tuan Adam, dia adalah kakak dari Blevin, di samping kanan ku ada bibi Rosela, dia adalah adik dari tuan Diego, dan di ujung sana di kepala meja ada tuan Ferdinand, dia adalah tertua atau kakek dari Blevin.
"Bagaimana dengan malam mu Audrey." sapa tuan Diego pada ku, sebulan ini memang aku selalu berdekatan dengan tuan Diego bukan hanya karena aku meminta putrinya secara dadakan, namun karena tuan Diego adalah direktur dari perusahaan yang sedang bekerja sama dengan ku.
Sedikit ingin menggoda Blevin aku sengaja mengatakan hal yang mungkin akan membuatnya semakin marah pada ku, tapi itu cukup menyenangkan.
"Tentu menyenangkan tuan, aku tidur degan baik, terlebih putri mu memperlakukan ku dengan baik." ucap ku menyindir, baik dari mananya, semalam aku di tampar sampai memar, untung saja Dio datang dan membawa ku ke dokter.
"Cucu ku memang yang terbaik Audrey, dia sebenarnya berhati lembut namun kau tau kan, bagaimana cara dia memperlakukan orang sekitarnya." ucap tuan Ferdinand pada ku, dan aku hanya tertawa.
"Blevin, mengapa kau hanya mengacak-acak makanan mu seperti itu?" tegur nyonya Victoria yang sekarang menjadi ibu mertua ku itu.
"Aku tidak berselera Bu." ucap Blevin dengan wajah marahnya, aku tau dia marah pada ku.
__ADS_1
"Audrey, ku harap kalian bisa secepatnya membuatkan ku cucu, aku juga ingin seperti rekan ku yang lain menimang cucu dengan bahagia." itu tuan Diego, ayah mertua ku, aku hanya tersenyum, tapi buka Audrey namanya jika tidak ingin membuat Blevin marah.
"Ayah, untuk urusan itu, coba tanyakan pada Blevin, apakah dia sudah siap untuk menjadi seorang ibu?" ujar ku mengalihkan jawaban pada Blevin, aku hanya ingin tau apakah gadis ini masih berani bermain.
"Kenapa harus bertanya pada ku? Tanyakan itu pada dirimu Tuan Audrey yang terhormat, jika semalam saja kau kalah bagaimana bisa membuat cucu untuk ayah ku?"
Ah... ya... tepat sekali, aku semakin senang memainkan peran ini Blevin, terimakasih atas otak bodoh dan kata ambigu mu itu Blevin.
Kata kalah yang Blevin maksud mungkin bukan kalah seperti apa yang di artikan para tertua, tapi, kalah karena sikap ku yang memilih pergi dan berhenti berdebat dengannya, dan itu membuat ku semakin ingin menggodanya.
"Ya, ku akui, aku memang kalah, tapi... bisakah kita mengulangnya lagi nanti, semoga saja target cucu ayah cepat terlaksana." Binar bahagia dari wajah ayah yang tidak mengerti maksud ku semakin kentara.
"Sudah Blevin, masalah kamar mu, jangan di bicarakan di meja makan." ujar ibu mertua ku yang memarahi anaknya itu.
"Dan sepertinya aku akan menyiapkan sesuatu untuk mu Audrey, aku tidak mau kau kalah dengan permainan putri ku." ucap tuan Diego pada ku, aku mendesah saat ini, bahkan tuan Diego tidak tau apa yang sedang kami bicarakan.
Setelah sarapan, tuan Diego dan nyonya Victoria mengajak ku dan Blevin untuk berlibur di villa, pekerjaan ku harus ku relakan di pegang oleh Dio terlebih dahulu, sampai acara yang katanya bulan madu ini berakhir.
__ADS_1
"Audrey!" teriak Blevin pada ku saat kami berada di dalam mobil.
"Apa? bisakah tidak berteriak pada ku nona? oh... salah kau nyonya sekarang, lebih tepatnya, bicaralah dengan lembut nyonya Januardy." ledek ku dengan nada di buat-buat profesional.
"Diam! kenapa kau senang sekali menggoda ku, lalu apa keuntungan mu dengan menuruti semua kemauan ayah dan ibu, lalu mengapa kau tega menyuruh ibu dan ayah mu pulang tadi pagi, kau tidak ingin mengajak mereka berlibur?" Blevin kembali pada mode emosinya.
"Kau perduli pada orang tua ku?" tanya ku di sertai seringai.
"Tentu, bibi sangat baik pada ku, dia menolong ku dari hukuman yang di berikan ayah dan ibu ku seminggu lalu." ucap Blevin sedikit lebih tenang.
"Ucapkan saja terimakasih pada ibu ku, dan tentang mengapa aku senang sekali menggoda mu karena, Penggoda adalah nama akhir ku, sama seperti apa yang kau julukan pada ku saat menjual ku pada teman mu bukan?"
Sukses, Blevin diam tak berkutik sekarang, dia kalah, dia menjual ku memang, sampai aku terkadang membayangkan bagaimana jika para wanita itu benar benar memperkosa ku saat itu.
Sebenarnya bukan hanya wanita yang disuguhkan pada ku, bahkan seorang pria yang memiliki fantasi **** berbeda juga pernah di suguhkan olehnya, dan itu membuat ku sedikit ngeri untung saja, orang itu menyadari jika aku adalah pria normal dan tidak mau melakukannya ditambah dengan seorang pelayan yang datang, jadi aku bisa kabur dari hotel itu.
Aku melaporkan semua tindakan Blevin yang sudah keterlaluan, bahkan beberapa bulan sebelumnya aku mengetahui jika dia datang ke asrama ku dan membuka ponsel ku, sebenarnya apa maunya anak ini? apakah Blevin mencoba mencari tau aku seorang homo atau normal, jelas normal!
__ADS_1
Percayalah aku normal, karena sebenarnya aku tertarik dengan Blevin, meskipun bukan hasrat tapi, ya... sudahlah hati ku menyatakan tidak bisa meninggalkan Blevin, seperti banyak tugas yang harus ku selesaikan untuk memperbaiki dirinya.