Straight Devil

Straight Devil
Tidak Enak Badan


__ADS_3

Aku datang menemui ibu ku dan nyonya Hana, iya dia ibu mertua ku yang berbaik hati, pertama kali aku mengenalnya saat aku di hukum oleh ayah, saat itu aku membuat ulah dengan membuat pesta di salah satu club' malam, padahal baru reservasi belum terjadi, namun tidak ada toleransi lagi.


Saat itu ayah menyuruh ku untuk ke pasar, membeli seluruh perlengkapan dapur, dan aku? aku mana bisa masuk ke tempat seperti itu, aku nyaris muntah saat masuk dan nyonya Hana yang melihat ku tersenyum dengan teduhnya.


"Kau kenapa nak?" tanya ibu oriental itu.


"Aku di hukum oleh ayah ku dan di suruh berbelanja semua ini ke dalam, tapi aku tidak bisa masuk ke dalam, disini saja aku sudah muntah seperti ini." ucap ku dengan rengekan seperti anak kecil memandangi lipatan kertas di tangan ku.


"Sini, saya belikan semuanya untuk mu, kau tunggu saja, mana catatannya dan uangnya?" tanya nyonya Hana, aku memberikan catatannya dan uang yang di berikan oleh ayah.


Beberapa menit kemudian nyonya Hana datang bersama kuli panggul yang membawa belanjaan ku.


"Nyonya... terimakasih banyak, kau adalah dewa penolong ku, aku tidak tau jika kau tidak ada apa yang akan terjadi pada ku." nyonya Hana hanya tersenyum dan berlalu tanpa memperkenalkan dirinya, dan kami kembali bertemu saat aku dan temanku berada di cafe.


Nyonya Hana kehilangan dompet dan tidak bisa membayar pesanan kuenya, aku dengan senang hati membayarkan kue itu untuk nya.


Pertemuan ketiga ku ya... saat pagi setelah pernikahan menyeramkan itu.


"Ibu, kau sehat?" ucap ku pada nyonya Hana, lalu beralih kepada ibu kandung ku.

__ADS_1


"Tentu, lalu kau sendiri bagaimana?" tanyanya, ibu ku masih diam di tempat saat aku mencium tangan dan pipinya tadi.


"Sedikit kurang enak badan, mangkanya aku mengenakan baju seperti ini." jawab ku bohong, padahal ini hanya untuk menutupi perbuatan anaknya yang akan membuat ku malu.


"Apakah kau kurang istirahat sayang." tanya nyonya Hana.


"Mendengar keluhan mu kemarin ibu sedikit khawatir dengan kesehatan mu." masih nyonya Hana yang bicara, ibu ku, dia malah sangat bersyukur jika Audrey menyiksa ku.


"Nyonya Tajima, Audrey memiliki alasan tersendiri melakukan itu padanya." nah... itu ibu ku.


"Tapi nyonya, saya rasa memang Audrey sudah keterlaluan, dia memilih untuk menempati apartemen dibandingkan rumah yang dia miliki, lalu dia juga meniadakan ART disana, Blevin bukan putri dari keluarga biasa nyonya." ujar ibu mertua ku itu.


"Nyonya Hana, Blevin adalah seorang istri sekarang, keluarga kami bukanlah keluarganya lagi, dia sekarang memiliki keluarga sendri, meski belum lengkap, ku rasa Audrey ada benarnya, Blevin tidak bisa terus bergantung pada orang lain." ibu kandung ku mulai membela Audrey lagi.


"Blevin, usia mu sudah 23 tahun, tidak kah kau mau sedikit berubah?" lagi ibu mulai membentak ku.


"Terserah ibu, aku akan tetap pada pendirian ku, lagi pula Audrey juga selalu memperlakukan ku dengan buruk." ujar ku asal.


"Apa? biar nanti ibu yang memarahi anak itu, apakah dia lupa akan perkataan ku, dia tidak boleh semena mena dengan istrinya!" dan Perang akan di mulai sekarang Audrey.

__ADS_1


Aku menghabiskan waktu di rumah ibu Hana, makan siang telah disiapkan olehnya, aku sedikit membantu dan ternyata dia juga mengundang Audrey untuk datang.


"Duduk!" ibu Hana akan mengibarkan bendera perang sekarang.


"Sejak kapan kau memperlakukan istri mu dengan buruk!"tanyanya pada anak laki-laki kesayangannya itu.


"apa maksud ibu?" dan aku mulai tersenyum dan menampakan wajah lelah.


"Istri mu sedang sakit, bahkan kau tidak tau? Blevin sedang tidak enak badan, lalu kau masih menyuruhnya untuk menyiapkan kebutuhan mu dan mengurus apartemen mu?" ibu mertua ku adalah yang terbaik.


"Maksud ibu? Blevin adalah istri yang baik, bahkan dia tidak menghiraukan sakitnya, sayang mengapa kau tidak bilang pada ku, jika aku tau kau sakit, aku tidak akan menyuruh mu melakukan aktivitas apapun, kau juga harusnya beristirahat di rumah kenapa sekarang kau ada disini?" mampus sudah kau Blevin, pria yang satu ini memang akan selalu pintar dalam bersandiwara.


"Aku menelpon mu berkali kali tapi kau tidak menjawab, dan aku juga kesepian di rumah, aku hanya mau menjadi istri yang baik untuk mu dengan tidak membuat mu khawatir." ujar ku memulai jalan permainan Audrey.


"Dan ibu, sepertinya aku akan membawa pulang menantu mu ini, aku pergi sekarang." dan tanpa peringatan terlebih dahulu dia menggendong ku sampai ke mobil.


"Tidak enak badan kan?"


Aku hanya diam...

__ADS_1


"Istirahat di rumah akan jauh lebih baik, dan aku akan mengajari mu menjadi ibu rumah tangga yang baik mulai sekarang, kau mau menjadi istri yang baik kan tadi." ujarnya dengan mata dan wajah iblisnya itu.


Sekali lagi aku kalah dengannya....


__ADS_2