
Perasaan ku pada Blevin semakin hari semakin tidak bisa di prediksi, sejak kemarin malam aku sengaja tidak menegur, tidak kontak fisik dengannya bahkan seperti sekarang, kami makan bersama tapi mata ku tertuju pada denah pembangunan rumah yang akan kami bangun.
"Drey, bukankah hari ini harusnya Aris sama gue yang ke lokasi ya? kenapa jadi Lo sendiri yang datang menemui tuan Saga?" tanya Dio, aku sengaja mengalihkan tugas Aris pada ku, agar aku sedikit menjaga jarak dengan Blevin, aku masih belum bisa terima, jika Blevin masih sangat mencintai Zain, padahal dia sudah melihat sebagian kelicikan Zain.
"Gue mau memastikan kalau hasil akhirnya sama seperti apa yang gue gambar, lagi pula ini rumah impian tuan Saga." begitu jelas ku.
Aku meminum air mineral, kemudian berdiri dan menatap Blevin.
"Hari ini kau bisa pergi, aku akan pulang larut, jaga dirimu baik baik." ucap ku pada Blevin, lalu mobil tuan Saga datang untuk menjemput ku.
Di lokasi rumah baru tuan Saga aku benar benar meneliti setiap detail yang ada, baik itu dari marmer, atap sampai ke ukiran kayu yang menjelma menjadi tangga indah menuju lantai dua, aku memperhatikan setiap sudutnya dengan baik.
Selain memantau, aku juga mengerjakan semua rancangan proyek ku mengunakan tablet, kembali aku terngiang bagaimana dengan kondisi Blevin, ah... sudah aku lebih baik bekerja , aku akan melupakan Blevin.
Dilain tempat.
Restoran.....
Rasanya sakit sangat sakit.... Dua kali sudah aku melihat Zain bersama wanita lain, kenapa aku belum juga bisa menerima semuanya.
"Kau mempermainkan aku seperti ini Zain?" tanya ku pada Zain, saat ini manusia itu berada di hadapan ku bersama seorang wanita yang malam itu bersamanya.
"Aku tidak pernah mempermainkan siapapun! Kau sudah menikah, dan aku tidak mungkin mencoreng nama baik ku sendiri dengan menjadi kekasih gelap mu Blevin!"
"Aku mencintai mu Zain! dimana janji mu kemarin, kau bilang tidak akan pernah meninggalkan aku! kau bilang hanya ada kita berdua! tapi kau hancurkan semuanya hanya dalam waktu dua bulan Zain, Dua bulan!"
__ADS_1
Aku menangis, tapi aku segera sadar bahwa menangis dihadapan mereka berdua tidak ada gunanya, menyadarkan Zain, dan mengatakan aku masih mencintainya hanya akan menjadikan Zain besar kepala.
"Ini yang kau mau Zain? kau mau bersama perempuan ini? baiklah aku akan pergi, tapi jika suatu saat kau kembali, jangan pernah berharap aku akan menerima mu, bahkan aku berjanji akan menghancurkan karir mu dalam waktu singkat!"
Aku berjalan tanpa perduli dengan Zain yang berteriak mengejar ku, aku menyetop taksi dan menghubungi Audrey.
"Cepat kirimkan lokasi mu sekarang Audrey!"
Audrey mengirimkan pesan tentang lokasinya, aku segera mendatangi lokasi itu dan disana aku melihat Audrey sedang duduk di sebuah meja taman.
"Audrey..." Aku berlari dan memeluk Audrey, aku menumpahkan semua rasa sesak ku.
"Aku mau kembali ke Indonesia sekarang, aku tidak ingin berada di tempat ini."
"Baiklah, apapun yang kau mau, malam ini kita akan pulang." Tangis ku kembali tumpah saat perjalanan menuju hotel
Audrey dan Blevin kini telah sampai di kamar hotel yang mereka pesan.
"Dio, sampaikan pada Aris, malam ini juga gue sama Blevin pulang ke Indonesia, kalian berdua gue tugaskan di sini selama dua Minggu, kantor di Jakarta biar gue yang handel."
"Ada apa Drey?"
"Gue gak bisa jelasin." Audrey memutus sambungan teleponnya, kemudian dia dan Blevin menuju bandara mengambil penerbangan malam ini juga, untung saja mereka mendapatkan tiket itu dengan mudah, karena tuan Diego memiliki seorang teman yang bekerja di maskapai penerbangan itu.
Di dalam pesawat Blevin hanya terdiam, tidak ada kata atau sikap yang membuat Audrey membalas perlakuan apapun dari Blevin.
__ADS_1
"Orang seperti dia ternyata bisa separah ini jika sedang patah hati, bersyukurlah karena aku belum pernah patah hati, jika iya mungkin Blevin orang pertama yang akan membuat luka di hati ku." ucap Audrey didalam lubuk hatinya.
18 jam berlalu, supir pribadi tuan Diego sudah berada di lobby bandara, Blevin dan Audrey segera memasuki mobil itu dan pergi, Audrey memilih untuk segera menuju apartemen sementara Blevin masih terlihat sangat menyedihkan.
Setelah selesai mandi Audrey berlutut di hadapan Blevin, Audrey menyentuh wajah Blevin dengan telunjuknya.
"Masih hidup?" tanya Audrey dengan nada mengejek, mata Blevin menatap tajam Audrey.
"Aku bukan orang bodoh yang rela mati demi cinta!" ucap Blevin pelan tapi penuh penegasan.
"Lantas kenapa sekarang kau seperti mayat hidup, tidak mau makan, mandi ataupun melakukan hal lain selain meratapi kebodohan mu." Audrey kembali memulai percikan diantara mereka.
"Aku bukan meratapi kebodohan, aku hanya bingung, mengapa tega sekali Zain melakukan ini."
Audrey membingkai wajah Blevin dengan kedua tangannya.
"Entah kau percaya atau tidak, Zain juga ikut terlibat dalam pesta narkoba yang menimpa mu saat itu, dan dia ingin membuat mu hancur dengan mencicipi tubuh mu Blevin." Blevin terbelalak kaget, perasaan antara marah dan tidak percaya membuatnya menatap Audrey dengan sangat intens.
"Kau tau dan kau tidak pernah mengatakan itu pada ku Drey!"
"Aku hanya mau kau menemukan kenyataan dari mata mu sendiri bukan dari orang lain, kau pikir aku bisa dengan mudahnya meyakinkan seorang yang tengah di mabuk asmara seperti mu dengan mudah!" Audrey menatap mata Blevin dengan tajam sekarang.
"Sekarang semua ada di depan mata mu Blevin, lihatlah dan rasakan, kau tidak boleh terpuruk terlalu dalam." Audrey berdiri dan melangkah pergi dari hadapan Blevin.
Blevin merasakan kekosongan dalam dirinya, bahkan rasa sesak yang tadi hampir hilang kini mulai terasa kembali.
__ADS_1