Straight Devil

Straight Devil
Permainan Menjebak


__ADS_3

Mereka saling terlelap dalam tidurnya, Audrey setelah makan malam dan saling jujur tentang apa yang sebenarnya mereka alami selama ini, memilih untuk mengerjakan rangkaian desain proyeknya yang sempat tertunda beberapa jam tadi, setelah selesai dan mengirimnya via email, Audrey menyelimuti Blevin dan tidur disampingnya.


Pagi ini Blevin terbangun dari tidurnya lebih dahulu dibandingkan Audrey yang baru terlelap dua jam lalu, Blevin tau Audrey lelah dia membiarkan Audrey terlelap lebih lama, Blevin mandi dan memesan sarapan kepada pihak resort.


Blevin sarapan dengan secangkir teh hangat dan roti lapis, sementara itu dia memesan salad, jus dan buah segar untuk Audrey, karena dia sebenarnya tidak paham makanan apa yang disukai Audrey.


Seorang pelayan resort mengantarkan tamu untuk Blevin dan Audrey.


"Mrs. Blevin, they wanted to see you, so I brought them here." (nyonya Blevin mereka mencari anda jadi saya membawa mereka kesini.) ujar seorang pelayan yang mengantarkan tamu Blevin tadi.


"Thank you." ujar Blevin.


"Silahkan duduk." Blevin bersikap sopan kepada dua tamu yang diundang Audrey kemarin, mereka adalah Alexandra dan Zain.


Mereka berdua duduk sementara Blevin memanggil layanan kamar untuk mengantarkan makanan ringan dan juga minuman.


"Dimana suami mu nyonya Blevin?" tanya Alexandra yang sepertinya cukup menyukai Audrey.


"Tidak usah terlalu formal, panggil Blevin saja, aku jauh lebih muda dari mu Sandra, Audrey masih tertidur, dia baru tidur pukul empat tadi." ujar Blevin, kemudian pelayan datang dan membawakan pesanan Blevin tadi, tidak lupa Blevin memberikan tips kepada pelayan tadi.


Blevin sibuk menata piring piring berisi makanan dan gelas dengan minuman, dia juga sedang memindahkan sarapan Audrey untuk di letakan di meja lainnya, namun Audrey datang dengan penampilan bangun tidurnya, dia masih terlihat kusut rambut acak-acakan piyama yang sedikit terbuka kancingnya, bahkan dia belum gosok gigi ataupun cuci muka.


Audrey sadar akan kehadiran tamunya itu, tapi dia seakan tidak sadar, dan reflek mencium pipi Blevin dan memeluknya, layaknya anak kecil yang mencari ibunya sehabis bangun tidur.


"Morning Mrs Audrey." ucap Audrey, dia melakukannya seperti sudah kebiasaan dalam harinya.


"Morning the King Devil." ucap Blevin mengejek, tapi bukannya marah Audrey malah mengambil jus dan meminumnya sambil memuji Blevin, bahkan mengeratkan pelukan dan mempertontonkan kemesraan, Blevin sumpah mati akan memukulnya nanti.


"Benar-benar Audrey sudah memanfaatkan situasi dengan baik." ucap Blevin dalam hati lalu dia mulai memperingati Audrey bahwa sekarang mereka punya tamu.


"Audrey, kita kedatangan tamu." ujar Blevin dengan nada mesra yang dibuat buat.

__ADS_1


"Oh ya???" Audrey membalik badannya dan berpura pura terkejut.


"Oh... nona Alexandra dan tuan Zain? maaf tapi beginilah kami, aku baru saja bangun dan tidak sadar ada kalian disini, nikmati saja dulu minumannya aku akan mandi." sapa Audrey.


Audrey naik kelantai atas yang merupakan kamar mereka, dan ingat kamar mandi juga berada di atas, ruangan bawah hanya untuk sofa, tv dapur dan kolam renang untuk bersantai, sementara di lantai atas, sebuah ranjang tanpa pintu, dan juga kamar mandi yang terbuat dari kaca transparan, semuanya di dominasi oleh peralatan kayu.


Blevin menjamu mereka berdua dengan baik, bahkan sepertinya Blevin sangat senang kedatangan tamunya itu, tapi kita tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dalam hatinya.


Alexandra sepertinya benar benar tertarik pada Audrey, dia benar-benar terpikat oleh tuan kaca mata yang menawan itu.


"Sepertinya aku tertarik dengan Audrey, dia terlihat tampan dengan kacamatanya, tapi tadi dia jauh lebih keren dan tampan Tampa kacamata dan tubuh proporsionalnya." ucap Alexandra dalam hati.


Audrey kembali sambil memegang botol air mineral, Audrey sedikit memakan salad yang disajikan Blevin tadi, mereka sarapan bersama.


"Rasanya tidak seru jika sudah datang tapi kita tidak bermain, bagaimana jika kita menulis sesuatu sebanyak 2 hal, kemudian kita meletakkannya didalam sebuah wadah, setelah itu tanpa saling tau seseorang harus menjawab hal tersebut." usul Audrey.


"Ide bagus." ucap Zain, yang sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang akan menyakiti Blevin.


Mereka sudah siap bermain, orang pertama yang mengambil gulungan kertas itu adalah Alexandra.


"ya... begitulah permainannya, nona." jawab Audrey.


"Tanggal 13 Januari tahun lalu, di sebuah club'." jawabnya singkat. Blevin sedikit sadar sekarang bahwa jauh sebelum dirinya dan Audrey bertemu, dan saat itu Blevin masih menjadi pacar Zain.


Kertas kedua diambil oleh Audrey.


"Di tuliskan, Kapan pertama kalinya kau jatuh cinta?"


"Kapan tuan Audrey?" tanya Zain.


"Mudah saja, pertama kalinya aku jatuh cinta adalah saat ini, saat aku bertemu dengan wanita luar biasa di samping ku kini." Audrey mengecup kening Blevin, itu membuat Zain panas sepertinya, dan Alexandra terlihat membuang muka.

__ADS_1


Kertas ke tiga diambil oleh Blevin.


"Disini di tuliskan, siapa orang pertama yang mengambil ciuman pertama mu?"


"Ayo Blevin, siapa yang pertama untuk mu?" tanya Alexandra penasaran, Alexandra tau bahwa Zain adalah mantan dari Blevin, dia akan menghancurkan Audrey sekarang.


Blevin tersenyum, dan menatap Audrey.


"Hanya seorang yang berstatus suami pertama ku yang mendapat bibir ku pertama kali." ujar Blevin tenang.


"apa? aku yang pertama nyonya? lalu bagaimana dengan mantan pacar mu nyonya? jangan bilang.."


"Ya... the King Devil, kau adalah yang pertama, dan bagi ku tubuh ku itu sangat berharga, seorang pria tanpa status yang tepat tidak boleh memilikinya." jelas Blevin.


Kertas keempat di dapat oleh Zain.


"Ditulis, apa rasanya berselingkuh?"


"Em... tuan Zain? kau tidak mungkin menjawabkan? tidak mungkin pria seperti mu berselingkuh, itu akan menjadi incaran wartawan." ucap Audrey menyindir, sukses suda Zain semakin emosi.


"Kita pergi sekarang!" ucapnya menarik tangan Alexandra.


"Maaf tuan Zain jika aku menyinggung mu, aku tidak bermaksud, tapi jika kau tetap ingin pergi, tidak masalah, mungkin kau ingin menenangkan diri." ucap Audrey sarkas.


Tanpa pamit mereka berdua pergi menjauh dari pandangan Audrey dan Blevin.


"Aaa.... aku tau siapa yang membuat pertanyaan itu!" ujar Blevin, dia senang sekali bisa membuat Zain marah.


"Aku memang selalu bisa diandalkan kan nyonya?" ucap Audrey sambil tertawa riang menimpali Blevin.


"Aku juga tau siapa yang membuat pertanyaan yang dijawab oleh Alexandra." ucap Audrey.

__ADS_1


"Kau tau alasannya kan Audrey, aku hanya ingin tau berapa lama keduanya membodohi ku, tenyata cukup lama, 10 bulan lalu, bahkan saat aku masih percaya sekali padanya."


Blevin menyingkirkan air matanya dan melanjutkan aktivitas makannya.


__ADS_2