
"Blevin." seru Audrey pada Blevin yang sedang asyik dengan ponselnya.
"Apa?" jawabnya singkat.
"ini hari terakhir kita disini, kau tidak mau jalan jalan atau berfoto bersama ku?" tanya Audrey, memang waktu seminggu terasa cepat, setelah kejadian tempo hari bersama Zain dan Alexandra, Blevin memilih untuk membantu Audrey mengedit beberapa dokumen perencanaan, dan menghabiskan waktu di resort.
"Memangnya pekerjaan mu sudah selesai?"
"Sudah, ayo jalan jalan." Blevin nampak malas dengan ajakan Audrey.
"Aku malas." ucap Blevin yang bergelung di tempat tidur.
"Mereka berdua sudah pulang dari sini, kau masih cemas akan cemburu?" ujar Audrey.
"Tidak."
"Kalau begitu berfotolah dengan ku sebagai bukti bahwa kita sudah saling berbaikan!" tukas Audrey, tapi Blevin malah menatapnya tajam.
"Di rumah aku akan selalu bertemu dengan mu, apakah kau akan lupa dengan wajah ku? Lagi pula foto hanya sebagai dokumentasi yang bisa hilang, lain kali kita bisa datang lagi kesini, kenapa juga harus di abadikan!" kesal Blevin, akhirnya Audrey hanya memotret Blevin yang tertidur dengan selimut menutup tubuhnya sampai keatas.
Audrey duduk tepat di sebelah Blevin dan memotret kebersamaan mereka berdua, dengan gaya, kepala Audrey berada di ujung kaki Blevin sementara blevin ada di ujung kaki Audrey, namun wajah Audrey tidak terlihat.
"Lalu, apakah benar, ciuman pertama mu aku yang mendapatkannya?" tanya Audrey pada istrinya itu.
"Tentu tidak." Audrey bangun dan menatap Blevin dengan intens.
"Lalu siapa? kau berbohong?" tanya Audrey lagi.
__ADS_1
"Yang pertama adalah Zain, tapi saat itu aku melakukannya hanya untuk membuatnya percaya dan tetap bersama ku, tapi hanya singkat, kemudian kau, dan aku...."
"Kau melakukannya terpaksa kan? karena aku tiba-tiba mencium mu?" ujar Audrey.
"Yang dimaksud adalah ciuman pertama Audrey, itu kau yang mencium ku, bukan aku yang mencium mu untuk pertama kali!"
"Lalu, sudah dipastikan kau mencium Zain untuk yang pertama kan?" final Audrey.
"Tapi dengan paksaan, dan ku harap kau ingat kali pertama aku sendiri yang mencium mu dengan tanpa terpaksa." ujar Blevin lalu pergi dan tidak menanggapi Audrey lagi.
Aku tersenyum saat aku mengingat kali pertama Blevin mencium ku, saat mabuk di Manchester, meskipun yang disebut Zain, tapi dia mencium ku tanpa dipaksa.
Aku datang menghampiri Blevin dan memeluknya dari belakang, dia tidak bisa bergerak, jika sedikit saja dia meronta, dia kan jatuh kedalam kolam renang sekarang.
"Apakah itu malam dimana kau mabuk saat kita berada di Manchester?" tanyaku, aku tidak bisa melihat raut wajah Blevin seperti apa saat ini.
"Tapi kau menyebutkan Zain saat itu? kau mabuk kan?"
"Dan saat itu, aku hampir saja melucuti semua pakaian mu, dan besoknya aku berusaha menjauh darimu."
"Audrey, saat itu aku percaya bahwa kau tidak akan bernafsu dan buktinya kau tidak menyentuh ku lebih jauh, dan itu pula yang membuat ku semakin percaya bahwa kau kaum presto."
"Tapi kau percaya saat malam teh tumpah itu terjadi kan?"
"Teh tumpah?" Blevin bingung dengan perumpamaan ku.
"Ya... saat aku mengambil sesuatu yang berharga bagimu, dan kenapa kau tidak bisa menolak, dan kelihatannya kau malah menikmati?"
__ADS_1
"Audrey! lepas!" teriak Blevin saat aku sedikit mengendus lehernya.
"Apa yang salah dari hubungan ini Blevin? aku sudah menikahi mu, kau wanita yang aku cintai dan kita sudah pernah saling menginginkan?"
"Audrey kesalahannya ada padaku, aku tidak bisa menaruh seseorang didalam hati yang masih ada luka di dalamnya, mengertilah Audrey." ucap Blevin, aku mengerti dan melepaskan Blevin, dan sepertinya aku harus ke kamar mandi saat ini, aku belum pernah bermain solo, tapi semenjak melakukannya dengan Blevin aku semakin sering melakukannya sendiri.
Setelah mandi dan selesai dari aktivitas jahanam tadi aku melihat Blevin yang sudah tidur nyenyak dengan gulungan selimut, kami sudah berkemas tadi siang, aku juga tidak membawa oleh-oleh yang para ibu pesan, hanya barang² kami dan beberapa sofenier.
Pagi pagi sekali Blevin sudah rapih dengan kemeja hitam, celana bahan 3/4 nya yang berwarna cream, ikat rambut dan topi golf.
Sementara diriku, T-shirt putih celana training biru, Jersey dan juga tas punggung.
Blevin mengeluarkan ponselnya sesaat kami sampai di bandara, "Audrey, mana paspor mu?"
"untuk apa?" tanya ku, "Pegang seperti aku memegangnya." Aku menurut dan tiba tiba
"Click... Click..." kamera ponselnya membidik wajah datar ku dan Blevin yang bersemangat.
"Ayo masuk kita akan tertinggal nanti." ucapnya mengalihkan protes ku, kami berlari menuju pesawat yang hampir saja kami akan ditinggal.
"Jika ingin foto bersama jangan lakukan hal seperti tadi, tidak baik."
"Tidak baik? lalu bagaimana dengan kau yang memotret seorang wanita yang sedang dalam keadaan tidak pantas di foto?"
"Kau imut saat tertidur."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Seperti beruang kutub."
Blevin sukses marah lagi pada ku, dia tidur selama berada di pesawat, 17 jam hanya bangun ketika ingin makan dan buang air kecil.