
"Oh My God?" Davi berteriak dengan histeris.
"Davi, ini bukan seperti apa yang kau kira." ujar ku, tanpa tau apa yang Davi pikir.
Wajah Audrey juga sama kagetnya, gawat Audrey pasti akan marah pada ku.
"Blevin, supir mu setia sekali, bukannya setelah kejadian waktu itu dia mengundurkan diri menjadi supir mu? sekarang kau mempekerjakannya?"
"Emmm... Davi." ucap ku gugup, Audrey sudah menatap ku kesal, aku tau Audrey sangat tidak suka dengan Davi, saat dulu Davi pernah mengejar Audrey bahkan hampir mencium Audrey.
"Urus teman mu! seperti kesepakatan tadi siang!" ucapan Audrey sudah menandakan kemarahannya.
"Audrey!" panggil ku, tapi Audrey tidak mau mendengar dia malah pergi kelantai atas.
"Davi, ikut aku." ucap ku sambil berjalan menuju kamar yang akan di tempati olehnya.
"Kau perlu jelaskan semuanya pada ku nona." tentang Davi pada ku.
"Baiklah, aku akan ceritakan semuanya tanpa terkecuali, tapi setelah kau tau semuanya jangan mencampuri urusan ku!" tegas ku, karena aku tau bagaimana Davi.
Dia mengangguk, dan aku mulai bercerita.
Kami duduk di tepi ranjang bersama.
"Jadi dia bukan lagi supir pribadi mu? melainkan suami sah mu?"
"Ya... aku sudah menikah dengannya." ujar ku.
"Kau bahagia?"
"Davi, sedari awal aku dewasa kebahagian bukanlah milik ku lagi, aku tidak masalah tidak bahagia asalkan aku tidak tersiksa, biarkan saja hidup ku datar."
"Lalu bagaimana dengan pacar mu saat di Amerika waktu itu, siapa namanya? aku lupa."
"Zain?" Davi mengangguk.
"Dia tidak pernah mencintai ku, dia menjalin hubungan dengan seorang model dibelakang ku, bahkan saat kami masih berada di Amerika."
"Brengsek sekali pria itu."
"Sudahlah, aku sudah membuangnya jauh dari hidup ku, sekarang aku hanya memikirkan bagaimana cara agar aku bisa bertahan dengan pria menyebalkan itu."
"Kau selalu ingin bertahan Blevin, jika kau bosan bertahan mungkin menyingkir jauh lebih baik."
Aku memeluk Davi seraya mengurangi rasa sesak yang kembali singgah di dalam otak ku.
__ADS_1
Kemudian pintu kamar di ketuk.
"Nyonya, tuan!" Nina berteriak memanggil ku.
Aku membuka pintu dan melihat wajah paniknya.
"Ada apa Nina?"
"Tuan nyonya."
"Ada apa dengan Audrey?"
"Tuan muntah di dapur!"
"Kamu tenang, saya ke dapur sekarang."
Aku dan Nina melangkah menuju dapur, benar saja aku melihat Audrey yang masih mengeluarkan suara khas orang muntah, dan wajah yang menghadap ke wastafel.
"Nina ambilkan air lemon hangat."
Aku mengikat rambut ku, dan melihat wajah Audrey, aku juga memijat lembut tengkuk dan punggungnya.
"Masih mual?" tanya ku, dia hanya mengangguk.
"Kau sedang apa disini, ini sudah malam harusnya kau tidur." aku menasehati dirinya dengan lembut, wajahnya sudah pucat dan badannya juga lemas.
"Sinta apakah kita punya minyak angin?" tanya ku.
"Ada nyonya biar saya ambilkan."
Kemudian Sinta datang membawa minyak angin, Nina juga datang membawa air lemon yang ku pesan tadi.
"Ini nyonya."
"Audrey, buka baju mu, aku akan mengoleskan ini keseluruhan badan mu." ujar ku.
Nina dan Sinta sudah pergi, aku menyuruh Audrey untuk meminum air lemon.
"Mangkanya jika sudah waktunya makan, makanlah, jangan seperti orang yang membenci makanan." ujar ku ketus.
"Bagaimana bisa aku makan, aku mual saat mencium aroma makanan, kau mengoleskan apa pada badan ku?" tanyanya.
"Minyak angin, kata ibu mertua ku jika aku mengalami mual atau muntah oleskan saja minyak angin." jujur ku.
"Kau sudah memberi tau ibu?"
__ADS_1
"Belum, waktu ibu memberi tahu ku, saat itu aku sedang tidak enak badan, jadi ibu menyarankan itu."
Audrey menarik nafas dan sepertinya dia menikmati pijatan ku.
"Kita lanjut di kamar saja." ucapnya saat melihat Davi keluar dari kamarnya.
"Kau duluan saja." ucap ku.
"Davi, kau istirahat saja, ceritanya kita lanjutkan besok, Audrey sedang sakit, maaf ya..."
"Santai saja." ucap Davi singkat.
Aku kembali memijat punggung Audrey, dia masih saja mual dan muntah kembali saat masuk kedalam kamar.
"Blevin, aku boleh pinjam parfum mu?"
"Untuk apa?"
"Semprotkan parfum mu ke seluruh ruangan ini sekarang, aku mual sekali mencium aroma kamar ini!" Ucapnya dengan pelan seraya menyeimbangkan badan saat berlalu dari kamar mandi.
Aku mengambil parfum dan menyemprotkan ke seluruh penjuru ruangan.
Namun lagi aromanya tidak sesuai dengan keinginannya.
"Audrey sudahlah jangan muntah lagi kasihan perut mu aku jadi ikut mual."
"Mengapa baunya berbeda dengan yang tadi pagi kau pakai?"
"Aku juga tidak tau."
"Kita pindah kamar, malam ini tidur di kamar mu saja." Ujarnya sambil berjalan menuju kamar ku.
"Mau kemana?" tanyanya lagi.
"Mengganti pakaian, kau mau ikut?" tanya ku sarkas.
"Tidak."
Setelah mengganti pakaian aku menghampiri dirinya yang masih terlihat lemas.
"Audrey tidurlah, kau butuh istirahat, apapun yang kau inginkan untuk membantu tidur mu katakan saja." tawar ku.
Dia tiba-tiba memeluk ku saat aku menarik selimut.
"Matikan lampunya, aku mau mengelus perut mu, aroma parfumnya lebih enak saat berada di tubuh mu."
__ADS_1
"Audrey aku tidak menggunakan parfum!"
Saat aku berbicara matanya sudah terpejam sambil mengelus perut rata ku yang mengandung benihnya.