
Ketika jam makan siang datang Sinta memanggil ku yang sedang memainkan biola ku di balkon lantai atas.
"Nyonya makan siang sudah siap."
"Ya... aku akan turun." jawab ku lembut.
Aku segera bangkit dari duduk ku, kemudian membereskan biola ku, membawanya kembali kedalam lemari di kamar ku, bersama koper koper milik ku.
Audrey menatap ku lekat di meja makan, aku hanya diam, pokoknya aku tidak akan menegurku jika dia tidak minta maaf atas kejadian kemarin.
"Makanlah yang banyak anak ku juga butuh nutrisi." ujarnya ketus.
"Jangan sebut dia anak mu, dia hanya milikku seorang!" ujar ku tak kalah ketus.
"Maaf!" Aku diam menatapnya penuh dengan rasa jengkel.
"Untuk apa?" tanya ku.
"Sudah membentak mu kemarin, aku tau tak seharusnya aku begitu, tapi kau juga perlu tau, aku butuh privasi."
"Privasi?"
"Ya... rasa cinta ku pada mu, aku anggap itu privasi untuk ku, kau tidak boleh tau sedalam apa aku mencintaimu."
"Alasannya?" tanya ku.
"Alasannya, supaya kau tidak tau kelemahan ku, aku bukan tipe orang yang bisa di setir!"
Malas dengan ucapannya aku memasukan makanan kedalam mulut ku, entah rasanya nafsu makan ku bertambah saat ini.
"Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu pada mu, anak dari pak Ali untuk sementara waktu akan tinggal di bangunan belakang, terserah pada mu mau mengizinkan atau tidak."
"Kenapa masih meminta izin jika semua pelayan di rumah ini kau berhentikan dengan seenaknya!"
"Audrey bisakah bersikap baik pada ku sebentar saja, jangan selalu menyulut api dalam setiap pembicaraan kita." ucap ku sensitif.
"Aku pernah sekali berkata lembut pada mu, bahkan selalu berusaha ku lakukan tapi kali ini menggoda mu lebih menyenangkan." ujarnya mengejek.
Perdebatan ku dengan Audrey berhenti saat ponsel ku bergetar menandakan panggilan masuk.
"Siapa?" tanya Audrey.
"Davi." ujar ku singkat.
__ADS_1
"Pria presto itu? lama aku tidak mendengar kabarnya, cepat angkat telpon mu."
Tanpa disuruh olehnya aku juga akan menjawab, gerutu ku dalam hati.
"Hallo, Davi?"
"Aku ingin bertemu dengan mu malam ini, bisa?"
Tanyanya dengan suara maskulin tapi berlogat feminim.
"Bisa, tapi apakah kau tau sekarang aku tidak tinggal di Jakarta?"
"Memangnya kau tinggal dimana?"
"Aku tinggal di Bogor, jika kau datang ke sini maka aku bisa menemui mu, tapi kalau untuk ke Jakarta aku sedang tidak bisa pergi sendiri sekarang." Jelas ku pada Davi.
Audrey sudah menatap ku dengan seringai nya.
"Ya... kirimkan lokasi mu sekarang, dan pesankan hotel juga untuk ku."
"Dav, kenapa harus pesan hotel kau bisa tidur di rumah ku, kita akan menghabiskan waktu menonton drama berdua, seperti saat di Amerika dulu."
"Baiklah, lagipula aku sedang menghemat uang saku saat ini, kau tau kan tujuan ku saat ini Blevin."
"Ya... aku menunggu mu di sini." Lalu ponsel ku mati.
"Audrey! kau bilang tadi apa? Kenapa aku harus meminta izin padamu kalau pelayan disini saja bisa ku atur semau ku?"
"Selamat bertemu dengan teman mu yang aneh itu, dia boleh saja tinggal beberapa waktu di sini, tapi ingat jangan biarkan dia mengganggu ku, dan urusan pak Ali, semua terserah pada mu!"
Audrey keluar dari ruang makan tanpa menyentuh sedikit pun makanan di meja itu, dia hanya minum air putih dan pergi.
"Kau mau kemana?"
"Aku mau ke halaman samping menyejukkan pikiran!" ujarnya lantang.
Sebuah mobil Alphard putih berada di luar gerbang rumah, aku hanya melihatnya dari balkon.
Lalu ponsel ku menerima pesan.
Davi👩🦰 : Aku sudah berada di depan gerbang rumah mu, tapi satpam tidak mengizinkan ku untuk masuk bisa kau datang kemari?
Aku segera turun dan mengabaikan Audrey yang sedang menonton televisi.
__ADS_1
"Jangan berlari itu bahaya."
"Jangan terlalu khawatir, Davi sudah datang." Ujar ku, wajah Audrey berubah menjadi horor mendengar nama Davi di sebut.
Aku berada di depan gerbang sekarang, aku menemui satpam dan segera menyapa Davi yang sudah turun dari mobil putih itu.
"Pak biarkan mobil itu masuk, dia teman saya."
"Baik nyonya." ucap satpam yang menghalanginya tadi.
Aku segera memeluk Davi.
"Ah... Blevin semakin hari makin cantik saja." Sapanya dengan logat Amerika yang kental.
"Davi, 5 tahun tidak bertemu ku fikir kau sudah berubah, tenyata semakin..."
"Yayaya... aku memang semakin cetar bukan, rencananya aku juga mau operasi setelah menemui mu."
Kami berjalan menuju rumah, kemudian aku meminta pada Sinta untuk membuatkan minuman dan menyediakan makan kecil untuk kami.
Kami duduk di ruang televisi, Audrey? entahlah mungkin dia sudah mengantuk dan tidur sekarang.
"Operasi apa?" tanya ku mendetail.
"Kau tau kakak Billy?"
"Ya... dia senior kita, senior yang selalu menolak semua wanita cantik bukan?" tanya ku yang sebenarnya penasaran.
"Kami sudah menjalin hubungan serius, keluarganya merestui, asalkan aku mau menjalani operasi transgender."
OOO... aku kaget setengah mati, rasanya jantung ku mau copot sekarang, perut ku mendadak mulas.
"Are you serious? " tanya ku tidak percaya.
"Ya... do I look kidding? "
"No." Bagaimana ini? ah... aku sudah gila sekarang.
"Oh ya... bay the way, kenapa memilih untuk tinggal sejauh ini dari kota?"
"I am married."
"Kau menikah dan tidak mengundang ku? dengan siapa?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
Sebelum aku menjelaskan, sebenarnya aku juga tidak ingin menjelaskan pada Davi, namun Audrey muncul dari halaman samping dan bertatapan dengan Davi.
Dan jadilah kehebohan di malam ini.