
Kenapa sejak tadi sore Blevin ku nampak muram? Dia terlihat diam dan tak banyak tingkah hari ini.
Ibu ku juga sama seperti sedang memusuhi ku, tidak ada tegur sapa setelah dia melihat kami masuk kedalam kamar yang berbeda.
Kami makan malam bersama dengan penuh hening, tidak ada yang membahas persoalan bulan madu lagi.
"Audrey, kalian berdua tetap harus berangkat besok, pakaian kalian semuanya sudah dikemas tadi siang, ibu menyuruh para pelayan." ibu mertua ku mulai berbicara sekarang.
"Nyonya Victoria, mereka berdua tidak akan pernah pergi kemana pun!" tegas ibu ku, aku pun bingung sekarang, tadi dia adalah orang yang paling memaksa namun sekarang?
"Kenapa nyonya Hana?" tanya ayah mertua ku.
"Tuan Diego, kita tidak bisa menyatukan dua orang dalam pernikahan yang dibuat hanya untuk sebuah permainan! dalam keluarga kami pernikahan merupakan sesuatu yang sangat sakral, dan mereka berdua sedang mempermainkan pernikahan mereka." Aku berdiri secara spontan, aku tidak tau rasanya semua perkataan ibu merupakan tombak bagi ku.
__ADS_1
Blevin masih diam, dia tidak berkutik, aku melayangkan sebuah pertanyaan pada Blevin.
"Kau yang berasumsi bahwa pernikahan ini adalah ajang balas dendam ku? kau mengatakan semuanya pada ibu menurut pemikiran mu?" Blevin nampak ketakutan, matanya sudah mulai berair, dia tidak berani menatap ku.
"Ya... teruslah berpikir seperti cara mu sendiri! tapi sungguh aku tidak pernah main main dalam pernikahan kita! terserah padamu aku mengikuti semua perkataan mu! sungguh aku tidak bisa percaya pada mu lagi Blevin." Aku sangat marah pada Blevin kali ini, bagaimana bisa dia menceritakan hal semacam yang dia pikirkan pada ibu ku, dari awal aku tidak pernah main main dengan sebuah pernikahan, maka dari itu aku membuatkan rumah ini, aku berusaha mencoba untuk mengubah pola pikirnya, aku juga tidak mau menceraikan dirinya, namun apa?
Dia tetap pada pemikirannya, dia tetap menganggap pernikahan ini hanya sebagai ajang balas dendam ku.
Aku yang sudah tersulut emosi pergi ke lantai tiga, menenangkan diri di roof top mungkin akan sedikit membuat ku tenang.
"Ku mohon ibu, jangan menggangguku sekarang." ucap ku lemah.
"Mengapa kau tidak bercerita pada ibu mu, bahwa istri mu masih mencintai orang lain, mengapa tidak bicara dengan ibu bahwa Blevin menganggap pernikahan ini hanya ajang balas dendam?"
__ADS_1
"Percuma ibu tau pun tidak akan membantu banyak, Blevin akan tetap pada kemauan dirinya, dia tidak pernah perduli dengan ku sedikit pun."
"Audrey, anak ku, aku tetap ibu mu, dan kau tetap putra kecil kesayangan ku, kau tau saat kau sakit Blevin menjaga mu dan menelpon ibu mencari tau obat apa yang tepat untuk mu, saat Haruka berada di rumah ini, dia juga menghubungi ku, dia tidak suka dengan hubungan mu dengan Haruka, tadi sore ibu sengaja memancingnya, dan ibu mendapatkan jawaban di sana."
"Maksud ibu?"
"Blevin wanita yang hanya keras di luar namun lembut di dalam, ibu menawarkan perceraian padanya, di luar dugaan dia menangis."
"Dia menangis? untuk apa?"
"Di lubuk hatinya dia menaruh rasa yang belum dia sadari keegoisannya terlalu besar, dan ibu sadar dia telah mengorbankan sesuatu yang berharga dalam dirinya untuk mu bukan? kau bilang tehnya tumpah, tapi kau bohong, kalian melakukannya kan? tidak ada teh yang tumpah meninggalkan jejak darah pada sprei."
Aku sedikit tertawa, ternyata ibu memang paham betul tentang ku, dia juga amat tau dimana titik lemah Blevin.
__ADS_1
"Pergilah besok untuk berlibur bersama, coba untuk menjalin kembali hubungan baik kalian berdua, ibu mendukung kalian untuk bersatu, jujur saja ibu tidak mau kehilangan menantu kesayangan ibu itu."
"Baiklah Bu, aku akan membuatkan hadiah spesial ulang tahun untuk mu di tahun ini." ibu hanya tersenyum menatap ku, semoga saja ini tahap awal yang akan menyatukan kami.