
Senin pagi Audrey dan mobil mewah berwarna navy nya itu sudah berada di lobby kantor, Dio datang dan menyampaikan sesuatu.
"Tuan Diego berada di ruangan Lo sekarang." ucap Dio.
"Mau apa? bukanya kita udah sepakat 3 hari yang lalu?" tanya Audrey.
"Gue gak tau, mertua Lo gak ngoceh apa apa lagi." Jawab Dio dengan wajah cemas.
Audrey segera memencet lift dan menuju ke ruangannya, dia menemui mertuanya di sana.
"Selamat pagi ayah, ada yang sedang ingin kau bicarakan dengan ku?" tanya Audrey panik, biasanya tuan Diego tidak pernah datang secara tiba-tiba seperti itu, terlebih hari masih terlalu pagi.
"Kemana dirimu selama dua hari?" tanyanya pada menantunya itu.
"Berada di pulau bersama Raga, mengecek lokasi proyek baru." ujar Audrey jujur.
"Blevin sedang sakit saat ini, bahkan kami harus memanggil dokter untuk merawatnya."ucap tuan Diego menjelaskan keadaan putrinya.
Audrey terkejut, bagaimana bisa anak itu sakit, saat Audrey meninggalkan dirinya, Blevin masih sangat sehat.
"Dia berendam di bathtub semalaman, dengan alasan kau yang menyuruhnya."
Audrey kaget dengan perkataan mertuanya, bahkan dia tidak menghukum gadis itu.
"Maaf ayah..."
"Tenanglah Audrey, aku percaya pada mu, Blevin sedang bermain dengan mu, dia ingin mengadukan mu ke polisi dan meminta cerai atas itu semua." ujar tuan Diego yang membuat Audrey kaget.
Audrey semakin geram, dia meminta Dio untuk menghandle semua pekerjaannya hari ini.
"Tolong kosongkan jadwal ku hari ini, dan untuk rapat yang tertunda, tolong reschadule."
"Baik." jawab Dio
Audrey berjalan dengan tergesa bersama tuan Diego yang memasuki mobil pribadinya, Audrey mengemudi sendiri, ketika sampai di rumah tuan Diego, Audrey segera menemui Blevin.
__ADS_1
"Ibu, dimana Blevin?" tanya Audrey yang mulai ikut dengan permainan Blevin, dan tanpa di duga polisi juga datang saat itu.
Audrey masuk kedalam kamar itu dan menangis menatapi Blevin yang di pasangkan selang infus.
"Blevin, kenapa kau lakukan ini pada ku, aku tau kau sangat membenci ku, tapi bukan dengan cara bunuh diri seperti ini Blevin." Audrey memulai sandiwaranya, agar para polisi tidak percaya dengan ucapan Blevin.
"Dia menantu ku, suami dari Blevin." itu tuan Diego yang menjelaskan pada para polisi.
"Tuan Audrey, bisa ikut dengan kami sebentar?" Audrey mengangguk dan mengikuti polisi tadi, wajah Blevin segera berubah dia bahagia sekali, rencananya sudah berjalan selangkah.
"Tuan Audrey, dimana kau saat kejadian itu terjadi?" tanya sang polisi.
"Maaf pak, saya berada di luar kota, tapi itu memang salah saya, Blevin sebenarnya sedang cemburu karena mengetahui saya pergi dengan wanita lain, dan dia sangat membenci saya saat ini."
"Apakah sebelumnya nyonya memiliki riwayat depresi?"
"Tidak pak, kejadian ini pun sebenarnya tidak saya duga, saya juga syok saat tadi pagi mertua saya datang ke kantor secara tiba-tiba."
"Tuan Diego saya sudah selesai dengan wawancara pada tuan Audrey, saya harap kejadian ini tidak terjadi lagi pada nyonya, dan tuan Audrey laporan ini akan saya proses, jika pengaduan tentang anda terjadi lagi." Ucap sang polisi.
Audrey kembali dan duduk di depan Blevin.
"Kau melakukannya untuk mendapatkan surat cerai dari pengadilan nyonya? kau cukup bodoh dengan alasan mu." ucap Audrey sarkas.
"Kenapa kau kembali?" tanya Blevin pada Audrey.
"Aku kembali karena aku ingin tau, apakah kau dapat belajar dari sebuah kejadian, namun kenyataannya kau malah semakin beringas nyonya, oh ya... kau sakit? jika kau sakit izinkan saya untuk menjaga anda sebagai pasien." ucap Audrey dengan senyuman khasnya.
"Aku tidak mau di rawat oleh mu, dan persiapkan saja dokumen perceraian itu tuan, lalu kau kan terbebas dari ku." Blevin masih ngotot dengan perceraian.
"Tidak akan, dan pengadilan juga tidak akan mengesahkannya, karena kau tidak punya alasan yang bagus, jika ingin bermain dengan ku, maka berlatih lah lebih keras." tantang Audrey.
Hari sudah beranjak petang, Audrey bersama ibu mertuanya berada di dapur saat ini.
"Sudah Drey, duduk saja biarkan ibu yang buat." ucap nyonya Victoria.
__ADS_1
"Tidak apa Bu, aku hanya ingin sedikit memanjakan istri ku itu, sudah terlalu lama meninggalkan nya pasti dia sangat marah saat ini." ucap Audrey sedikit berbohong pada ibu mertuanya itu.
"Syukurlah Blevin mendapatkan suami seperti mu, perhatian dan begitu menyayanginya, tapi ingat Drey, kau juga harus tegas padanya, selama ini kami sebagai orang tua sudah jatuh bangun mendidiknya tapi kau lihat hasilnya, dia tetap saja keras kepala."
"Ibu bisa saja memuji ku, oh ya... jika beberapa malam ini aku dan Blevin menginap apakah tidak merepotkan?"
"Kau ini Drey, kami justru malah sangat senang, dengan adanya kalian rumah jadi lebih ramai." jawab nyonya Victoria dengan senyuman yang sangat manis.
Audrey sudah selesai dengan makanan yang ia buat untuk Blevin, bubur labu dan rolade daging cocok sekali untuk makan malam menemani hujan yang turun sejak tadi siang.
"Sambil menunggu makanan mu dingin, lebih baik sekarang kau mengganti pakaian mu." ujar Audrey.
"Keluar!" ujar Blevin.
Audrey tidak menghiraukan Blevin, dia menautkan handuk basah ke wajah Blevin.
"Kau jelek sekali, berapa hari dirimu tidak terkena air, lain kali kalau mau berekting, ektinglah secara natural, jangan tanggung seperti ini." ujar Audrey.
"Maksud mu?"
"Untuk apa berendam di dalam bathtub selama seharian? kenapa kau tidak loncat saja dari lantai apartemen, supaya lebih meyakinkan bahwa aku yang mendorong mu." usul Audrey dengan majasnya.
"Kau benar-benar menginginkan ku mati rupanya." Blevin menatap Audrey dengan tatapan horor, tapi Audrey biasa saja, justru dia malah mengelap tangan dan kaki Blevin, leher Blevin pun tak luput dari sentuhan handuk basah itu.
"Itu pilihan mu bukan keinginan ku, dan sebenarnya apa sih yang ada di otak mu Blevin? aku memarahi mu dan meninggalkan mu hanya untuk kau berfikir bukan untuk melakukan hal konyol seperti itu."
"Aku hanya ingin lepas dari mu iblis sialan!" umpat Blevin pada Audrey.
"Aku akan melepaskan mu, setelah sifat mu berubah, aku juga akan berpisah dari mu saat kau bisa menemukan kebahagian mu, kau tau semakin cepat kau berubah semakin cepat aku melepaskan mu." begitu tegas Audrey, dan Blevin hanya diam mematung.
"Sekarang, ganti baju mu, aku akan menunggu di luar, ataukah kau juga mau aku memakaikannya untuk mu?"
"Enak saja! keluar sekarang!" ucap Blevin tegas.
Audrey keluar dari kamar Blevin, dia hanya tersenyum masam dan menertawakan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Cinta? aneh, saat ini hanya ingin melihat Blevin lebih baik, dan setelah dia lebih baik? apa aku akan rela kehilangannya? ini bukan cinta namanya."