
Aku berada di apartemen milik Audrey saat ini, setelah tadi di usir ibu dan ayah dari rumah.
Saat aku pergi dari vila Audrey mencari ku dan menghubungi ayah dan ayah bilang aku ada di rumah saat ini dan entah alasan apa yang di buat Audrey sehingga ayah segera menyuruh ku untuk pergi ke alamat ini.
Dan di sinilah aku di apartemen milik Audrey dan sang pemilik baru saja membuka pintu rumahnya.
"Istri ku sudah pulang ternyata." senyuman mengejeknya itu adalah hinaan bagi ku.
"Duduklah, aku akan menaruh koper mu dikamar, dan di sini tidak ada pembantu, jadi kau harus terbiasa melakukan semua hal sendirian." ujarnya, bagaimana bisa aku melakukan pekerjaan rumah sendiri?
Selama ini aku tidak pernah mencuci, memasak atau menyapu lantai, semua sudah di lakukan oleh pegawai kakek dan pembantu rumah ayah, aku bahkan memiliki asisten hanya untuk mengambilkan benda yang terjatuh karena ulah ku dan sekarang?
"Blevin, kenapa diam? kemari lihatlah begitu banyak hal yang harus kita bereskan disini." Audrey, iblis luar bisa yang menghancurkan hidup ku.
"Mulai dari mencuci baju ya... aku akan mengajarkan mu, pertama nyalakan airnya, lalu masukan pakaiannya, kemudian sentuh tombol ini, maka pintunya akan terkunci, lalu tekan ini, tekan sampai nomer 4, karena baju ini tidak terlalu kotor dan tidak terlalu tebal." Audrey menjelaskan dengan teliti.
"Masukan sabun cair dan pengharumnya ke kotak ini, lalu tutup, nyalakan timer selama 30 menit, setelah itu pencet tombol ini maka dia akan membilas, jika kau ingin mengeringkannya, matikan kerannya, dan putar tombol yang ini, maka pakaian akan kering setelah putarannya habis, dan untuk menyetrika...."
"Sudahlah Audrey, aku hanya akan menelpon laundry, dan jika kau tidak memiliki uang untuk membayar salah sendiri beraninya menikahi tuan putri seperti ku!" ucap ku kasar.
"Bagaimana dengan debu yang ada di rumah?"tanyanya pada ku.
__ADS_1
"Aku akan menyewa layanan bersih bersih." jawabku enteng.
"Lalu memasak?"tanyanya lagi
"Kau bisa memesan, layanan pesan antar sudah banyak sekarang!" jawab ku tidak mau kalah.
"Lalu, bagaimana dengan diriku?" tanyanya yang kesekian kali.
"Panggil saja layanan..." aku berhenti, huh... Audrey memang selalu saja menggoda ku.
"Layanan apa maksud mu? kau ingin semua kebutuhan ku di urus oleh orang lain?" tanyanya.
Malam harinya aku di tinggal sendirian di apartemen, aku mulai kesal karena aku tidak bisa sendirian, aku takut.
Perut ku lapar, dan aku hanya menemukan sekotak sosis dan telur di kulkas miliknya, kenapa aku tidak memesan makanan di luar, dompet ku tertinggal di rumah, dan aku tidak memegang uang sepeser pun.
Aku memutuskan untuk menggoreng sosis, bagaimana cara menyalakan kompor ini? aku memencet tombol on, dan ternyata aku bisa mengoperasikannya. Aku menggoreng sosis itu dengan minyak sedikit, bukannya enak, sosisnya berubah jadi hitam karena aku sibuk mencari dan memecahkan telur kedalam mangkuk.
Sosisnya hangus dan telurnya hancur, rasanya aku ingin marah sekarang, satu satunya yang bisa ku nikmati hanya satu gelas susu yang ada di kulkas.
Aku meninggalkan kekacauan dapur dan memilih untuk masuk ke kamar dan tidur.
__ADS_1
Pagi hari ini Audrey memarahi ku, segala ocehannya hanya membuat diriku semakin kesal di buatnya.
"Aku hanya mengotori dapur mu bukan menghancurkannya, lalu apakah harus semarah itu!" teriak ku tidak kalah dengan emosinya.
"Hanya menggoreng telur dan sosis kan? kau bukan anak TK kau ibu rumah tangga sekarang, masa menggoreng sosis dan telur saja dapur harus sekacau ini, aku tidak mau tau pokoknya saat aku pulang dari kantor nanti semuanya harus sudah bersih, dan kau juga harus mencuci taplak meja itu."
Bodo amat... aku tidak akan memikirkannya, Bahkan dia juga tidak memberi ku makan hari ini.
Setelah dia berangkat ke kantor aku mulai membereskan kekacauan yang ku buat semalam, aku mencuci dan mengepel lantainya, entahlah aku hanya ingin melakukan dengan baik sekarang, kurasa aku bukan ibu rumah tangga seperti yang di maksudnya tapi seorang babu malang menyedihkan.
Tettt... tetttt.... bel berbunyi.
"Dengan nyonya Januardy?" Aku hanya melotot.
"I... iya." ragu aku menjawab.
"Ini pesanan dari Tuan Audrey, silahkan di nikmati nyonya, saya pamit." lalu orang itu pergi dengan meninggalkan kotak yang entah isinya apa.
Aku membuka kotak itu dan ternyata itu bento, dan aku sangat suka makanan yang ada di dalamnya, Kenapa Audrey bisa mengetahui makanan kesukaan ku?
Bodo, yang penting aku bisa makan sekarang, setelah semuanya rapih aku mandi dan berganti pakaian, aku makan dengan lahap, maklum dari semalam aku tidak makan, dan baru siang ini aku makan.
__ADS_1