
"Apa-apaan ini, kenapa dia seakan menghakimi ku lewat tatapannya, lantas kenapa dengan mertua ku yang mengatakan dia telah menikah dengan wanita yang katanya sangat dicintainya? apakah dia mencintai ku?" Blevin bermonolog di kamarnya saat ini, Audrey? Audrey sedang tertidur setelah minum obat dan ditinggalkan oleh kelurganya tadi.
"Nyonya, kau diam saja? kenapa?" tanya Audrey pada wanita yang telah dinikahinya itu.
"Emmm... tidak, apakah masih terasa mual?" ujar Blevin menanyakan keadaan Audrey yang sejak masuk kedalam rumah sudah muntah 3 kali.
"Sudah lebih baik nyonya, dan kenapa kau termenung di sana?
"Aku hanya ingin sedikit menutup jendelanya, hari ini cukup berangin, aku takut aku akan demam lagi." Blevin berbohong, sudah jelas dia kebingungan dengan ucapan mertuanya.
"Kau tidak mau bertanya pada ku?"
"Bertanya apa lagi? semuanya sudah jelas." Blevin mendengus dan menutup tirai, kemudian menyalakan lampu, Blevin melangkah ke lemarinya dan mengambil baju ganti untuknya mandi.
"Kau mau mandi?"
"Iya, kenapa?"
"Bukannya kau masih demam? dan infus mu baru di copot tadi pagi bukan?"
"iya, tapi aku lebih baik mandi menyegarkan pikiran ku dari pada harus melihat mu di depan mata ku!" Blevin menutup pintu dengan kasarnya sampai Audrey mengerenyit.
"Dasar ABG labil, hah menyebalkan sekali rasanya bahkan dia tidak mau menanyakan keadaan ku, memang benar Blevin dan Haru bagai surga dan neraka, Haru begitu baik, perhatian dan penuh dengan kelembutan, sementara istri ku itu, neraka bagi ku, Panas, penuh emosi dan dia tidak pernah menampakan kelembutan sedikit pun pada ku." ujar Audrey dalam setiap gerutuannya pada guling di pelukannya.
Blevin sudah keluar dari kamar mandi dia melihat Audrey yang sedikit kesusahan untuk beranjak dari tempat tidur, Audrey masih sedikit pusing dan lemas.
"Hey! kau mau apa?" Blevin refleks berteriak.
"Hanya mau buang air kecil." singkat Audrey.
"Kau masih pusing biar ku panggil ayah atau pelayan." ucap Blevin.
Ketika Blevin hendak melangkah Audrey menarik tangan Blevin.
"Tidak usah, cukup menggandeng ku menuju kamar mandi, aku bisa sendirian setelah itu." pinta Audrey.
"Baiklah, ayo." Blevin memapah Audrey, dan sedikit terhuyung ke belakang.
"Kau berat sekali Audrey, menyebalkan!" gerutunya.
"Aku menggendong mu, kau berat tapi tetap ku lakukannya semalam."
__ADS_1
"Tapi badan mu lebih besar dari ku!" Blevin masih saja menggerutu.
"Sudah sampai, kau mau keluar atau tetap di dalam?" tanya Audrey, sementara itu Blevin hanya diam.
"Oh... aku keluar!" dan Blevin pergi meninggalkan Audrey.
"Menyebalkan sekali iblis yang satu itu, aku memang tidak punya alasan untuk membencinya, semua memang salahku, tapi tetap saja iblis itu keterlaluan pada ku, kenapa harus bermain dengan pernikahan sih!" Blevin geram dan menendang lemari di depannya.
"Au... dasar lemari tidak tau diri!" umpat Blevin pada lemari yang bahkan ikut terkena imbasnya.
"Maria, Jona..." Blevin berteriak memanggil pelayannya.
"Iya nyonya, ada yang bisa kami bantu." jawab Jona sang pelayan.
"Jona, tolong bersihkan kamar ku, aku mau ke taman belakang menemui James." ucapnya lalu dia sedikit heran akan sesuatu.
"Jona tunggu."
"Iya nyonya."
"Kenapa kau memanggil ku dengan sebutan nyonya, apakah aku sudah setua itu, bahkan usia ku di bawah mu." tanya Blevin heran.
"Oh... itu tuan Audrey yang memintanya kemarin, kata tuan sekarang nona adalah nyonya Audrey jadi saya tidak bisa memanggil nyonya dengan sebutan nona lagi." ujarnya.
"Baik nyo... nona." lalu Jona segera membereskan kamar dan mengganti spreinya.
"Jona, dimana nyonya mu?" tanya Audrey yang masih lemah keluar dari kamar mandi bukan menemukan istrinya malah bertemu pelayannya.
"Nona Blevin berada di halaman belakang memberi makan James."
"Siapa James?" tanya Audrey resah.
"Tenang saja tuan, James adalah kuda jenis thoroughbred milik nona yang sudah di tinggalkan beberapa tahun ini, apakah tuan butuh bantuan?"
"Tidak Jona, kau bisa pergi jika sudah selesai, apakah ibu dan ayah ku masih ada dirumah ini?" tanya Audrey sambil duduk di pinggir ranjang.
"Nyonya Hana dan Tuan Andi sudah pergi dari pukul tiga tadi tuan, jika tidak ada yang di butuhkan saya permisi." Lalu pelayan itu pergi dan Audrey hanya tersenyum.
"Aku ingin melihat seperti apa James nanti." ucap Audrey dan kembali memejamkan mata.
Di halaman belakang terlihat Blevin, warna wajahnya merona dan bahagia.
__ADS_1
"Pak Ali, bagaimana kondisi terakhir James? ku harap Minggu depan aku bisa menungganginya." tanya Blevin ramah, dan kali ini Blevin memberikan pakan untuk James.
"Kau bisa menungganginya nona, oh ya... apakah kau sudah cukup baik untuk berkuda?"
"Tentu pak, bahkan jika boleh sekarang aku mau, tapi besok pagi saja, setelah aku memandikan James dan memberi perawatan rutin barulah aku akan mencobanya sedikit."
"Tentu nona, akan ku persiapkan nanti."
"Terimakasih pak Ali, ini sudah sore, aku akan mandi dan menyiapkan makan malam bersama para pelayan.
"Nona, selamat atas pernikahan mu, semoga kalian di karuniai anak anak yang baik dan juga cinta kalian bisa abadi."
Blevin sedikit bingung mau mengaminkan atau membantah, jadi Blevin hanya memutuskan untuk tersenyum dan berlalu.
Blevin kembali ke kamarnya dia segera mandi dan berpakaian, ibunya sudah memanggil sejak tadi, tapi dia masih menghiraukannya.
"Blevin, darimana?" tanya Audrey dengan suara serak.
"Dari halaman belakang, menemui pria gagah ku." ucap Blevin dengan nada pongah, dia pikir Audrey tidak tau siapa yang di temuinya.
"Siapa? pak Ali? penjaga kebun belakang?" Blevin mendengus, dia terlihat kesal.
"Ya... pak Ali jauh lebih baik dari mu, setidaknya pak Ali memiliki istri dan anak, sementara dirimu? Lihat saja." Blevin tersenyum puas menatap Audrey yang mulai diam.
"Aku lebih baik dari pak Ali, bahkan aku punya istri, dan jika kau bertanya soal anak, apakah kau sudah siap?" sekarang Blevin yang diam.
"Aku akan memilih James untuk ku jadikan suami dibandingkan dirimu iblis menyebalkan!" kembali lagi pada mode marahnya.
"James, kuda coklat mu itu?" Blevin bingung,
"Kenapa dia bisa tau?" ucap Blevin dalam hati.
"Kau bingung kenapa aku tau? jika ingin berkuda katakan pada ku, aku bisa menemani mu." ucap Audrey.
"Aku lebih baik menungganginya sendiri, kau tidak bisa melakukannya tanpa kuda, kau tidak punya kuda, sementara James hanya untuk ku!"
"Aku akan membeli satu ekor kuda lagi untuk menemani James dia terlihat kesepian." ucap Audrey.
"Tidak perlu, James akan tetap sendri dan bahagia."
"Kau ya... berapa lama kau membuat James menderita, dia butuh kawin, kau ini! jika memelihara sesuatu kau harus memiliki pasangannya, aku akan menghubungi teman ku untuk membeli satu kudanya supaya James punya teman hidup, aku kasian pada James masa dia harus terus melihat pak Ali saja, dia juga butuh wanita cantik!"
__ADS_1
Blevin tidak bisa berkata apapun kini dia hanya bisa diam dan pergi menghampiri sang ibu yang mulai berteriak.