Straight Devil

Straight Devil
Lebih Parah


__ADS_3

Malam ini Audrey masih fokus dengan segala perhitungan mengenai proyek proyeknya sampai akhir tahun nanti, ponselnya berdering saat Audrey tengah meminum air putih hangat di mejanya.


"Hallo ayah, apa kabar?" tanya Audrey pada ayahnya yang kini menginap dirumahnya.


"Ayah baik, namun ada beberapa hal yang harus ayah jelaskan padamu mengenai Blevin." ucap sang ayah dengan nada tegas.


"Ada apa ayah? Blevin baik baik saja kan?"


"Dia dalam keadaan baik, ini mengenai kelanjutan pernikahan kalian, Audrey, ayah tau kau banyak memiliki beban, terutama urusan pekerjaan, tapi kau juga perlu mengingat bahwa tanggung jawab mu bukan hanya pada pekerjaan, tanggung jawab mu bukan hanya untuk menafkahi istri mu, kau berikan dia banyak uang itu tidak membuat dirinya mengagumi dirimu."


"Langsung saja pada intinya ayah, hari sudah larut ayah harus cepat beristirahat." ucap Audrey lembut.


"Ayah hanya mau kau mengalah dan melunak pada istri mu, kebahagian istri itu sangat penting dalam sebuah mahligai rumah tangga, kau yang mengarahkan kapal mu, kau yang menentukan semua orang yang berada dalam kapal tersebut, saat ombak datang semua tergantung pada mu, jika kau hanya memiliki satu kehendak kau akan kehilangan semua orang di dalamnya, tapi jika kau memiliki berbagai sudut pandang dan pertahanan mereka semua termasuk kau akan tetap aman, ayah hanya mau kau menjadi nahkoda yang baik dan bijak sana."


"Ayah, pernahkah ayah bicara dan mendengarkan dari pihak ku? pernah ayah berada di posisi ku?"


"Audrey..."


"Ayah, aku tetap anak mu yang selalu mengerti kemana laju angin, ayah jika aku saja yang mengimbangi tanpa Blevin ikut serta di dalamnya kapal kami akan tetap goyah, Blevin bertugas membantu dan ikut serta, tapi apa? dia berulang kali menghancurkan rasa percaya ku, dia kembali pada masa lalunya, club'! saat Davi datang dan kembali bermain dengannya Blevin ku yang dulu kembali, menjadi wanita seperti itu."


"Audrey,, Blevin tidak menyentuh alkohol, dia juga menjaga nyawa di dalam rahimnya, dia bukan seorang yang gila."


"Sudahlah ayah, suruh dia juga introspeksi diri, jangan hanya menyalahkan ku saja."


"Audrey!!! Jika kau anak ayah seharusnya kau berpikir bijak!" Bentak Andi pada putranya itu, kemudian sambungan di matikan.

__ADS_1


Audrey mengusap wajahnya yang kusut itu, dirinya semakin pusing dengan apa yang seharusnya dia lakukan.


"Gita, persiapkan tiket pesawat kembali untuk ku, aku akan meminta Aris atau Dio untuk menggantikan ku sementara disini." Audrey menelepon Gita sepertinya dia akan pulang besok.


"Baiklah pak, penerbangan jam berapa?"


"Penerbangan paling awal, masalah ku mendesak."


Audrey mengepak semua pakaian dan juga barang barangnya, dia terlihat gusar memandangi ponselnya.


Pagi pun tiba Audrey sudah ada di bandara dia ingin secepatnya sampai di Jakarta dan bertanya banyak hal pada Blevin.


"Lihat saja apa jawabnya nanti." ucap Audrey dalam hatinya.


Audrey turun dari taksi yang mengantar dirinya ke rumah miliknya, ayah serta ibunya sedang menikmati makan siang bersama menantu kesayangan mereka yang terlihat bersedih.


Nina yang menyadari kehadiran tuannya segera mengambil alih koper itu, Audrey masuk ke ruang makan dengan tatapan kesal pada Blevin.


Semua yang ada di meja makan menatapnya penuh kecemasan.


"Blevin ikut aku!" Tegas Audrey yang langsung berjalan menuju kamarnya.


"Blevin, bicaralah dengan tenang." Hana tersenyum meyakinkan menantunya, Blevin mengangguk dan menyusul Audrey.


Blevin membuka pintu kamar, saat itu Audrey sedang mengganti baju, ada rasa tidak enak dalam hati Blevin namun ia mengelakkan semuanya.

__ADS_1


"Duduk!" kata Audrey dengan tegas, wajah nya penuh emosi.


Blevin terduduk di tepi ranjang, dia terlihat takut dan pucat.


"Jelaskan padaku kenapa ayah dan ibu menyalahkan ku atas kepergian ku? apakah kau tidak pernah berkaca bahwa kau juga salah atas hal ini?"


"Audrey..."


"Kenapa? kau tidak mampu menjelaskan dan hanya bisa menyalakan ku?" Audrey sudah terbakar emosi rupanya.


"Audrey, aku minta maaf, aku merindukan mu." Blevin segera memeluk Audrey tidak perduli dengan penolakan dan kemarahan suaminya itu.


"Kau pikir dengan begini kau bisa melunakan ku? Blevin semua hal punya cara sendiri untuk selesai!"


"Audrey, aku minta maaf, aku tidak bermaksud untuk pulang tengah malam atau menginjakan kaki di club', aku hanya mengikuti Davi."


"Lalu? kau akan terus menuruti semua teman teman mu itu? seharusnya kau punya pendirian Blevin, aku hanya tidak mau anak ku dalam bahaya." ucap Audrey kesal.


Namun seakan pengungkapan Audrey itu kembali mengungkit bahwa yang di khawatirkan Audrey hanya bayi yang ada di dalam kandungannya itu.


"Jadi? kau hanya menghawatirkan bayi ini? tenang saja tuan aku akan melindunginya sampai dia lahir, kemudian aku akan menyerahkan dia pada mu, setelah itu aku akan pergi jauh dari hidup mu!" tegas Blevin pada Audrey, Blevin dengan kemarahan yang tanpa bisa di cegah meneteskan air mata kemudian keluar membanting pintu dengan kencang.


"Bodoh kau Audrey! kenapa kau berkata seperti itu!" Audrey merutuki kebodohan dirinya.


Blevin menangis sesenggukan di kamarnya, Blevin yang begitu tegas, kasar dan pantang menangis, kini benar benar lemah, dia luruh terduduk di lantai menangis menumpahkan segala kesalnya.

__ADS_1


"Jadi sedari awal kau hanya menginginkan apa yang aku kandung bukan diriku Audrey! tapi kenapa kau selalu berusaha meyakinkan semuanya bahwa aku bisa bergantung pada mu! Ku pikir kita bisa memperbaiki tapi nyatanya? semua lebih parah di banding yang aku bayangkan."


__ADS_2