
Hari libur adalah saatnya beristirahat, itu salah.
Aku memanfaatkannya untuk berkuda, James sudah di bawa oleh pak Ali ke area pacuan, sementara Jeny seperti hari ini tidak bisa ikut berlatih, kemarin sore perutnya kembung, jadi hari ini aku memanggil dokter Cristal untuk menangani Jeny, sebelum kami berlatih bersama James di area pacu.
"Dokter Cristal kau sudah datang, senang bertemu dengan mu, lama tidak bertemu." ungkap ku dengan senang hati.
"Aku juga senang bertemu dengan mu Blevin, oh ya... ku dengar kau telah menikah, dimana suami mu?"
"Dokter, suami ku ada di dalam, kami sedang bersiap ke arena pacu sebenarnya, dan saat ini perut Jeny sedikit kembung sepertinya, bisakah kau memeriksa Jeny terlebih dahulu." ungkap ku, sebenarnya aku sedikit khawatir pada Jeny.
"Baiklah, Blevin? bukankah kuda mu bernama James?"
"Iya, ini kuda baru yang di beli suami ku untuk menemani James." ujar ku.
Dokter Cristal berjalan bersama dengan ku ke halaman belakang untuk memeriksa Jeny.
"Iya, perutnya sedikit kembung, malangnya, aku akan menyuntikan sedikit obat dan apakah sudah di beri vaksin?" tanya dokter Cristal.
"Aku tidak tau, penjualannya tidak memberi tahu ku, oh... tunggu sebentar, aku akan memanggil suami ku, untuk mengecek surat adopsinya."
Kemudian aku pergi meninggalkan dokter Cristal yang masih memeriksa keadaan Jeny di kandang.
"Audrey..."
Teriak ku dari bawah tangga sebelum masuk kedalam kamar ku.
"Ada apa?" jawabnya malas.
"Dimana surat adopsi Jeny, dan aku mau bertanya apakah Jeny sudah di vaksin?" tanya ku sedikit jengah dengan Audrey yang baru keluar dari kamar mandi karena panggilan alamnya.
"Sebentar, aku akan mengeceknya." Audrey membuka beberapa dokumen yang tersimpan di stop map.
"Ini, sertifikat dan surat adopsi Jeny,. disana juga tertera vaksinasi nya." jelasnya menyebalkan.
Aku segera pergi dari hadapan Audrey, semakin lama semakin malas meladeni pria ini, malah semalam dia tidur sambil memeluk dan mengigau di belakang bahu ku lagi, membuat ku semakin risih saja.
"Dokter Cristal, ini data tentang Jeny." aku menyerahkan data Jeny untuk diperiksa.
__ADS_1
"Vaksinasinya belum di berikan, ternyata Jeny kuda muda ya, dia belum pernah hamil,dan semoga saja James bisa bereproduksi bersama Jeny."
Aku hanya tersenyum menentang kenyataan itu, ini akan menjadi peternakan kuda, fikir ku.
"Blevin, kau sudah siap?" itu Audrey, dia tiba-tiba muncul di belakang ku saat dokter Cristal hendak pulang.
"Ya, lima menit lagi kita berangkat." ujar ku, aku enggan mengenalkan Audrey pada dokter Cristal.
"Kau dokter yang memeriksa Jeny?" tanya Audrey pada dokter Cristal.
"Ya, aku Dokter Cristal, kau suami dari Blevin?" tanyanya dengan gaya sok kecantikannya itu, jujur saja aku sedikit tidak suka dengan Cristal, dia juga pernah mengambil kesempatan pada kakak sepupu ku.
"Oh.. Hay." jawab Audrey singkat, dokter Cristal mengulurkan tangannya, Audrey sedikit melihat ku dan dia tersenyum menjabat tangan Cristal.
"Audrey Aulia Januardy, senang berkenalan dengan mu, kau sudah selesai, kami akan bergegas sekarang." usir Audrey dengan wajah datarnya, aku tau Audrey memang murah senyum dan ramah, tapi kali ini sepertinya dia tidak menyukai Cristal.
Setelah Cristal pergi aku bersama dengan Audrey datang ke area pacuan mengenakan mobil ayah, karena mobil Audrey merupakan mobil sedan, jadi tidak cocok untuk berkendara di jalan becek menuju pacuan.
Sesampainya di tempat pacuan, pak Ali terlihat memakaikan pelana untuk James, pelana baru itu sangat cocok dan nyaman untuk James, aku juga memesan untuk Jeny, warna putih gading sangat cocok untuk Jeny.
Pokoknya hari ini akan ku habiskan untuk berkuda bersama James.
"Sudah kapok?" tanya ku ketus sambil melempar handuk ke keranjang pakaian di dalam kamar.
"menyenangkan, tapi sedikit pegal, dan kapan kita akan kembali ke apartemen?" tanya Audrey.
"Aku tidak akan kembali ke apartemen mu yang sempit itu."
"Kita harus mandiri sekarang Blevin, ingat kita sudah punya rumah tangga sendiri."
"Terserah pada mu, selama kau tidak memanggil layanan bersih bersih maka aku tidak akan pulang."
"Terserah, aku juga tidak akan memaksa, nikmati saja hari mu disini, aku akan pulang malam ini juga." ujar Audrey, dia segera pergi dari kamar dan membawa kunci mobilnya.
Tiga hari berlalu, aku mulai merindukan Zain, sudah dua Minggu sejak kepergian dirinya, dia tidak pernah mengabari ku lagi, sejak kabar terakhir yang ku lihat di televisi.
Kabar itu sebenarnya cukup mengejutkan ku, dimana Zain mengklarifikasi bahwa kepergian dirinya ke Manchester sebenarnya bukan hanya untuk kontrak miliaran itu, tapi karena dia sedang patah hati, dan pergi untuk mencari suasana baru.
__ADS_1
Aku mengirimkan email padanya, namun tak jua di balas, lalu aku memutuskan untuk menelpon dirinya kali ini.
"Hallo." di jawab tapi kenapa suara wanita?
"Ya, can speak to Mr. Zain? " ucap ku.
"Zain? Zain is in toilet now, if it is important just leave me a message, I can pass it on to Zain."
"Sorry, are you Zain's manager? " tanya ku.
"No miss, I am Zain's current date."
Deg... air mata ku turun, bagaimana bisa Zain berkencan, saat ada aku yang sedang menunggu kabar darinya, tidak, Zain bukan orang yang seperti itu.
Tok...Tok...
"Siapa?" tanya ku saat pintu kamar ku di ketuk.
"Ayah, Blevin."
"Masuk."
"Tadi ayah bertemu dengan Dio menanyakan keadaan Audrey, Dio bilang semua pekerjaan Audrey sekarang di gantikan oleh Dio dan pegawai barunya."
"Lantas?"
"Kalian sedang bertengkar? kau membuat ulah lagi?" tanya ayah yang menuding ku dengan tuduhan macam itu.
"Tidak, memangnya kenapa jika masalah kantornya di limpahkan pada semua anak buahnya? Audrey merupakan bos di sana, jadi itu hal lumrah ayah."
"Kau ini, Audrey sakit saat ini, dia tidak mengabari siapapun, dan kau dengan tenangnya berada jauh darinya?" tanya ayah dengan nada tingginya.
"Ibu sudah menyiapkan sup untuk Audrey, sekarang tugas mu, merawatnya."
"Menyusahkan!" ucap ku geram.
"Blevin, dia suami mu! kau harus menghormatinya!" ujar ayah.
__ADS_1
"Baiklah Aku akan bersiap." ujar ku ketus.