Straight Devil

Straight Devil
Sandiwara


__ADS_3

Katanya bulan madu tapi aku masih saja tidak bisa meninggalkan pekerjaan ku, aku bahkan membiarkan Blevin untuk pergi keluar dan menghabiskan waktunya sendiri, sejak siang kemarin Blevin memilih untuk tidak keluar dari resort, dia terlihat murung dan aku akan mengajaknya bicara sekarang.


"Mau cemilan?" tawar ku pada Blevin yang sedang duduk di sofa menatapi deburan ombak yang memecah karang dihadapannya.


Blevin mengambil makanan di tangan ku.


"Kau sudah selesai dengan pekerjaan mu?" tanyanya sambil mengunyah kripik yang ku berikan.


"Belum, tapi jika kau mau aku meninggalkan pekerjaan ku akan ku tinggal, lagi pula kita datang kesini untuk berlibur, dan kata para ibu untuk memperbaiki hubungan bukan?" ujar ku.


"Honeymoon hanya untuk sepasang suami-isteri yang saling mencintai, tapi kita? Bahkan jauh dari kata itu, selesaikan saja pekerjaan mu, aku akan pergi berwisata sendiri." ujarnya dengan langkah malas dia meninggalkan ku lagi.


Matahari menyengat dan serasa membakar kulit ku siang ini, aku melihat Blevin pergi keluar dari resort, aku sedikit penasaran dengan dirinya yang begitu berubah drastis sejak kemarin siang, aku dengan tenang mengikuti dirinya secara diam diam.


Blevin duduk di samping pohon kelapa, dia menatapi hamparan pasir putih dengan birunya air laut yang menjadi gradasi.


Ide gila ku kembali muncul, aku bergerak kearahnya dan menggendongnya dari belakang mengangkat tubuhnya itu sambil berlari menuju air, dia meronta-ronta memohon untuk dilepaskan tapi aku tetaplah Audrey si raja jahil, aku menjatuhkan dirinya tepat di air laut yang sedang menggulung ringan.


"Audrey... kau memang keterlaluan! bagaimana sekarang? pakaian ku basah semua!" marah Blevin.


"Kita datang kesini untuk memperbaiki hubungan bukan untuk memperburuk keadaan, ayolah aku tidak suka dengan sikap mu yang seolah mendiamkan ku." ucap ku jujur, aku lebih suka Blevin yang liar, yang selalu menentang perkataan ku, bukan Blevin yang pendiam dan murung.


Blevin tetap tidak menghiraukan ku, dia berjalan cepat mengusap air mata di pipinya yang sepertinya dia tahan sejak tadi.

__ADS_1


Aku melangkah mengejar dirinya, sampai saat dimana langkah ku sejajar aku segera memeluknya dari belakang, entahlah semenjak malam dimana kami melakukannya hal layaknya seorang saling mencintai itu, aku sedikit agresif padanya.


"Ceritakan semuanya pada ku, jangan menangis atau menunjukan wajah murung mu saja, sungguh aku tersiksa menatapnya, dimana Blevin yang selalu marah pada ku?"


Dan sesaat setelah itu Blevin segera membalik badannya dan mengalungkan lengannya di leher ku, dia mencium ku dengan lembut tepat di bibir ku, sungguh inikah Blevin? Mata ku melebar kala mendapatkan ******* Blevin secara tiba-tiba itu, aku membalasnya dengan menggebu, dada ku terasa sesak saat aku tau sebuah suara mengintrupsi kegiatan kami berdua.


"Oh... nona Blevin? kau disini juga?" mata ku menatap seorang wanita yang pernah ku lihat di Manchester, wanita yang membuat Blevin marah setengah mati, dia nampak mesra dengan seseorang pria yang pernah, ah... tidak masih Blevin cintai.


Blevin melepas kaitan tangan tadi dia menghadap dan menjawab pertanyaan itu.


"Sandra, kau juga disini? oh ya... perkenalkan dia suami ku, kami datang untuk berbulan madu." ujar Blevin, dan kini aku tau arti dari ciuman Blevin tadi, aku menyapa dengan senyuman dan aku juga memanfaatkan kesempatan itu untuk mengeratkan pelukanku pada tubuh Blevin.


"Kami berdua datang karena proyek pemotretan, dan juga sepertinya momen ini sangat pas untuk liburan kami berdua." ucap Alexandra.


"Maafkan suami ku, dia memang selalu seperti itu, oh ya... kapan kalian akan menikah? tidak baik untuk seorang wanita secantik dirimu bersama seorang pria tanpa status resmi." ucap Blevin, dia memang sedang bermain peran saat ini.


"Rencananya tahun depan kami akan segera mengikat janji suci." ucap Zain tak kalah pamernya.


"Tahun depan? cukup lama, semoga tidak ada kecelakaan atau hal yang tidak bisa di perediksi ya..." kini ucapan Blevin semakin tidak bisa dicerna oleh Zain rupanya, terlihat wajah Zain sedikit marah.


"Tuan Zain, nona Alexandra kami akan selalu mendoakan yang terbaik, dan semoga rencana kalian berjalan lancar, kami harus pergi sepertinya Blevin sedang tidak enak badan, sampai bertemu lagi nanti, jika ada waktu datanglah ke resort yang berada di timur, kami bermalam disana." Ujar ku, sengaja menyebut resort di timur, karena resort itu merupakan resort mewah yang paling mahal di pulau ini.


"Ya tuan, terimakasih kami akan mengunjungi kalian nanti saat pemotretan kami telah selesai." jawab Alexandra.

__ADS_1


Kemudian kami berlalu dengan Blevin yang marah besar pada ku.


"Aku tau, ciuman itu hanya sandiwara mu kan? mangkanya aku membahas masalah momongan." jujur ku.


"Nikmati saja sandiwaranya." ujarnya acuh.


"Tapi permainan bibir mu tidak buruk Be.." Blevin marah dan menginjak kaki ku, bahkan perut ku juga di tonjok olehnya.


"Hey... jadi apa pengatur skenario yang baik???" tanya ku akan rencana Blevin selanjutnya.


"Tidak ada."


"Kau lupa, aku mengundang mereka datang Be."


"Bersandiwaralah seperti kita adalah pasangan yang saling jatuh cinta, dan aku akan berlaku layaknya seorang yang tidak pernah jatuh cinta pada Zain."


"Jadi kau uring-uringan dimalam itu karena menemukan mereka bersama?"


"Jelas!" ucap Blevin tegas.


Aku semakin terkekeh dengan keras mendapatkan jawaban singkat dari Blevin.


"Dasar... patah hatimu seperti anak SD hahahah..." Bukkk...

__ADS_1


Blevin melempar kotak tissue hingga mengenai tulang kering ku, dan aku masih tertawa dengan keras.


__ADS_2