
Satu bulan lalu aku sudah menemukan Haruka, kondisi sangat mengenaskan, aku kasian padanya, luka memar di wajah, paha, dan lengannya membuatku miris melihatnya.
"Haru, kau bisa tinggal di rumah ini sebagai tempat persembunyian mu, dan jaga juga janin mu, aku akan datang ke sini setiap hari, kau jangan khawatir tempat ini hanya aku dan ibu yang tau, keselamatan mu adalah yang nomer satu untuk ku, jadi tenanglah."
"Audrey, terimakasih, bagaimana jika kita menikah saja, lagi pula papa ku tidak akan berbuat apapun jika kita sudah resmi."
"Tidak bisa Haru, status mu sekarang adalah istri orang, dan aku... aku sudah menikah tiga bulan yang lalu." ucap ku tegas.
"Jadi sudah tidak ada harapan untuk ku?"
"Ya, Haru, aku memang belum mencintai istri ku, tapi aku yakin aku tidak akan pernah mengkhianati dirinya."
"Audrey, kenapa kau masih ingin menyelamatkan ku jika kau tidak pernah mencintai ku."
"Menolong seseorang adalah kewajiban setiap manusia, itu sebabnya aku menolong mu, kau bisa tinggal disini selama yang kau mau, aku juga akan memenuhi semua kebutuhan mu, kau akan dikenal sebagai istri ku, tapi kita tidak akan pernah menikah, mengerti!" tegas ku pada Haruka.
Hari hari berlalu, Blevin dan aku seperti berjarak, aku selalu saja pulang terlambat dan meninggalkan Blevin, itu kerena Haruka selalu minta untuk ditemani, Haruka dalam keadaan hamil, dia sangat sensitif dan jika dia emosi itu akan bahaya untuk janinnya.
Malam ini aku kembali ke Apartemen untuk menemui Blevin, juga menjelaskan tentang Haruka, aku tidak ingin Blevin salah paham, apalagi jika sampai dia tau aku menyembunyikan Haruka di rumah impian yang ku buat untuk Blevin.
"Aku mau bicara." ucap ku.
"Bicara apa?" ucapnya.
"Tentang kepergian ku selama dua hari ini."
"Oh." ucapnya ketus.
"Blevin, aku menemukan Haruka, dan aku..."
__ADS_1
"Kau sudah menikah dengannya bukan? oh ya apakah dia bisa memberikan apa yang tidak bisa kau dapatkan dari ku Audrey, selamat atas pernikahan mu." tukasnya dengan wajah tenang.
"Kau?"
"Jangan kaget, aku sudah tau semuanya, dan jangan harap aku mau berbagi suami, lebih baik pilih dan tentukan sekarang, tapi aku sudah mengerti bahwa kau akan mendepak ku dari hidup mu."
Bagai mana bisa wanita ini bicara seperti itu? apakah dia tidak tau jika aku mulai memiliki perasaan padanya.
"Blevin!" ucap ku, namun secara tiba tiba Blevin duduk diatas pangkuan ku dan mengecup bibir ku lembut.
"Kau lebih menjijikan dari Zain, Audrey!" ucapnya marah, apakah di cemburu? ah... aku akan menggodanya kali ini.
"Baiklah jika kau bilang aku lebih menjijikan dari Zain, aku terima, tapi yang perlu kau ingat..." Aku memutus ucapan ku, aku mulai ******* bibir ranum Blevin, seperti aku akan hilang kendali, biar saja Blevin menganggap ku pemerkosa, aku tidak perduli sekarang.
Blevin tidak menolak atau menerima dia hanya diam saat aku berusaha menciumnya dengan luapan emosi.
Beberapa saat aku melepas pelukan dan ciuman panas ku tadi.
"Audrey?" dia terlihat bingung, dan aku mengecup keningnya.
"Itu yang pertama kalinya aku mencium seseorang dengan sangat menggebu." jelas ku pada Blevin.
Blevin hanya diam, dia enggan bertanya dan kini aku sukses membuatnya semakin marah padaku.
"Apa maksud mu Audrey? kau mencium ku dengan cara seperti itu?" Dia semakin berapi api dengan wajah merahnya.
"Entah perasaan apa yang terjadi diantara aku dan kau, tapi semuanya terasa hangat dan nyaman saat aku melakukannya, maaf jika itu membuat mu terganggu."
"Mana surat cerainya?" Blevin mengulurkan tangan menodong ku dengan butiran air mata yang tidak jatuh ke pipinya.
__ADS_1
"Jika mau menangis, kenapa tidak menangis, tapi untuk apa kau menangis? kau kan tidak mencintai ku, lagi pula jika aku menceraikan mu aku juga tidak dapat apa apa." Ejek ku lagi.
"Audrey! kau apa maksud mu?"
"Kau mengatakan aku sama menjijikkan seperti Zain, berarti aku sama menginginkan tubuh mu." Aku mencoba memainkan perasaannya saat ini.
"Dasar iblis!" Air matanya turun sekarang, aku menarik lengannya, aku memeluknya.
"Kenapa menangis sekarang? huh?" ucap ku.
"Aku hanya menyesal, menyesal pernah mengenal mu, orang yang baru saja akan ku berikan kepercayaan, tapi ternyata sama saja, kalian semua sama!" Blevin memukul dada ku dengan kekuatan miliknya.
"Hey... dengarkan penjelasan ku dulu." Aku sadar, Blevin baru akan mulai mempercayai ku?
"Penjelasan apa lagi? bahkan satpam itu juga mengenalnya sebagai istri mu!" Blevin berteriak sekarang, aku mendapat kesimpulan bahwa Blevin memang datang ke rumah itu.
"Mereka memang mengenal Haruka sebagai istri ku, tapi bukan berarti aku telah menikah dengannya, seumur hidup ku aku hanya menikahi satu wanita, yaitu kau."
"Dan maksud mu apa? kau memperkenalkan orang lain sebagai istri mu!"
"Aku memang sengaja memperkenalkan Haruka sebagai istri ku, agar tuan Ben tidak mengetahui keberadaannya, itu hanya kamuflase, dan yang perlu kau tau sekarang, ikutlah dengan ku ke rumah itu."
"Untuk apa? kau mau menjadi pria hebat yang memiliki dua wanita sekali Gus dalam satu rumah?"
"Bukan begitu, sebenarnya rumah itu memang sudah ku rancang dan ku buat, untuk kita, namun keadaannya mendesak, jadi sementara aku gunakan untuk menampung Haruka."
"Aku tidak mau, satu atap dengan wanita itu!"
"Kau tidak satu atap dengannya, dia berada di paviliun belakang, sementara kau ada di rumah utama Blevin."
__ADS_1
Malam ini aku bersih keras membujuknya, dan pada akhirnya keputusan final, Blevin mau ikut dengan ku tinggal disana, tapi tetap Blevin tidak ingin aku berdekatan atau bertegur sapa saat dihadapannya.