Straight Devil

Straight Devil
Jual Mahal


__ADS_3

Pagi ini aku membuka mata, ada yang aneh tangan kokoh seseorang yang aku sangat kenal merengkuh ku dari belakang dan mengusap usap perut ku.


"Emhhh..." aku merentangkan tangan dan menyingkirkan tangan itu, dia tidak menyapa ku semalaman dan sekarang berada di ranjang ku dengan posisi yang sangat intim? dia itu memang menyebalkan!


Aku bangkit dari duduk ku, matanya sukses melotot menatap ku dengan tajam, biar rasakan dia bagaimana rasanya tidak di anggap.


Aku mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi, aku mengunci pintu kamar mandi dan menyalakan shower.


Sensasi air hangat yang berjatuhan menyentuh kepala dan seluruh tubuh ku membuat aku sedikit releks.


Aku memijat kepala memberikan shampo dan sabun dari atas kepala sampai ujung kuku, aku membilas tubuh ku, aku segera melilit handuk di tubuh ku dan membungkus rambut ku dengan handuk kecil.


Aku membuka pintu kamar dan melihat Audrey sudah tidak ada di kamar ku, biar saja aku berani bertaruh bahwa dia hanya jual Mahal saja, buktinya dia ada di kamar ku tadi.


Aku telah berpakaian rapih dan mengeringkan rambut ku, aku ingin sekali berdandan hari ini, jadi aku memutuskan untuk memakai lipstik berwarna merah, memakai bedak dan maskara, aku juga mengenakan baju terusan ketat yang memperlihatkan bentuk tubuh ku.


Aku berada di meja makan sekarang, aku duduk dan memakan salad sayur yang di buatkan oleh Nina.


"Nyonya?"


"Ya... Nina ada apa?"


"Ada apa dengan nyonya pagi ini?"


"Kenapa?"


"Nyonya terlihat berbeda, makeup nyonya sedikit lebih berbeda, dan pakaian nyonya?? Jangan bilang nyonya sedang menggoda tuan." Ucap Nina yang memang selalu begitu ketika mendapatkan sesuatu yang berbeda.


"Menggodanya? tentu tidak Nina, aku tidak bisa menggoda siapapun, yang ada bukan menggoda malah membuatnya kabur." ucap ku sambil tersenyum dan menyantap salad itu.


Audrey muncul, dia segera menenggak habis air putih hangat di dalam gelas hingga tandas.


Audrey menatapku dengan tatapan geram.


"Tuan, silahkan." Ucap Sinta memberi sepiring sarapan untuk Audrey.


"Terimakasih." Ucapnya tanpa menatap Sinta, dia menatap ku tajam.


"Nina..." Panggil ku pada Nina.


"Iya nyonya."

__ADS_1


"Ambilkan aku satu piring buah lagi."


"Baik nyonya."


Perintah ku mengintrupsi Audrey yang sedang makan.


"Ini nyonya, buah yang nyonya minta." Piring buah itu di letakan di hadapan ku, wajah Audrey mulai berubah saat menatap ku yang sedang menikmati potongan buah kesemek dan peach.


"Uekkk..." Wajah Audrey memerah dan ia segera pergi menuju wastafel, dia memuntahkan semua makanan yang tadi di kunyahnya.


Aku datang menghampiri membawa towel dan segelas air lemon hangat.


Aku menyerahkan towel padanya.


"Minum ini dulu." Ujar ku, Audrey mengambil air lemonnya dan meneguknya sedikit.


"Parfum siapa yang kau pakai?" Tanyanya, dia menatap ku dengan tatapan yang paling ku benci.


"Parfum ku." jujur ku.


Audrey segera memeluk ku dan mengendus leher ku.


"Blevin, bisa kau hubungi Dio untuk membatalkan jadwal ku hari ini, sepertinya aku dirumah saja." Aku hanya mengangkat jempol ku, dan pergi menuju kamar ku, aku juga menyuruh Sinta membereskan makan pagi kami.


Aku mengirim pesan pada Dio dan dia hanya membalas oke.


Pintu kamar ku dibuka oleh Audrey, dan tiba tiba dia tidur di kasur ku, dia tidak mengucapkan maaf atau apapun, dasar memang egois.


"Kau tidak mau mengatakan sesuatu padaku Audrey?" tanyaku.


"emmm." dia hanya mengeram saat ini.


"Dasar egois." ketus ku, dia duduk bersandar pada kepala ranjang.


"Kau mau aku membahas tentang kemarin?"


"Tidak."


"Ya sudah." ucapnya santai dan kembali menutup tubuhnya dengan selimut.


Memang dasar iblis, sudah salah tidak meminta maaf, malah mengambil kesempatan memeluk ku saat muntah!

__ADS_1


Dari pada menggerutu dan membuat ku tambah kesal padanya lebih baik aku pergi dari kamar ini sekarang.


" Blevin!" Suaranya kembali muncul saat aku hendak menutup pintu untuk keluar dari kamar.


"Emmm." Ucap ku singkat.


"Kesini sebentar." Perintahnya.


"Ada apa?" Aku pun duduk di samping dirinya yang masih bergelung dengan selimut.


Tiba tiba dia berpindah haluan, dia tidur di paha ku, karena baju yang ku pakai sangat ketat, jadi paha ku terekspos tanpa helaian kain, aku kaget saat dia mengecup perut ku.


"Emmm Audrey, apa yang kau lakukan?" tanya ku.


"Menyapa bayi ku." Ucapnya singkat.


"Audrey!" Aku segera bangun dari duduk ku dan menghempaskan kepala Audrey.


"Au...Keterlaluan!" Ucap Audrey sedikit marah.


"Apa yang keterlaluan! kau yang keterlaluan! Sudah salah membentak ku kemarin tapi tidak meminta maaf! sekarang seenaknya tanpa dosa kau memanfaatkan ku!" ujar ku ketus.


"Siapa suruh tidak menghargai privasi orang!" Ucapnya tak kalah keras.


"Dasar iblis!"


"Kau sekarang mengandung anak ku, berarti kau ibu dari anak iblis!" ejeknya.


"Tidak Dia anak ku! bukan anak mu!" Ucap ku marah.


"Blevin! Sudahlah lupakan! aku tidak bisa berjauhan dari mu!" Bicaranya sudah mulai lunak sekarang.


"Kenapa?" Dia mengeratkan pelukan pada tubuh ku, dan mengecup pundak ku.


"Aku..."


"Kenapa?" tanya ku kasar.


"Aku 'Berdiri' karena baju mu, sekarang aku butuh dirimu untuk bersama ku." Dasar tidak tahu malu, habis membentak ku malah menginginkan diriku, aku tidak mau!


"Mesum!!!" aku menginjak kakinya dan keluar dari kamar.

__ADS_1


__ADS_2