Straight Devil

Straight Devil
Adakah Kesempatan


__ADS_3

Audrey duduk wajahnya cemas menunggu Blevin membuka matanya, Audrey merutuki kebodohan demi kebodohannya.


"Blevin sadarlah, bukalah mata mu aku berjanji saat kau membuka mata dan menatap ku, kau akan melihat bukti bahwa aku sangat mencintai mu." Audrey menggenggam tangan Blevin yang masih terpasang selang infus.


Keadaan Blevin sekarang menurut dokter sudah lebih baik dari sebelumnya, tekanan darah sudah mulai stabil selang oksigen juga sudah di ganti, Blevin masih perlu bantuan oksigen meski sekarang penggunaannya sudah lebih ringan.


Victoria dan juga Diego datang untuk memastikan keadaan putri yang sekarang hanya tinggal satu, Diego nampak kesal menatap Audrey, matanya tajam menusuk.


"Nyonya Victoria?" Hana bangun dari tempat duduknya saat Victoria berjalan menuju ruangan Blevin.


"Nyonya Hana, bagaimana keadaan putri ku?"


"Dia dalam keadaan yang sudah baik meskipun belum stabil, maafkan kami tuan nyonya, kami tidak bisa menjaga Blevin dengan baik." Ucap Hana memohon maaf pada besannya itu.


Diego menyembunyikan rasa kesal dan marahnya, saat mengetahui Hana merasa sangat bersalah dan lebih terpukul karena masalah ini.


"Nyonya jangan terlalu menyalahkan dirimu, kami sudah menerima semuanya sejak tadi malam." Ucap Diego penuh wibawa.


"Boleh kami melihat putri kami?" ucap Victoria.


"Silahkan Nyonya." Ucap Andi.


Ruangan yang transparan dari luar itu di masuki oleh Victoria, Audrey membungkukkan badan seraya menyapa mertuanya.


"Bagaimana kondisinya Audrey?"


"Maafkan aku Bu, aku mengecewakan mu."


Victoria memeluk Audrey, dia mengelus kepala Audrey.


"Jangan meminta maaf, semua sudah kehendak Tuhan, ini bukan salah mu, lebih baik istirahat sebentar, biar ibu yang menjaganya." Ucap Victoria menyuruh menantunya beristirahat, wajah Audrey sudah pucat dan lelah, bahkan dia nampak kusut.


"Tidak ibu, biar aku menjaga istri ku, dimana ayah?"

__ADS_1


"Ayah ada di luar, nak kau juga harus memperhatikan dirimu, aku tidak mau kau juga ikut sakit nantinya."


Audrey tersenyum seraya menatap istrinya yang belum sadarkan diri.


"Aku tidak akan mengulangi kesalahan untuk ke tiga kalinya Bu, biar aku yang menjaganya, ibu tenang lah."


Hari berganti dengan begitu saja, terkadang Audrey meninggalkan Blevin bersama Hana di rumah sakit, sementara Audrey mengurus urusan kantor.


Victoria selalu datang di pagi hari menggantikan Audrey, saat siang hari Victoria akan pulang dan di gantikan oleh Hana, di sore sampai pagi menjelang Audrey akan setia menemani Blevin yang masih belum sadarkan diri.


Perlahan Audrey menggantikan baju sang istri yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Kenapa kau tidak juga membuka mata mu, kau membenci ku Blevin?"


Audrey menyingkirkan rambut yang Blevin yang kusut dan lepek, sudah 4 hari Blevin terbaring.


"Maafkan aku, aku terlalu berambisi, seharusnya aku jujur, bahwa aku hanya takut dirimu menemukan hal lain yang membuat mu bahagia dan akan meninggalkan aku."


Audrey terbangun dan menatap istrinya yang sudah membuka mata, Blevin pada akhirnya sadar, Audrey tergesa memanggil suster.


Dokter masuk diiringi para suster.


"Tuan, istri anda dinyatakan sudah stabil dan sudah sadar, tapi keadaan sangat lemah, saya harap anda bisa membantu untuk menjaganya.'


"Tentu dokter, apa yang harus saya lakukan?"


"Malam ini saya akan berikan obat, besok pagi tolong jelaskan kepadanya akan situasi yang ada dengan perlahan, saya tinggal ya.. " Pamit sang dokter bersama suster yang telah menyuntikan obat pada Blevin.


Blevin hanya terdiam saat Audrey berada disisinya, Audrey dan Blevin terjaga sepanjang malam tanpa sepatah kata sedikit pun.


Semua orang berkumpul di ruang rawat Blevin yang lebih tertutup dibandingkan ruangan observasi sebelumnya.


"Syukurlah kau sudah sadar anak ku." Ucap tuan Diego sambil memeluk putrinya.

__ADS_1


"Ayah kau disini?"


"Ya sayang ayah berada disini untuk mu."


" ayah, bisa jelaskan sesuatu pada ku, apakah bayi ku baik baik saja? mengapa aku merasa hampa?"


Semua orang saling bertatapan termasuk Audrey yang menatap sang ibu dengan wajah sedih, Tuan Diego dan yang lainnya sadar bahwa mereka berdua butuh ruang, akhirnya para orang tua pergi mengosongkan kamar itu.


"Saat aku memberi tau mu apa yang terjadi berusahalah untuk tidak menyalahkan siapapun, aku hanya ingin kau tau, bahwa kau adalah segalanya bagi ku."


Blevin hanya diam tertunduk menatap Audrey.


"Janin mu sudah gugur, aku yang menyetujui tindakan kuretase pada mu, aku tidak punya pilihan selain menyelamatkan mu, Blevin aku tidak sanggup melihat mu menahan sakit."


Air mata menetes saat tidak di pinta, Blevin mencoba untuk tetap kuat dan tersenyum.


"Tapi kau sudah terlanjur membuat ku sakit Audrey, tidak ada yang bisa kita pertahankan, dia sudah tidak ada di tubuh ku, besok pengacara ku akan datang menemui mu, ku harap ini jalan terbaik untuk kita."


"Blevin, kau mau kita berpisah? kau mau nama keluarga mu tercemar?"


"Audrey, beri aku satu alasan untuk tetap tinggal di sisi mu, jika itu tepat maka aku bersedia memulai semuanya dengan mu kembali."


"Alasan mengapa kau harus terus bersama ku adalah, karena kau adalah kelemahan dan ambisi ku, sejak dulu sampai detik ini, seorang yang membuat ku terus berambisi selain Audrina adalah kau, aku tidak bisa mencapai posisi ku sekarang jika bukan karena perbedaan kita yang terlalu jauh, aku mengejar mu dengan berbagai pencapaian, agar terlihat pantas bersanding dengan mu, satu hal lagi, aku benci saat pria di universitas menatap mu dengan penuh minat."


"Itu bukan alasan yang ku inginkan, Audrey aku butuh seseorang yang mampu melindungi ku, yang mampu memberikan rasa nyaman dan kebahagian, tapi selama aku mengenal mu, hanya ada rasa yang membelenggu dan entah itu apa, Ku pikir aku bisa memperbaiki hubungan dengan mu nyatanya? semua hanya semu kau terlalu sungkan membiarkan aku masuk."


"Blevin, beri aku satu kesempatan lagi untuk membuktikan bahwa aku tidak bisa hidup tanpa mu."


"Tidak, kau bisa hidup tanpa ku sebelumnya, dan sekarang jalani hidup mu seperti dulu saat kau belum mengenal ku, beri aku waktu dua Minggu untuk memikirkan semuanya, sekarang pergilah, aku akan tinggal di rumah ibu beberapa Minggu, tanyakan pada hatimu siapa aku sebenarnya disana."


Blevin enggan melihatnya mata berkaca milik Audrey, dia menutup matanya perlahan menghilangkan bayang wajah Audrey yang masih singgah.


"Maafkan aku Audrey tapi aku butuh waktu." ucap Blevin dalam hati terdalamnya.

__ADS_1


__ADS_2