Straight Devil

Straight Devil
Kuda Baru


__ADS_3

Hari ini Blevin bangun sangat pagi, biasanya dia bangun pukul 7 tapi kini pukul lima dia sudah bangun, dua jam lebih pagi.


Blevin bergegas ke halaman belakang, menyiapkan pakan untuk James, dia juga membuat susu vitamin untuk ketangkasan James.


"Ayo James anak kesayangan mama, kau harus sehat, aku akan mengurus mu selama di sini." ucap Blevin dengan sangat lembut penuh kasih sayang.


"Nona, ini peralatan untuk memandikan James, saya akan membantu." Blevin tersenyum dengan manisnya pada pak Ali, pria paruh baya itu begitu mahir memandikan James, bahkan jerami yang penuh kotoran sudah ia bersihkan.


"Pak Ali, apakah minyak untuk tubuh James masih ada?"


"Ada nona, sebentar saya ambilkan." pak Ali segera mengambilnya, minyak rambut untuk James fungsinya agar James terlihat mengkilap dan tidak terkena jamur.


"Pak Ali, apakah James juga harus di potong kuku?"


"Iya nona, sepertinya begitu, saya akan memotongnya sebentar."


Ketika pak Ali sudah selesai memotong kuku James, sebuah mobil bak besar datang membawa mahluk hidup didalam sebuah peti kayu yang berada di dalamnya.


"Siapa yang menyuruh kalian mengantar ini ke sini? apa isinya?" tanya Blevin yang nampak marah, kerena secara tiba-tiba mereka datang mengusik ketenangan James.


"Benar dengan kediaman Clark?"


"Iya benar, saya Blevin Victoria Clark." ucap Blevin.


"Jadi kau nyonya Audrey? dimana suami mu, dia yang meminta ku untuk mengantar kuda betina untuk mu."


Dan sesaat kemudian sebelum Blevin menjawab, Audrey sudah menyapa orang tadi.


"Hai, Raga, datang juga Lo, lumayan pagi, gue kira akan datang nanti sore." ucap Audrey.


"Dimana tuan Diego?"


"Ayah ada di dalam, oh ya... Lo bawa apa yang gue pesan semalam kan?"


"Tentu, emang Lo gak liat, gue bawa truck sebesar itu di belakang super car gue?" Raga memang selalu begitu, usaha resort, peternakan kuda, pertanian bahkan beberapa pabrik pupuk, dia menjadi orang yang sedikit glamor dan menyebalkan.


"Yaudah, turunin aja, gue mau liat bagaimana kondisinya." Audrey tidak sabaran dengan kuda yang ia pesan.

__ADS_1


"Sesuai dengan kemauan dirimu tuan murah senyum." ucap Raga, orang yang Raga bawa segera menurunkan kuda itu.


"Bagaimana, warna coklat seperti yang lo minta, ada warna putihnya bukan? dan tentu saja dia kuda unggulan yang gue punya, dia belum pernah melahirkan, usianya muda dan lo lihat dia sangat sehat."


"Gue suka kerja Lo, kalau gitu gue transfer uangnya sekarang." ucap Audrey, dia segera mengambil ponsel dan membuka aplikasi bank miliknya.


Tertera angka yang cukup fantastis disana.


Blevin yang sejak tadi hanya bisa mengelus kuda coklat berbuntut hitam itu melafalkan beberapa kecaman pada Audrey, walau sebenarnya Blevin juga suka kuda yang baru di beli suaminya itu.


"Blevin? kau diam saja? tidak mau menyambut anak baru mu?" tanya Audrey yang sedikit meledek, Audrey sedikit mendengar perbincangan Blevin kemarin sore.


"Aish... anak baru?" tanya Raga.


"Ya... dia anak barunya, James selalu dianggap anak olehnya, siapa nama kuda itu?" tanya Audrey pada Raga.


"Jeny, dia kuda yang malang sebenarnya, bokap gue hampir saja menjualnya dengan orang asing, tapi dia kuda kesayangan gue, dari lahir Jeny gak pernah dapet asi dari ibunya, jadi gue yang rawat dia intensif dengan susu formula."


"Bapak yang baik." ucap Audrey dengan nada sedihnya yang di buat buat.


"Dan Lo real papa bro." tukas Raga, dan Audrey hanya tersenyum kecut.


Dari James, Blevin mulai beralih pada Jeny, Blevin belum tau namanya Jeny karena tadi Audrey dan Raga berbicara tidak terlalu keras.


"Hay, siapa nama mu anak manis?" tanya Blevin sambil memijat sedikit kepala Jeny.


"You look so beautiful, honey." Blevin mencium kepala Jeny. Seaat perlakuan manis Blevin harus terhenti, Raga berpamitan kepada Blevin dan Blevin mencoba bersikap ramah, namun tetap saja wajahnya terlihat seram.


Audrey datang menghampiri Blevin.


"Namanya Jeny, dia kuda yang tidak memiliki ibu, sejak kecil dia tinggal sendiri di peternakan, dan sekarang dia punya keluarga dia tidak kesepian lagi, dia punya ayah, ibu dan teman hidup." ujar Audrey dengan lembut, dia mengelus kepala Jeny dan James.


"Maksudnya?" tanya Blevin.


"Ya... aku ayahnya dan kau ibunya anggap saja begitu, dan kau bisa berlatih dari mereka jika ingin punya anak suatu hari nanti." ujar Audrey asal.


"Kau gila? kau saja yang punya anak kuda, aku ingin punya anak manusia!" kesal Blevin, dan kalimatnya selalu menjadi sumber ide jahil Audrey.

__ADS_1


"Aku bisa membuatkannya untuk mu, kau bersedia?" Ucap Audrey dengan cengiran jahilnya, masa bodo dengan tingkah Audrey, Blevin memilih untuk memasang pelana pada James.


"Blevin, tunggu, tidak maukah kau mengajakku?"


"Tunggangi saja Jeny, jangan ganggu waktu ku dengan James!" seru Blevin.


"Ya sudah, pak Ali adakah pelana lagi, milik James mungkin?"


"Tidak ada tuan, pelana lainnya sudah rusak dan nona belum menyuruh ku untuk membelinya." ujar pak Ali dengan jujur, karena sengaja memang Blevin tidak menyuruh pak Ali membelinya, sebab Blevin akan memilih sendiri pelana untuk James.


Blevin sudah jauh mengitari halaman belakang dan depan, namun Audrey serasa menyerah, karena baru saja menunggangi Jeny tanpa pelana sudah membuat bokongnya sakit.


"Kau menyerah?" tanya Blevin.


"Lumayan juga, tanpa pelana terasa tidak nyaman." jujur Audrey.


"Aku akan memesankan pelana untuk Jeny, besok lusa mungkin sudah bisa di kenakan, oh ya kau mau ikut berlatih bersama di pacuan?" tawar Blevin, kali ini dia akan mencoba menantang Audrey.


"Boleh, kau tidak keberatan?"


Blevin menggeleng.


"Tidak, karena kau tidak akan terlibat dengan ku, Seseorang akan mengajarkan mu menunggang kuda dengan benar, sekarang beristirahatlah, tubuh mu masih lemah, setelah di tuduh menyembunyikan anak orang, oh ataukah kau memang menyembunyikan nya."


Terlihat kesal di wajah Audrey saat istri itu kembali mengingatkannya akan Haruka.


Ponsel Audrey berbunyi pesan dari Ridwan mata mata yang Audrey kirim untuk mencari tau keberadaan Haruka


Ridwan.


Tuan Audrey, nona Haruka sudah di temukan, dia berada di sebuah pondok, dia sendiri disana, kondisi sungguh menyedihkan, banyak luka lebam di bagian wajah dan lengan.


Audrey.


Bawa dia pergi dari tempat itu, berikan perawatan terbaik untuknya, dan ingat jangan pernah beri tau siapa dirimu, bilang saja kau hanya kasihan melihatnya.


Ridwan.

__ADS_1


Baiklah tuan akan segera saya laksanakan.


Lalu Audrey melangkah menuju ke dalam rumah untuk menikmati sarapan, setelah itu istirahat.


__ADS_2