Straight Devil

Straight Devil
Pertanyaan Menjebak


__ADS_3

Seminggu sudah aku berada di rumah ini, setelah makan malam itu, semua pelayan melirik ku secara sinis, sepertinya akulah yang antagonis disini, sementara yang mereka anggap nyonya besar itu adalah protagonis.


Aku mendapatkan ide hari ini, aku akan menelpon pak Ali untuk membawa James dan Jeny ke sini, halaman belakang cukup luas, sepertinya cukup bagus jika mereka berada disini, dari pada berada di rumah kedua orang tua ku, mereka hanya akan menjadi koleksi mewah saja.


"Pak Ali, aku sudah menelepon salah satu teman ku, aku mau sekarang juga James dan Jeny di kirim ke sini secepatnya!" ujar ku dengan nada bossy ku.


"Baik nyoya, tapi bagaimana dengan kandang? apakah disana kau memiliki kandang?"


"Aku akan merawatnya di garasi paviliun untuk sementara waktu."


Saat aku menelepon seperti itu, para pelayan itu menguping dan menatap ku sinis, bahkan mereka seperti membicarakan ku di belakang.


Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam, aku menyiapkan berbagai macam hidangan, dimeja makan ada Audrey dan Haruka, aku melayani Audrey, berusaha menenangkan dirinya.


Audrey marah saat dia melihat Jeny dan James berada di garasi belakang, garasi itu biasanya menjadi tempat parkir untuk tamu Audrey.


Sebenarnya bukan karena alih fungsi dari garasi itu, tapi karena Haruka tidak suka kuda dan aroma tubuh kuda yang menyengat.


"Blevin! siapa yang menyuruh mu untuk membawa mereka kesini!" Audrey membentak ku.


"Kenapa? kau marah atau tidak suka jika nyonya mu terganggu?" jawab ku asal.


"Blevin! kita tidak memiliki kandang saat ini, kau tidak bisa menaruhnya di garasi, lagi pula tidak ada yang mengurusnya saat ini." ucap Audrey kasar.


"Aku yang akan merawatnya! dan masalah kandang aku akan meminta ayah untuk membuatnya disini!" ucap ku tak kalah marah, Haruka memang hanya mematung dan diam, tapi dia benar benar membuat kesempatan, dia minta pindah ke rumah utama, dan itu segera di setujui oleh Audrey.


Makan malam berakhir dengan keheningan, aku malas berdebat dengan iblis itu, semakin hari semakin aku tidak mengerti mantan supir ku yang naik tahta menjadi suami ku ini.


Aku kelantai atas menuju kamar ku, dan ketika aku hendak membuka pintu Haruka juga keluar dari kamarnya.


"Haruka, kenapa kau keluar dari kamar itu? kamar suami mu bukannya kamar di ujung sana." ujar ku, masa bodo Haruka bahkan tidak tau siapa aku kan? Aku sudah tidak perduli dengannya, aku membuka kamar ku dan membanting pintu itu.


Di dalam kamar, aku menggambil biola kesayangan ku, sudah lama aku hanya menyimpannya kira kira terakhir aku bermain saat SMP, aku berhenti karena kata ayah bermusik hanya akan menciptakan suatu hal yang tidak berguna, ayah tidak perduli betapa kerasnya aku berusaha, dia akan selalu menggagalkan semua lomba musik ku.

__ADS_1


Mengingat masa itu, aku sangat sedih tidak ada yang mau mendengarkan ku, rasanya sakit sekali, apalagi saat ayah dan ibu mengirim ku ke Amerika, hati ku hancur memang aku yang salah, karena selalu membolos hanya karena ingin bermain biola di jalan untuk membantu teman sekelas ku yang kekurangan biaya, atau karena perlombaan.


Dengan menghadap ke jendela, aku mulai menggesek senar pada biola, sebenarnya aku rindu saat seperti ini, tapi aku tetap tidak bisa bermain lagi, aku memilih untuk berhenti dan hanya menyimpan semuanya menjadi kenangan saja.


Pagi hari ini aku menyiapkan sarapan untuk Audrey, masa bodo mau dimakan atau tidak yang jelas aku sudah menyiapkannya.


Haruka juga ada di dapur, dia membuat sesuatu.


"Untuk siapa?" tanya Haruka.


"Untuk Audrey." ucap ku singkat.


"Audrey? Audrey tidak suka sarapan dengan roti, dia biasa hanya minum jus dan makan bubur gandum." Aku menatap mata wanita itu dengan lekat, aku tau dia sudah menyiapkan semuanya di nampan, jus dan bubur gandum lengkap!


Audrey datang berada di belakang Haruka, dan saat itu juga aku mengambil tindakan.


"Kau sungguh tau apa yang di sukai olehnya, dan sepertinya roti isi ku sudah tidak bisa di makan lebih baik ku buang saja ke tempat sampah." ujar ku dan blesss....


roti itu mendarat sempurna di dasar tempat sampah.


"Lebih baik aku yang membuangnya sendiri di bandingkan dengan orang lain yang membuangnya!" ujar ku, lalu aku pergi dengan langkah lebar menuju halaman belakang melihat James dan Jeny.


Aku menatap mereka dan memberi makan mereka, aku senang akhirnya aku bisa bersama dengan mereka.


"Anak mama, akhirnya mama bisa mengurus mu sendiri, James kau betah tidak berada di sini? terlihat asing ya??? sama aku juga merasa asing di tempat ini, aku akan meminta pada kakek untuk kembali ke Amerika saja atau bekerja di perusahaan ayah bersama paman."


"Disini kau rupanya?" Itu suara Audrey, aku hanya diam mengamati James aku tidak perduli dan meniadakan Audrey saat ini.


"Kau tidak sarapan?" tanya Audrey lagi.


"Apa perduli mu?" ujar ku.


"Blevin, kau marah? kenapa? karena perlakuan ku pada Haruka?"

__ADS_1


Aku menggeleng, aku kembali diam.


"Baiklah jika kau tidak mau bicara, aku pergi." Audrey melangkahkan kakinya, dan aku akan meminta sesuatu kali ini.


"Aku mau ke Amerika." ucap ku.


"Untuk apa?"


"Bertemu kakek."


"Tidak Blevin, kau tetap harus bersama ku disini!" tegasnya.


"Kalau begitu aku akan bergabung mengelola perusahaan bersama paman."


"Itu juga tidak boleh!"


"Tawaran terakhir Audrey." ujar ku lalu Audrey menatap ku.


"Apa?"


"Usir wanita itu keluar dari rumah kita, atau ceraikan aku saja, pilihan yang mudah bukan!"


Audrey menatap ku tajam, tatapan membunuhnya, dia benar benar terlihat seperti iblis sekarang.


"Kenapa? aku tidak meminta mu untuk membunuhnya, ataukah kau memang mencintai dia?" Marah ku pada Audrey, saat ini aku benar-benar ingin pergi secepatnya.


Aku menghubungi sebuah nomer di ponsel ku, aku hendak menghubungi maskapai penerbangan guna memesan tiket untuk hari ini.


"Sediakan tiket Jakarta Amerika secepatnya!" Lalu Audrey merampas ponsel ku.


"Jangan siapkan apapun, karena nona ini tidak akan pergi kemana pun sekarang!" ucap Audrey pada suara disana, Audrey membanting ponsel ku ke tanah, dan pecah berhamburan.


"Dasar iblis sialan! Aku bukan tawanan mu Audrey! Aku tidak bisa bertahan dengan segala pemikiran mu!" ucap ku, namun Audrey menarik ku menuju kamarnya, dia mengunci pintu dan membanting ku ke ranjang miliknya.

__ADS_1


"Kau tidak bisa bertahan dengan sikap dan pemikiran ku atau karena Haruka?" Dan aku diam seribu bahasa, pertanyaan menjebak apalagi ini Audrey!


Jika aku menjawab Haruka! maka Audrey akan salah paham, tapi jika aku menjawab karena sikap dan pemikiran Audrey, kenapa aku melibatkan Haruka dalam pertengkaran ku?


__ADS_2