Straight Devil

Straight Devil
Manchester


__ADS_3

Satu bulan berlalu, kini aku, Blevin bersertakan Dio juga Aris orang baru kami yang menangani pekerjaan ku disaat aku sakit, berada di Manchester.


Blevin sejak tadi terlihat sangat khawatir, aku mencoba menggenggam tangannya, dia masih syok mendapati tasnya hampir hilang di bandara tadi.


"Tenanglah, kita sudah berada di hotel sekarang, kau bisa menghubungi Zain sekarang." ujar ku, aku memilih untuk beristirahat sementara Blevin mencoba mencari tau dimana keberadaan Zain saat ini.


Jika orang jatuh cinta mungkin akan bersyukur jika Blevin mengalami patah hati, tapi aku? aku seakan juga ikut tertekan saat dia menangis bulan lalu, aku berusaha untuk segera sembuh agar tidak merepotkan dia yang sedang patah hati, satu Minggu lamanya ternyata aku baru bisa kembali beraktivitas.


"Audrey... Zain tidak dapat dihubungi sama sekali, aku harus bagaimana?" Blevin terlihat frustasi saat ini, aku membingkai wajahnya dengan kedua tangan ku agar dia bisa menatap ku.


"Besok kita akan mencarinya, waktu dua hari cukup untuk meninjau bangunan itu, besok aku akan menemani mu, jadi sekarang istirahat saja."


"Kau janji akan menemani ku kan?"


"Iya, aku tidak pernah berbohong padamu." ucap ku sedikit kesal, memang segitu cintanya kah dia pada Zain?


Rabu pagi aku dan Blevin akan mencari makan pagi di sebuah kedai, tidak terlalu mewah, aku sengaja mengajak Blevin tidur di hotel bintang tiga, makan sederhana dan tidak menyewa mobil saat ini, aku mau dia melupakan sebentar kemewahan, dan siapa tau dengan cara berjalan begini fokusnya pada Zain teralihkan.


Selesai sarapan aku dan Blevin terpisah dari Aris dan Dio, mereka memiliki urusan tersendiri terhadap klien ku itu.


Aku dan Blevin berjalan kearah Manchester Art Gallery, cukup lama kami disana, lalu kami sekarang berada di sebuah restoran yang lumayan megah dan terkenal di sekitar sini.


Blevin cukup banyak memesan, sementara aku hanya menikmati sepotong dada ayam dengan saus jamur.

__ADS_1


Tiba-tiba Blevin menghampiri sebuah meja dan melempar gelas yang di bawanya ke lantai.


"Blevin?" Aku kaget yang di tuju Blevin saat itu adalah Zain.


"Hilang sudah rasa percaya ku pada mu Zain! mengapa kau melakukannya? kau menghianati ku Zain! Jika ini yang kau mau, baiklah." Blevin pergi dari hadapan Zain tanpa kami yang berada di sana memiliki jeda untuk mencegahnya.


Aku meninggalkan beberapa lembar uang di meja untuk membayar selebihnya aku mengejar Blevin yang menaiki sebuah taksi menuju hotel.


Aku tenang sekarang walau aku melihat Blevin begitu terluka, aku tidak tau apa rasanya patah hati, mungkin sangat sakit.


Melihat orang yang paling kau cintai melamar seorang gadis dihadapan banyak orang, kemudian orang yang kau cintai itu mencium bibir dan berlutut dihadapan orang lain dan itu bukan kamu, bagaimana rasanya?


Tanpa bertanya atau mengeluarkan sepatah kata pun aku mengelus pundak Blevin dan Blevin secara cepat memeluk ku dia menumpahkan seluruh air matanya di pundak ku, jaket ku juga basah karenanya.


"Malam ini aku, Aris dan Dio akan pergi ke rumah milik klien ku, kau mau ikut atau disini?" tanya ku lembut.


"Boleh aku ikut?" Aku tersenyum dan mengangguk.


Jam menunjukkan pukul 7 waktu setempat, Blevin dan aku sudah bersiap, aku menghadiahkan sebotol wine dari tahun 1880, pada tuan Saga dia klien ku yang sangat royal dan baik.


"Good evening Mr. Saga, how are you? "tanya ku kami di sambut hangat di sini.


"Introduce her my wife, Blevin." Aku memperkenalkan Blevin padanya, kami sedikit membahas rencana pembangunan di Utara Manchester.

__ADS_1


"Your wife is very wise, I like her. She also looks good at talking to childrens." (Istri mu sangat bijaksana dan dia juga terlihat baik saat berbicara dengan anak anak.) Mr Saga memang memiliki dua anak kembar, dan Blevin sangat baik menghadapi mereka berdua, Mr Saga merupakan seorang duda, istrinya berselingkuh dan meninggalkan dirinya.


"So how many children do you plan to have?" (Jadi kalian berencana memiliki anak berapa?) Tanya Mr Saga kembali, itu membuat Blevin tersedak.


"Tidak papa, jangan di jawab." bisik ku pada Blevin, menurut ku cukup tersenyum saja.


Kami berpamitan setelah makan malam selesai.


Hari mulai larut dan saat ini Blevin mulai terpengaruh oleh minuman tadi, dia minum terlalu banyak, dan berimbas pada ku yang harus menggendongnya menuju kamar hotel kami.


Baju yang Blevin kenakan adalah gaun malam sederhana, gaun itu cukup merepotkan di saat dia mabuk, gaunnya terlalu ketat.


Aku terpaksa harus membuka gaun itu dan menggantinya dengan baju tidur.


Aku sudah berhasil membuka gaunnya, tapi tanpa di duga, Blevin malah memeluk ku dan dadanya menyentuh dada ku, yang kini hanya memakai t-shirt tipis.


Aku hanya diam, namun sesaat Blevin malah mencium bibir ku dengan sangat lembut dan tenang, lalu air matanya turun, benarkan dia sedang kacau saat ini, pasti dia sedang bermimpi mencium Zain.


"Zain, kau rasakan ciuman ini penuh cinta bukan? lalu mengapa hanya karena hal sempele macam ini kau tega pergi dari ku! ataukah kau sebenarnya tidak pernah mencintai ku Zain, kau hanya..."


Jangan bicara Zain lagi Blevin aku tidak suka, dengan emosi yang mulai muncul aku membalas setiap sentuhan Blevin di tubuh ku, dia bahkan menyuruh ku untuk menyentuhnya malam itu, aku segera sadar yang di bayangkan Blevin bukan aku tapi Zain, aku tidak bisa menyentuhnya dan aku berhenti secepatnya.


"Blevin tidurlah, aku akan keluar sebentar."

__ADS_1


Blevin kembali tertidur, setelah aku mengganti baju miliknya.


__ADS_2