Straight Devil

Straight Devil
Audrey yang Menyadari


__ADS_3

Hari ini aku merasa sangat kesepian, entahlah mungkin 3 Minggu tidak bertemu dengan Audrey membuat ku cukup merindukannya.


Aku rindu sangat rindu dengan Audrey, bahkan serasa aku sesak nafas. Semenjak Audrey membahas masalah surat cerai itu, dia tidak lagi menganggu ku, bahkan dia tidak lagi menghubungi ku.


Malam ini aku memutuskan untuk mandi karena badan ku sungguh amat lengket, sedari pagi aku belum mandi karena merasakan hawa dingin yang begitu menggigit kulit.


Aku berendam di dalam bathtub, mungkin dengan aroma mawar tubuh ku akan sedikit releks.


Aku memejamkan mata, namun tangan kekar dan telapak yang sedikit kasar dan tebal menyentuh pundak dan memijat kepala ku, sontak aku kaget dan menggenggam tangan itu erat, kurang ajar sekali dia beraninya masuk kedalam kamar mandi ku!


"Hey... siapa kau beraninya masuk kesini! aku akan membunuh mu!" ucap ku kasar, namun ketika aku membuka mata, aku tersenyum dengan gembira, rasa marah ku luntur, aku malah memeluk si pemilik tangan itu.


"Sudah lepas, bajuku basah semua, ataukah kau mengundang ku untuk mandi bersama?" ujarnya.


"Audrey, aku merindukan mu." aku memeluknya erat tanpa perduli bagaimana kondisi ku.


Mungkin agak sedikit aneh terdengar, aku sudah memaafkan Audrey dengan semua kebohongannya, entahlah hati ku menuntun agar aku bisa bersamanya saat ini.


"Em... Aku juga lelah dan belum mandi, bagaiman jika kita mandi bersama?"


Aku menatap mata Audrey, dan aku mengambil jubah mandi ku, aku melangkah keluar kamar mandi.


"Tidak! aku sudah mengantuk, kau saja yang mandi." Ucap ku sinis, kenapa mood ku jadi seperti ini sekarang?


Aku beranjak mengambil pakaian tidur, aku ingin menggunakan baju tidur yang di berikan oleh ibu mertua ku sebagai kado pernikahan kami.

__ADS_1


Setelah mengenakan baju itu, aku segera menggulung selimut memenuhi badan ku, tak selang lama Audrey keluar dengan aroma shampoo dan sabun, uhhh... menghirup aromanya saja aku sudah tidak tahan, aku ingin lebih dekat dengannya.


Audrey mengenakan piyama yang sudah ku letakan di sisi tempat tidur lainnya, setelah itu dia berbaring di sebelah ku.


Tangan kekarnya itu mulai merengkuh ku, menciumi pundak ku yang terbuka, karena baju yang ku kenakan hanya memiliki tali spaghetti, Audrey mengeram, dan rengkuhannya tambah erat, aku membuka mata dan berbalik, pandang kami bertemu.


"Kita perlu bicara." ucap Audrey, aku tidak mau Audrey membahas apapun malam ini, sudah cukup bagiku dia pergi selama 3 Minggu ini.


Cup..., Audrey membalas ciuman ku, dia seperti seorang yang benar-benar haus akan sentuhan.


Dia menjamah ku dengan sensual, sampai aku mengeram , saat kedua tangannya menjelajah tubuh ku.


"Ahhh... Audrey."


"Kau duluan yang menggoda ku, maka kau juga yang harus mengakhirinya." ucapnya dengan suara parau, mungkin sesuatu dalam dirinya tidak bisa ditahan lagi.


"Ku harap tadi adalah tanda kita saling memaafkan." ujarnya, matanya menatap mata ku tapi tangannya mengelus perut ku.


"Hentikan, itu geli Audrey." ucap ku.


"Kenapa tubuh mu sepertinya sedikit membesar? kau bahagia sekali ya tidak ada aku?" selidiknya.


"Aku selalu makan banyak akhir akhir ini, mungkin itu penyebabnya, kenapa kau bertanya seperti itu, kau tidak suka tubuh ku yang gemuk?" Ujar ku.


Dia mengecup perut ku, singkat.

__ADS_1


"Kau bukan gemuk karena nafsu makan." ujarnya.


"Hah?"


"Kau sedang hamil saat ini Blevin." Aku hanya diam dan mematung, apa maksudnya?


"Aku punya alat tes kehamilan di lemari, kau mau mengeceknya?" Aku mengangguk dengan Wajah ternganga.


Dia berjalan menuju lemari dan mengambil benda itu.


"Ayo lakukan." Aku mengenakan kembali baju ku, yang di buang Audrey tadi, dan aku menuju kamar mandi sekalian membersikan diri.


Aku berdiri di depan kaca kamar mandi, dan Audrey yang penasaran berada di belakang ku, aku mengamati benda itu.


Audrey merengkuh ku dari belakang seraya mengecup tengkuk dan kepala ku.


"Seperti dugaan ku, terimakasih sudah mau menjaganya selama aku tidak ada, jadi sekarang tetap jaga dia sampai berada di dunia, aku mencintai mu."


Air mata ku turun, bagaimana bisa aku tidak mengetahuinya, kenapa Audrey yang baru datang segera tau.


"Berapa lama kau tidak datang bulan?" Tanya Audrey diakhiri pelukan kami.


"saat kita berhubungan terakhir kali, sebelum kita bertengkar." ucap ku.


"Berarti usianya sudah lebih dari 8 Minggu, besok kita pastikan lagi, kita akan pergi ke dokter, malam ini istirahatlah, ayo."

__ADS_1


Kemudian kami melanjutkan tidur, sampai menunggu hari terang.


__ADS_2