
Aku hanya terdiam melampiaskan rasa marahku pada sepiring makanan yang di beli Audrey di pinggir jalan tadi.
Pedas dan gurih serta tambahan kecap menjadi rasa yang sangat ajaib di mulut ku, aku tidak bisa berhenti mengunyah.
Aku ingin marah saat ini pada Audrey, kenapa dia bisa berfikir seperti itu, jelas sosok my B yang dia maksud itu bukan aku tapi Bella.
Air mata ku menetes dengan derasnya.
"Nak, kau disini? bapak ingin bicara sesuatu tentang pekerjaan bapak." Aku menghapus air mata ku, seraya mengangguk menyapa pak Ali.
"Silahkan pak ada apa?"
"Bapak mau mengajak anak bapak yang nomer 4 untuk tinggal di sini, bersama bapak."
Ini bukan rumah ku, tuan rumahnya adalah Audrey, dia yang mengambil semua keputusan, meski aku memecat beberapa pelayan tempo hari.
__ADS_1
"Kenapa pak? bukankah anak bapak juga sekolah di kampung?" tanya ku.
"Anak bapak sudah lulus SMA, dia mau cari kerja disini, kalau bisa untuk sementara dia tinggal disini, sampai dapat kerja."
"Yasudah, nanti saya bilang sama Audrey untuk menampung sementara waktu anak bapak, tapi saya gak janji Audrey mengizinkan atau tidak." Ucap ku dengan suara serak dan ingus yang muncul.
"Iya nak, kamu habis menangis?" tanyanya mengamati wajah ku. Aku mengangguk dan kembali menegaskan air mata.
"Kamu bisa cerita sama bapak nak, barang kali bapak bisa memberi masukan."
"Bapak pernah hidup dalam bayangan orang lain? bagaimana rasanya dianggap menjadi atau di paksa menjadi orang lain?"
"Iya pak, tapi mungkin ini bukan sepenuhnya kesalahan Bella. Bapak tau betul dari dulu ibu dan ayah selalu saja membuat saya menjadi sosok yang kuat, tegar, pintar, berambisi sehingga membentuk karakter saya yang sekarang, keras kepala, susah diatur, bahkan saya menjadi anak yang pembangkang, lalu tiba tiba seseorang datang dan mengatakan bahwa dia mencintai saya dengan sosok Bella, yang selalu penurut, penuh kasih, lembut dan selalu disukai orang banyak. Bapak bisa bayangkan bagaimana kacaunya saya."
"Nak, Bella bukan kenyataan yang kamu lihat, Bella sebenarnya adalah sosok kamu yang sekarang." Sanggah pak Ali lembut kepadaku, aku tidak tau apa yang sebenarnya dia bicarakan.
__ADS_1
"Maksud bapak?"
"Bella pernah bercerita pada bapak saat pertama kali kembali ke Indonesia, Bella bilang dia sangat iri kepada saudara kembarnya, yaitu kamu, dia begitu ingin menjadi sosok mu yang selalu ceria, baik hati, tulus dan menghormati orang lain, dan bapak saat itu hanya bisa bilang, semua orang menyukai karakter orang lain berdasarkan apa yang tercipta dari diri sendiri bukan dari copyan orang lain."
"Lalu Bella katakan apa?"
"Dia tidak mengatakan apapun, dan besoknya dia malah berubah drastis, dia yang murung berubah jadi ceria, dia yang susah minum obat, jadi gampang untuk minum obat, sejak saat itu tuan dan nyonya menjadi lebih perhatian dan terfokus padanya."
Aku diam, aku tidak tau rasanya apa, bahkan saat pak Ali pergi meninggalkan ku, aku masih bertanya, Apakah benar yang pak Ali katakan bahwa Bella memiliki rasa iri dengan ku, padahal selama ini aku yang selalu berdebat dengan hati ku karena karakter Bella, Bella selalu merenggut perasaan sayang dan perhatian dari ibu.
Aku meminum teh yang di siapkan oleh Sinta.
"Sinta, Audrey sudah kembali?" tanya ku, karena sedari kepulangan ku dari kantornya sampai selarut ini aku belum beranjak dari halaman samping, aku merasa mendapat ketenangan disini, menatapi jajaran anggrek dan bunga mawar yang ku tanam.
"Tuan sudah pulang sejak nyonya meminta teh." Sejak aku meminta teh? berarti sejak dua jam lalu, tapi kenapa dia tidak menemui ku, mungkinkah dia masih marah hanya karena perkara sempele tadi.
__ADS_1
"Yasudah Sin, tolong bereskan ini semua saya mau ke kamar." Ucap ku seraya bangun dari duduk ku, aku masuk ke kamar, bukan ke kamar Audrey tapi ke kamar yang pertama kali ku tempati di rumah ini.
Aku mengganti baju dan menyelimuti badan ku dan tertidur dengan nyenyak, biar saja jika Audrey memang tidak ingin melihat ku, aku juga tidak ingin meminta maaf atau apapun padanya.