Straight Devil

Straight Devil
Nampaknya Zain


__ADS_3

Koper dan seluruh perlengkapan mereka selama di Maladewa sudah dimasukan semua kedalam bagasi mobil, mereka tetap berangkat karena semalam Blevin meyakinkan orang tuanya bahwa hubungan mereka akan membaik, dan nyonya Victoria memang selalu memaksa Blevin untuk bertanggung jawab dengan apa yang telah di perbuatnya.


Blevin masih masih dalam mode diamnya saat mereka sudah berpamitan, dia sedikit menatap ibunya.


"Jangan menatap ku seperti itu ibu." ucapnya kasar.


"Aku akan menjaganya seperti janji dimana aku memintanya pada mu ibu, kami pergi."


Ucap Audrey.


Hampir 17 jam keduanya saling terdiam di dalam maskapai, Audrey ataupun Blevin tidak sama sekali mau memulai percakapan, sampai mereka tiba di sebuah pulau yang bernama Veligandu pulau ini merupakan pulau yang direncanakan sebagai tempat bulan madu keduanya.


Audrey berjalan cepat menuju resort, dia sengaja menghindari tatapan dengan Blevin.


"Sekalinya iblis akan sama, tidak mungkin menjadi malaikat, bahkan aku ragu sekarang, dia menyatakan cinta atau hanya emosi semata." ucap Blevin dalam hati.


Audrey masuk kedalam kamar dan membuka kopernya, hari yang sudah semakin sore membuat Audrey memilih untuk mandi, rasa lelah terguyur sudah dengan nyamannya air hangat yang mengalir dari shower, setelah selesai dia menatap Blevin penuh heran.


"Kenapa dia diam? bukankah dia senang memaki ku?" ucap Audrey dalam hatinya, Audrey memilih untuk membuka MacBook meneruskan pekerjaan yang tertunda tadi.


Setelah Blevin selesai dari mandinya, Blevin memilih pergi dari kamar itu, dia masih tidak ingin berdebat apapun dengan Audrey.


"Aku heran, orang tua dan mertua ku kenapa juga harus merencanakan ini? aku sungguh membenci rencana yang mereka buat, tapi sudahlah aku mengiyakan semuanya juga karena untuk bertanggung jawab dengan segala hal yang ku buat, oh tidak, bukan aku tapi Audrey."


Blevin berjalan menikmati segarnya angin pulau yang menyapanya, rasanya sunyi senyap dan desir pasir menyapa lembut jemari kakinya.


Blevin kembali meredakan nyeri dalam hatinya mengingat kejadian malam dia menyerahkan hartanya pada Audrey.


"Aku membenci mu Audrey tapi entah kenapa aku rela jika kau yang mengambilnya." air mata mulai menetes menandakan rasa kesal yang sudah di ubun-ubun.

__ADS_1


Malam sudah semakin terlihat terbukti dari bintang yang sudah nampak mengiringi jalan setapak menuju resort, Blevin menatap sepasang kekasih, yang sepertinya juga sama sedang berbulan madu, tapi kali ini buku jari Blevin terlihat memutih dan wajahnya merah padam.


Sesampainya di resort yang menjadi tempat dirinya bermalam dengan Audrey, Blevin segera menuju kamar mandi mencuci wajahnya dan kakinya, bahkan malam ini dia lebih memilih tidur daripada makan makanan yang sudah di sediakan oleh Audrey melalui pihak resort.


"Blevin? darimana? kau tidak lapar, kau belum makan sejak tadi siang?" Blevin hanya diam menutup wajahnya dengan selimut tebal, bahkan bantal dijadikan bahan untuk menutup telinganya.


Audrey yang penasaran dengan tingkah Blevin duduk di sampingnya dan memaksa Blevin untuk menatapnya.


"Apa yang terjadi? ada apa dengan mu?" Blevin masih diam.


"Blevin! kau bukan anak kecil lagi!" bentak Audrey, dan Audrey menarik paksa banyak dan selimut yang menutupi wajahnya itu.


"Kau menangis?" tanya Audrey saat dia sadar mata Blevin memerah dan bibirnya terlihat pucat.


"Tinggalkan aku sendiri, aku tidak mau menjelaskan apapun lagi." Blevin kembali membalikan badan membelakangi Audrey.


Audrey masih sibuk dengan segudang filenya, sementara itu jam sudah menunjukan pukul dua pagi waktu setempat.


Matahari pagi masuk menyapa melalui celah tirai yang menutup pintu dan jendela resort yang terbuat dari kaca tembus pandang, Blevin sudah terbangun dari tadi, mata sembab dan wajah pucatnya menyapa pagi cerah di Pulau itu.


Blevin yang terlihat lapar mengambil snack coklat di dalam tasnya.


"Sedikit mengganjal perut, ah... mau kemana aku hari ini? sepertinya snorkeling cukup bagus." Blevin tidak akan menyia-nyiakan liburannya, bahkan dia tidak perduli pada Audrey yang tidur tengkurap di sebelahnya.


Blevin keluar dari resort bersama seorang pelayan wanita yang akan mengantar dirinya menuju area snorkeling. Mengenakan kaos putih oblong sedengkul, celana hotpants hitam, topi berwarna putih juga rambut yang diikat, Blevin nampak santai.


"Lokasi snorkeling ada di sebelah barat." jelasnya.


"Baiklah tapi aku mau makan pagi dulu, kau boleh pergi karena aku kan berjalan sendiri kesana." ujar Blevin dengan bahasa Inggris yang baku.

__ADS_1


Blevin duduk disalah satu kedai pinggir pantai, menikmati sepotong roti, semangkuk salad sayuran dan juga jus jeruk tanpa gula. Setelah selesai makan pagi Blevin menuju area snorkeling, dia sangat menikmati aktivitas yang dia lakukan seakan dia berlibur sendiri, namun lagi matanya tertuju pada satu titik yang membuat dirinya sesak nafas.


Dengan langkah gontai akhirnya Blevin sampai di kamarnya lagi, dia segera pergi saat menangkap satu titik yang dipandangnya tadi.


Audrey baru saja selesai mandi dan melihat pakaian Blevin basah serta rambutnya juga.


"Kau mencoba berenang di laut?" tanya Audrey mengejek.


"Bukan urusan mu!" tegas Blevin yang melangkah kedalam kamar mandi.


Dalam gemericik air yang membasahi tubuhnya yang penuh busa, Blevin menangis.


"********! Brengsek! dasar binatang! semudah itu kau melupakan ku Zain! aku masih tersiksa dengan bayangan mu, tapi kenapa kau melakukan semuanya pada ku!" Ya... dua kali ini yang dilihatnya adalah Zain bersama Alexandra, mereka nampak mesra Alexandra mengenakan bikini, sementara Zain merangkulnya dengan mesra.


Blevin keluar kamar mandi mengenakan jubah mandinya, dia tidak memakai apapun lagi di dalamnya, dia mengambil pakaiannya di dalam koper, begitu pula dengan Audrey yang masih mengenakan handuk tanpa baju, Audrey baru saja menerima telepon dari Aris mengenai desain taman bermain yang akan di bangun di gedung di Tokyo itu.


"Ada yang salah dari mu sejak semalam." Tegas Audrey, dia sangat benci melihat Blevin yang seperti ini.


"Kau tidak perlu tau tentang apa yang terjadi pada ku!" ujar Blevin acuh.


Audrey menggenggam tangan Blevin saat Blevin hendak masuk kembali kedalam kamar mandi.


"Kau berjanji untuk memperbaiki semuanya, jadi bisakah kau mulai dengan hal sederhana, seperti bercerita?" ujar Audrey, dia mulai tidak betah dengan seringai Blevin.


"Kau boleh menangis, jika itu membuat mu lebih baik, apa yang terjadi?"


Tanpa banyak bicara Blevin yang terisak melepas genggaman baju yang semula hendak ia kenakan, ia secara tiba-tiba memeluk Audrey, dia terisak di dada suaminya itu, pria yang selalu saja di julukinya iblis.


"Maaf, maaf." hanya itu yang bisa di jelaskan Blevin, dia tidak mau bicara lagi setelah itu, bahkan dia terlelap dalam dekapan Audrey dengan jubah mandi yang masih menempel di badannya.

__ADS_1


__ADS_2