
Sepulangnya dari kantor aku mendapati istriku sedang menyiapkan baju untuk ku, dia juga sudah menyiapkan peralatan mandi untuk ku, aku menyadarinya saat masuk kedalam kamar dan mandi tadi.
"Seharusnya kamu tidak melakukan semuanya secara tiba-tiba seperti ini, perlahan saja." Jelas ku pada Blevin, bagaimana pun aku tidak mau memaksanya, walau sejujurnya aku sangat ingin diperlakukan seperti ini.
"Ya, tapi cepat atau lambat aku harus melakukan semuanya sendirikan?"
"Iya, kau benar, tapi tidak sepenuhnya." Jawab ku.
"Bagaimana lagi? apakah kau mau kita selalu bertentangan? bagaimanapun kita harus bersama untuk mencapai titik terang bukan?" Jawabnya dengan nada tegas, memang harus tapi aku lebih nyaman dengan proses.
"Blevin, aku melihat sorot ragu dari mata mu, ceritakan pada ku." Pinta ku, semoga saja dia akan bercerita.
"Tidak, aku tidak ragu, aku sudah melangkah terlalu jauh, ibu mu menawarkan perceraian pada ku, tapi aku menolak dan mencoba bertahan, saat kau kembali menyentuh ku pertahan ku kembali goyah dan aku nyaris meminta ibu mu untuk membantu kita untuk berpisah, namun setelah dipikir, jika aku bercerai dengan mu, kemudian dia hadir, aku harus bagaimana? kembali dan memohon pada mu? tentu tidak kan? sudah ku bilang kita telah melangkah terlalu jauh, jadi lebih baik aku menerima saja sekarang, mau ku buatkan sesuatu untuk dinikmati?" tanya Blevin pada ku, wajah marahnya sudah tak ada tapi berganti dengan senyuman dan mata ragunya itu.
"Tidak perlu, sudah terlalu larut, lebih baik kita istirahat saja, aku lelah." ucap ku.
"Kau lelah? baiklah berbaringlah, aku akan memijat kepala mu." apa? ajaib sekali.
"Kepala mu terbentur? atau suhu badan mu meningkat?" tanya ku yang masih penuh heran.
"Sudah ku bilang, aku akan memperbaiki semuanya, aku mau membangun pondasi yang kokoh untuk rumah kita." jawabnya.
__ADS_1
"Pondasi?"
"Ya... pondasi tahap pertama untuk membangun sebuah rumah atau gedung, beri tau aku apa saja yang harus ku lakukan untuk membuat pondasi yang kuat, tuan arsitek!" lagi lagi aku terpana dengan kelakuannya yang mulai mengambil minyak urut.
"Kau sungguh akan memijat ku?"
"Tentu suami ku." dia menjawab seakan menyebut suami adalah musuhnya.
Aku merebahkan badan di ranjang, kemudian ia menaikan kepala ku keatas pahanya.
Dia mulai memijat lembut bagian kepala ku, aku mulai realeks.
"Katakan tentang dirimu, satu hal saja." ucapnya.
"Siapa yang mau mengamati seseorang yang dibenci?"
Aku menggenggam tangan Blevin yang masih mengurut lembut kepala ku.
"Bahkan aku tau semua tentang mu sayang." ujar ku kembali.
"Katakan saja, aku hanya mau sedikit tau."
__ADS_1
"Baiklah, sebenarnya aku bukan seorang pria yang kau kenal, aku memiliki ambisi besar, tidak ada yang bisa menghalangi ku, termasuk kau, sebenarnya malam di rumah nenek Tagashi, itu adalah kebohongan ku, itu bukan teh atau obat untuk kesuburan, itu hanya tonik biasa untuk menyegarkan badan." Dia mulai terlihat bingung.
"Aku akan jelaskan, aku melakukannya agar aku bisa mengetahui apakah kau sepenuhnya menolak ku, atau sebenarnya hanya kepura-puraan mu saja, nyatanya aku mendapatkan penerimaan dari mu tanpa penolakan, kita berhasil melakukannya tanpa ku paksa kau menyerahkannya, sebenarnya ada sesuatu yang tak terjamah oleh mu, kau hanya belum menyadarinya."
"Audrey!"
"Blevin, aku tau ada sedikit simpati mu pada ku, tapi kau selalu saja menutupi semuanya, kau takut, takut untuk kembali terluka, aku punya mimpi untuk memiliki anak dan meramaikan rumah ini, aku bermimpi ibu dan ayah ku duduk bersama para cucunya nanti di rumah ini, bersama kau dan aku, mangkanya aku kembali menyentuh mu, aku tau saat itu kau dalam periode, dan aku harap itu berhasil."
Blevin terdiam dia masih terduduk dengan kepala ku di atas pahanya.
"Ayo periksakan diri ke dokter kandungan." aku kaget, apakah Blevin sedang mengandung? jika iya syukurlah.
"Untuk apa? kau hamil? kau sudah melakukan pengecekan mandiri?" tanya ku memastikan.
"Kita ikut program kehamilan, kita akan melakukan pengecekan kesuburan." ujarnya.
"Kita berdua baik baik saja Blevin, kita akan mendapatkan anak secepatnya, lagi pula tidak ada masalah dalam diri kita."
"Jika itu mau mu, aku akan mengikuti saja, tapi jika terjadi sesuatu bicaralah padaku." ucap Blevin.
Sebenarnya apa yang terjadi sampai Blevin bisa berkata seperti itu, kemudian aku mengirimi ibu pesan, jangan jangan ibu melakukan sesuatu agar Blevin mau memiliki anak bersama ku.
__ADS_1
Benar saja ibu membalas pesan ku dan menjelaskan semuanya, aduh... ini akan memulai drama baru dalam hidup ku, bagaimana bisa ibu bilang pada Blevin bahwa aku mengalami penurunan kesuburan?!
Jika Blevin tau apa yang sebenarnya terjadi dia pasti akan marah besar pada ku, bisa bisa dia kan membunuh ku saat ini juga.