
"Nyonya, ada yang mengirimkan roti untuk anda." Ucap seorang pelayan bernama Nina.
"Roti? aku tidak memesan apapun?" Jawab ku.
"Tapi nyonya..."
"Baiklah taruh saja di meja, aku akan membukanya nanti." Setelah Nina pergi, aku membuka kotak roti itu, aku tau siapa yang mengirim ini.
Aku tidak bisa tahan dengan roti kacang, apalagi minumannya ada choco frappe, ahhh... Terimakasih iblis sialan.
Setelah beberapa saat roti kacang tadi sudah habis bersama minumannya, kemudian aku menuju ke halaman samping, sibuk memberi makan ikan dan menata ulang pot bunga yang baru ku pesan tadi pagi.
Entah hari ini aku lebih banyak tersenyum, mungkin karena efek roti kacang tadi kali ya...
"Sedang apa kamu sayang?" Aku sangat mengerti siapa yang memanggil ku begitu.
"Ibu...Ah, mengapa tidak mengabari ku jika ingin berkunjung." ucap ku seraya memeluk dan mencium tangan ibu mertua ku itu.
"Ibu rindu pada mu, ibu lihat kau menyukai bunga."
"Iya, aku baru saja memesan beberapa pot bunga mawar dan Lily."
__ADS_1
"Audrey menanam anggrek?"
"Ya... dia sangat suka anggrek, ada banyak anggrek di pekarangan belakang, di dekat paviliun." ujar ku, namun senyum ibu berubah menjadi senyum kesedihan.
"Ibu ada apa? aku salah bicara?" ibu mengusap air matanya yang turun, dan memeluk ku.
"Kau ingat kali pertama kita bertemu?" ujarnya.
"Di pasar tradisional, kau membantu ku." ucap ku meyakinkan kembali.
"Ya... kau nampak seperti putri ku." ujar ibu, air matanya jatuh menyaratkan akan luka yang paling dalam.
Aku menyuruhnya duduk, dan meminta Nina membuat minuman untuknya.
"Sayang, saat itu ibu baru saja membeli bunga tabur, ibu melihat mu begitu bimbang, menahan sesuatu di kepala mu, kau nampak anggun dengan dress selutut mu, rambut panjang mu di ikat, wajah mu memerah, ibu tidak bisa melupakannya." Ibu meminum air yang disediakan oleh Nina tadi.
Menarik nafas sejenak dan ibu kembali tersenyum menatap ku.
"Blevin, putri ibu sudah tenang disana, putri ibu sudah menemukan kebahagiaannya." Kini giliran aku yang mulai memerah dan air mata hampir menetes.
"Siapa namanya?" tanya ku.
__ADS_1
"Audrina, dia anak yang sama seperti mu, tapi bedanya, Audrina tidak pernah bisa mengambil keputusan sendiri, Audrey menanam anggrek karena Audrina menyukai anggrek... Dulu Audrina merupakan adik kecil yang sangat menyayangi kakaknya, Audrina selalu saja mengambil anggrek dari rumah tetangga hanya untuk di berikan pada Audrey, katanya anggrek itu seperti dirinya, selalu bergantung pada inangnya." ibu kembali terisak dan memeluk ku sekarang.
"Ibu, sudahlah jangan teruskan." ujar ku.
"Tidak kau perlu tau semuanya, saat aku melahirkan Audrina rahim ku harus diangkat, membuat ku tidak bisa memiliki bayi lagi, saat usia Audrina menginjak 2 tahun, Audrina mengalami kejang, dan membuat hipotalamusnya terganggu, syaraf kakinya mengalami kelumpuhan, kami sekeluarga mati matian mengobati Audrina kecil, sampai kami harus menjual rumah, dan pindah ke rumah kecil kami yang sekarang, semua sudah kami lakukan untuknya, tepat di usianya yang ke 8 tahun Audrina akhirnya bisa berjalan tapi tidak dengan tubuhnya, Audrina sangat menyukai anggrek, dia megadiahkan satu pohon anggrek bulan untuk Audrey saat ulang tahun Audrey yang ke 15, satu tahun berlalu, keadaan Audrina semakin tidak stabil, membuat kami harus kembali menjual aset kami, perusahan dan lain sebagainya, menyisakan tabungan untuk pendidikan Audrey selanjutnya, nyatanya saat kami sudah menyerah dan tidak sanggup lagi menatap Audrina yang setiap jam harus terserang kejang dan muntah, aku, suami ku dan Audrey memilih agar dokter tidak melakukan apapun lagi, kami membiarkan Audrina kami pergi untuk selamanya, dan sejak saat itu setiap bulan di tanggal kematian Audrina, Audrey selalu membeli satu pohon anggrek untuk mengenang Audrina."
Tangis ku pecah, aku tidak sanggup menatap ibu yang terus bercerita dengan begitu tegarnya, aku pernah kehilangan Bella, tapi aku bersyukur karena Bella tidak merasakan sakit lagi sekarang, serta ayah dan ibu tidak perlu lagi merawatnya.
"Audrey adalah kebahagiaan akhir kami, dia adalah seorang anak yang ambisius, dia pergi untuk S2 nya, ke Amerika tanpa bantuan dana sedikitpun dari kami, pekerjaan dari kakek mu yang membuatnya bertahan, kami ingin sekali memiliki cucu sejak lama, mungkin itu yang akan kembali membuat kami semangat, tapi nyatanya Audrey memilih untuk kembali mengenyam pendidikan, apakah Audrey pernah bercerita tentang mimpinya?" Aku menggeleng mencoba untuk tidak menangis.
"Audrey ingin memiliki banyak anak, Audrey ingin membuat rumah besar dengan banyak anak, tapi kau tau, Audrey mengalami penurunan kesuburan, itu membuat kami sedih, Blevin maukah kau membantunya untuk membangun sebuah impiannya, ibu berharap banyak pada mu." ibu menggenggam tangan ku, tapi aku sedikit tidak percaya.
"Bagaimana cara agar aku bisa membantu?"
"perbaiki hubungan kalian, jadilah seorang istri yang mampu di andalkan olehnya, jadilah istri yang kuat dan siap menerima keadaan, Blevin lakukan semuanya demi aku."
"Bu, sebenarnya hubungan kami tidak baik-baik saja, aku tidak ingin mengandung."
"Lalu bagaimana, dengan kejadian malam di rumah nenek, kalian sudah terlanjur melangkah lebih jauh." Aku sedikit berpikir disana, iya juga, bahkan aku tidak mau bercerai dengannya karena masalah itu, tapi aku juga belum siap jika mengandung.
"Cobalah sayang, semuanya sudah terlalu jauh."
__ADS_1
"Baiklah ibu, aku akan sedikit mencoba." ibu tersenyum dan memeluk ku, bahkan aku segera di ajarkan bagaimana cara menjadi seorang istri, ternyata sungguh lelah, tapi apakah aku mampu melakukanya, masa iya Audrey mengalami masalah kesuburan, itu tidak mungkin, saat Minggu lalu stamina dan apa yang di keluarkan nya tidak menandakan itu, aku tau karena aku sering membaca artikel tentang itu, apakah ibu berbohong?
Tapi ya sudah mau bagaimana pun dia sekarang suami ku, terserahlah.