Straight Devil

Straight Devil
Keanehan


__ADS_3

Menyadari sesuatu sebelum seseorang tau merupakan kebahagiaan sendiri untuk ku, bagaimana tidak 3 Minggu lamanya aku pergi, tidak menatap dan tidak terhubung dengan istri tercinta ku, apalagi sejak terakhir kali aku menghubungi dirinya karena surat cerai yang dia ajukan, semua itu membuat ku tidak konsen untuk bekerja, dan sekarang saat aku pulang aku menemukan kabar bahagia bahwa apa yang ku alami selama di Tokyo merupakan gejala kehamilan Blevin.


"Drey? kenapa?" Tanya Aris yang selalu bersama ku di setiap waktu, kecuali waktu tidur dan aktivitas kamar mandi ya...


"Gak papa, mungkin cuma ke lelehan aja, Oh iya Ris, besok pagi tolong jangan pesan makanan Jepang, cari western aja, gue gak sanggup makannya, mual."


"Ok."


Sejak makan sushi malam itu, aku tidak lagi mau menyentuh makanan negara asal ibu ku, padahal semua jenis hidangan Jepang adalah makanan kesukaan ku sejak kecil, dan itu membuat ku tambah curiga, karena Blevin tidak membahas lagi masalah surat cerai, keanehan lainnya juga aku rasakan, aku benci sekali dengan aroma parfum dan deodorant.


"Selamat tuan dan nyonya, kehamilan nyonya sekarang berusia 7 Minggu, dengan keadaan sehat, saya akan memberikan vitamin untuk anda, karena tekanan darah anda sedikit rendah." Ucap dokter Pratama.


"Dokter apa yang harus saya lakukan untuk menjaga kesehatan istri dan anak saya?" Aku penasaran, aku berjanji akan menjaga Blevin dengan baik.


"Cukup dengan menjaga asupan makanan untuk ibu dan bayi, kemudian lakukan olahraga ringan, kalau bisa ibunya jangan sampai stress."


Kemudian dokter Pratama memberikan resep yang harus ku tebus di apotek.


"Tunggu di sini, biar aku yang mengurus semuanya, jangan terlalu banyak berdiri." ucap ku pada Blevin yang semakin cantik saja saat aku perhatikan.


"Bisa berhenti di pinggir sebentar." Blevin bersuara, dan aku berhenti di bahu jalan.


"Ada apa?" tanya ku.


"Aku mau makan itu." Tunjuknya pada gerobak penjual bakso, tunggu sebentar bukan bakso, tapi berbentuk bulat dan terbuat dari tepung kanji, apa namanya???


"Kau yakin??"

__ADS_1


"Kenapa memangnya?" tanyanya dia sudah mulai menaikan satu oktaf suaranya.


"Memangnya kamu pernah makan itu? itu tidak bersih dan tidak bergizi, namanya saja aku tidak tau."


"Sudah turun sekarang aku mau itu, belikan ya??" Mohonnya pada ku.


Akhirnya aku turun dari mobil, Aku menghampiri penjual itu.


"Pak, saya mau beli satu porsi saja."


"Satu buahnya 1000 pak, mau beli berapa?"


"Beli berapa ya??? Ah... 10 saja pak, di bungkus ya, bumbunya bisa di pisah saja."


"Bisa, pak." jawab penjual tadi.


"Bukan pak, namanya cilok, di buat dari tepung sagu, kalau bakso mah dari daging sapi." Jelas si penjual tadi.


"Ini pak." penjual tadi menyerahkan sekantong cilok yang aku beli.


"Oh ya... Ini pak." ujar ku sambil memberikan uang 50 ribuan selembar.


Dia menghitung uang untuk di kembalikan.


"Udah pak, kembaliannya ambil saja." ujar ku, pedagang tadi mengucapkan terimakasih dan aku segera pergi menuju mobil.


Aku menyerahkan bungkusan tadi pada Blevin, dia hanya menciumi aromanya.

__ADS_1


"Gak di makan?" tanya ku.


"Buat di rumah, mau aku taruh di microwave, abis itu makannya di halaman samping deh, ditemenin sama koi."


"Terserah deh, habis ini aku mau langsung balik ke kantor ya??? Aku mau ngecek kantor udah 3 Minggu gak di cek." Izin ku padanya.


"Aku ikut." Hah?? aku mau apa ikut ke kantor? aneh.


"Ikut?" tanya ku.


"Iya... Gak boleh? atau jangan jangan kamu punya simpanan ya di kantor?" tuduhnya yang membuat ku batuk karena syok.


"Kamu kan harus banyak istirahat, tekanan darah mu rendah, tapi terserah jika kamu mau ikut, aku senang malah."


Akhirnya aku menuju kantor bersama Blevin.


Kami sampai di depan resepsionis.


"Selamat siang tuan Audrey." Ucap para karyawan ramah.


"Siang semua." Ucap ku sambil menebar senyum.


Blevin masih mengikuti ku dari belakang sambil menggenggam kantung hitam yang berisi cilok tadi, tas bersertifikat miliknya malah di tinggal dan tidak dipedulikannya.


Kami menuju lantai yang dimana ruangan ku berada.


"Blevin, kamu bisa masuk duluan ke dalam aku ada pertemuan sebentar dengan klien ku." Dia hanya mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


Dan aku pergi menghadiri pertemuan dengan Dio, serta para rekan ku yang lainnya.


__ADS_2