Straight Devil

Straight Devil
Berdamai


__ADS_3

Pagi ini serangkaian perubahan yang signifikan diperlihatkan oleh Blevin, dia nampak cantik dengan gaun putih selututnya kerah baju yang sedikit menampakan tulang selangka nya membuat jantung ku berdebar.


Aku tersenyum menatapnya melangkah menuju meja makan dan memeluknya dari belakang, tak lupa aku juga mencium pipinya yang merona.


"Selamat pagi wanita ku." ucap ku manja, yang di balas usapan lembut di kepala ku.


"selamat pagi Audrey."


"Mengapa tidak membangunkan ku?" tanya ku yang belum melepas pelukan ku.


"Kau nampak nyenyak tertidur, mana tega aku membangunkan mu." ucapnya.


Entahlah aku juga tidak mengerti mengapa suaranya begitu lembut dan yang pasti ini bukan Blevin ku...


"Mengapa menatap ku seperti itu Audrey?" tanya Blevin pada ku, mungkin dia tau saat ini aku sedang bingung dengan perubahan prilakunya.


"Aku terpesona." ucap ku datar dan Blevin hanya tersenyum menuang air ke dalam gelas ku.


"Kau? terpesona pada siapa?"


"aku terpesona pada wanita yang mulai menampakan wajah aslinya." ucap ku masih dengan datar sambil memandang makanan yang di sajikan Blevin.


"Audrey, cepat makan makanan mu, hari sudah semakin siang, nanti kau terlambat." ucapnya sambil berlalu ke dapur.

__ADS_1


Blevin....


Sejak kemarin aku memutuskan untuk meneruskan pernikahan ini meredam ego yang selama ini aku tidak tau apa yang menjadi sebabnya, mungkin tingkah ku di masa lalu yang membuat ku enggan untuk terbuka pada Audrey, dan sekarang aku sudah menerima semuanya, pernikahan ini, Audrey dan hidup baru setelah aku kehilangan bayi ku.


Aku tau seseorang pasti memiliki alasan untuk sebuah tindakan, dan itu yang aku tau tentang Audrey, dia ingin aku menjadi seperti apa yang ada dalam otaknya, namun sayangnya aku tidak akan pernah bisa menjadi seperti itu, aku berdamai dengan diriku bukan dengan Audrey.


cinta ku datang berawal dari keterpaksaan, namun keterpaksaan itu yang membuat ku tau bahwa selama ini aku salah menilai, Audrey begitu baik pada ku, dan aku akan memperbaiki semuanya.


Dalam kasus ku bersama Audrey sebenarnya adalah aku yang tidak mau menyeimbangkan Audrey, dan Audrey yang tidak mau mengalah dengan ambisinya, seharusnya aku dan Audrey dapat mengalah meredam ego masing masing.


Author...


Audrey berpamitan dengan Blevin, dia mengecup puncak kepala Blevin dan tersenyum bahagia.


"Audrey, cepat kembali aku menunggu mu." ucap Blevin.


"Jangan... urusan mu jauh lebih penting dari pada aku, sekarang pergilah." ucap Blevin memaksa.


namun Audrey malah mengambil ponselnya dan menghubungi Aris.


"Hallo, Aris handle semua pekerjaan ku hari ini, aku ada urusan penting, kau bisakan?"


"Baik tuan." Kemudian Audrey mematikan sambungan dan menggendong Blevin secara tiba tiba.

__ADS_1


"Audrey!" teriak Blevin.


"Tidak ada yang lebih penting dari mu ratu ku, seharian ini aku hanya milik mu." ucap Audrey lalu membaringkan Blevin di atas tempat tidur.


"Audrey, maafkan semua ke egoisan ku."


"Syuttt.. Jangan bicara hari kemarin lagi, itu juga semua salah ku, lebih baik kita bahas masalah tentang besok."


"Masalah apa lagi?"


"Berapa banyak anak yang kau inginkan?" tanya Audrey.


"Aku tidak tau, tapi selama aku mampu dan ingin aku akan menerimanya."


Audrey menggenggam jemari Blevin dan menciumnya.


"Terimakasih sudah mau berusaha untuk kembali pada ku, aku mencintai mu."


"Audrey, seharusnya sedari awal ku lakukan, tapi nyatanya aku egois."


"Kau memang pantas melakukan semua itu pada ku, maaf sudah menguntit mu dan mencintai mu selama ini tanpa sepengetahuan mu."


"Aku malah berterimakasih pada mu atas semua penjagaan mu selama ini."

__ADS_1


Lalu keduanya saling merengkuh dan menerima kenyataan bahwa satu titik mencintai sudah hadir dalam perbedaan yang terjadi selama ini.


Satu titik yang membuat Audrey jatuh cinta pada Blevin adalah karena Blevin merupakan seseorang yang selalu ingin memperbaiki tanpa adanya kata menyerah.


__ADS_2