
"Tuan Audrey, terimakasih banyak atas jamuan makan malamnya dan atas kebaikan mu mau mengantarkan keponakan saya ini." ucap tuan Anderson, dengan ramah saya tersenyum kepadanya.
"Baiklah tuan Anderson, saya pamit." saya berucap dan segera masuk kedalam mobil yang sudah di siapkan oleh petugas valet di susul oleh Blevin yang duduk di kursi belakang.
"Hay.. anda bukan nona besar saya lagi, saya harap anda bisa bersikap semestinya." Saya berujar sambil tersenyum, Blevin berpindah tempat ke samping kemudi.
Setelah semuanya aman, saya melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Bagaimana kabar mu Blevin?" Sapa ku terlebih dahulu.
"Tidak usah bertanya! kau memang iblis! selalu membayangi kehidupan ku!" ujar dirinya dengan kekesalan yang sudah menggebu.
"iblis? aku iblis yang lurus, aku tidak pernah mengajarkan mu pada keburukan, bahkan saat hari itu, aku melindungi mu." jelas saya kepada wanita yang sampai saat ini masih juga belum berfikiran dewasa.
"Kau melindungi ku? tidak salah? kau melaporkan ku pada kakek bahwa aku pergi ke club', kau juga menceritakan padanya bahwa aku telah menjadi seorang mucikari, lalu keesokan harinya secara tiba-tiba kau menghilang, tanpa perduli hukuman apa yang di berikan kakek pada ku!" geramnya.
"Hey... aku melapor karena sepertinya kau butuh hukuman agar jera, kau tau alkohol akan merusak tubuh mu, tapi kau semakin menikmatinya, dan kau tau perbuatan yang kau lakukan terhadap ku sudah melampaui batas anda nona, lebih baik aku melapor pada kakek mu dari pada aku melapor pada polisi, kau mau ibu mu kehilangan satu lagi putrinya?" jelas ku dengan intonasi yang cukup. tinggi, huh... bisakah wanita ini sedikit bersikap. dewasa?
"Bukan urusan mu Audrey! sekarang turunkan aku di sana!" teriak Blevin dengan suara yang dapat memecah telinga ku.
"Tidak akan nona besar! kau tetap akan pulang, dan aku akan mengantar mu dengan selamat." saya melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata rata karena saat ini jalanan sepi.
"Audrey, ku harap setelah ini kau menghilang dari kehidupan ku!" tuturnya dengan jelas.
"Kita lihat nanti, seberapa senang aku bermain bersama mu." aku semakin menguji dirinya dengan ribuan alasan yang semakin membuatnya marah.
"Kau sudah sampai sekarang nona besar, oh ya... apakah kau akan selalu bersikap seperti itu pada ku? kau tidak takut jika akan menjadi perawan tua?" sindir ku.
"Apa maksud mu?" geramnya lagi.
"Aku tidak mau menikahi gadis jutek dan tidak berperasaan seperti mu."ujar ku penuh teka-teki.
"Kau gila! siapa yang mau menikah dengan mu!" ucapnya kasar seraya menendang pintu mobil tanpa dosa, aku hanya tersenyum dan kembali menuju apartemen.
Keesokan harinya tuan Anderson meminta saya untuk datang ke perusahaan miliknya dan saya datang dengan membawa bingkisan.
__ADS_1
"Selamat datang Tuan Audrey." sambut tuan Anderson.
"Tuan Anderson senang bertemu kembali, oh ya... bisa kau memanggil saya dengan sebutan nama saja, saya merasa tidak enak di panggil tuan." ujar ku.
"Tentu, Audrey, bagaimana dengan perkenalan pertama tadi malam?" tanyanya tentang aku dan keponakannya itu.
"Saya rasa, saya bersedia jika hubungan ini lebih dari sekedar perkenalan saja, kapan saya bisa bertemu dengan kedua orang tua nya?" tantang ku, lihat nona licik apa yang akan ku perbuat pada mu.
Tuan Anderson seperti terkejut dengan niatan saya yang begitu mendadak.
"Jika kau merasa begitu, besok kau sudah bisa menemui mereka." izin tuan Anderson.
"Baiklah tuan Anderson terimakasih atas kepercayaan anda terhadap saya." ucap ku untuk meyakinkan paman dari gadis itu.
Setelah pertemuan dengan tuan Anderson, aku di minta ibu untuk kembali ke rumah karena saat ini sepertinya ada tamu yang hendak menemui ku.
Saat tiba di depan pintu rumah, seorang pria dengan memukul wajah ku, sampai kacamata yang aku kenakan pecah menjadi kepingan, darah keluar dari hidung dan bibir ku yang sobek.
"Sudah ku bilang jauhi putri ku!" teriak pria itu, saya cukup kenal dengan suara itu.
"Ya... saya Benjamin, dan kau lebih baik tinggalkan putri ku!" ujarnya murka.
"Tuan! saya tidak pernah bertemu dengannya lagi, bahkan sejak saya kembali dari Amerika, saya tidak pernah menemuinya." Tanpa mau banyak berdebat saya segera masuk kedalam rumah menjelaskan semuanya pada ibu.
Setelah memukul, tuan Ben, pergi meninggalkan rumah kami.
"Siapa dia Drey?" tanya ibu.
"Dia ayah dari Haruka Bu." jelas ku.
Ibu mengompres luka lebam yang saya dapatkan.
"Dia menyuruh mu untuk meninggalkan anaknya, apakah kau masih berhubungan dengan Haruka?" tanya ibu yang selalu penasaran dengan keadaan Haruka.
"Jangankan berhubungan Bu, melihatnya saja sudah 4 tahun berlalu." jelas ku.
__ADS_1
"Yasudah, sekarang kau istirahatlah, setelah itu kita makan siang bersama." ucap ibu.
Kami pun makan siang berdua, saya menyampaikan niatan untuk menemui orang tua Blevin.
"Bu, besok aku akan menemui seseorang, untuk meminang putrinya, bagaimana pendapat ibu?"
"Asalkan wanita itu bisa membawa nama baik keluarga kita ibu setuju saja, apakah dia campuran atau penduduk asli?" tanya ibu.
"Dia berkebangsaan Indonesia, ayahnya orang Amerika dan ibunya orang asli Indonesia, dia lama tinggal di Indonesia dan sempat meneruskan studinya di universitas yang sama dengan ku di Amerika." jelas ku.
"Semua ku serahkan pada mu, tapi jika ibu melihatnya tanpa tatakrama yang baik maka bersiaplah tinggalkan dia."ancam ibu.
Dalam hati saya berdoa semoga Blevin bisa sedikit berlaku baik pada orang lain.
Dua hari kemudian tuan Anderson baru bisa meluangkan waktu untuk mempertemukan saya pada ayah dari Blevin, tanpa di duga ternyata ayah Blevin adalah tuan Diego, seorang yang juga akan menjalin kerjasama dengan saya.
"Tuan Diego?" Saya terkejut, karena sebenarnya saya benar benar tidak tau.
"Kenapa tuan Audrey, kau begitu terkejut rupanya, jadi dia pria yang berani bicara untuk meminang putri ku?" ujarnya pada tuan Anderson.
"Iya Diego, Audrey adalah mahasiswa Edward dan Brich, dia juga merupakan arsitek yang menggarap IDE, dia bersedia untuk meminang putri mu." jelas tuan Anderson pada tuan Diego.
"Benarkah tuan Audrey? Kau sepertinya bernyali besar?" ucap tuan Diego.
"Tidak seperti itu tuan, dulu saya adalah orang suruhan ayah anda di Amerika, saya seorang yang dipercayakan untuk memantau putri anda." sedikit aku menjelaskan.
"Kau supir itu? dan kenapa sekarang? aku sungguh tidak menduga jika supir yang ayah ku maksud adalah pria setampan dan sehebat dirimu Audrey." ucap tuan Diego yang tidak percaya.
"Terimakasih tuan, tapi semua itu merupakan kebaikan hati dari tuan Ferdinand sendiri tuan, tanpanya mungkin di semester pertama saya tidak akan bisa bertahan, mengingat tabungan saya seperti sudah tidak cukup." jujur ku.
"Baiklah, seiring berjalannya waktu, saya ingin bertemu dengan ayah dan ibu mu, untuk membicarakan ini semua." singkat tuan Diego.
"Tuan jika bisa, lebih baik Blevin tidak usah mengetahuinya, karena saya sedang membuat kejutan spesial untuk nya." sedikit berbohong tidak masalah bukan.
"Ya... saya setuju." sekarang tuan Anderson yang berbicara.
__ADS_1
Dan akhirnya sebuah kesepakatan terjadi di hari ini.