
Dua Minggu sudah berlalu, kini aku menjalani aktivitas harian dengan sangat menyenangkan tidak ada lagi sindiran yang di lontarkan oleh para pembantu di rumah itu, dan juga yang terpenting adalah wanita menyebalkan itu tidak lagi mengusik hidup ku.
"Selamat pagi." sapa ku pada Audrey dan wanita itu di meja makan.
"Pagi." Audrey menjawab dengan datar, mungkin dia masih marah dengan kejadian Minggu lalu.
KEJADIAN MINGGU LALU DI PERUSAHAAN PAMAN.....
"Hay... kamu nungguin siapa Vin?" itu Sandy.
"Oh, ini San nunggu jemputan, kamu sendiri semalam ini belum pulang?"
"Iya, Vin Bu Misye minta penjadwalan ulang bertemu dengan klien kita." jawab Sandy.
Aku tertawa dengan lepas saat Sandy melontarkan beberapa guyonannya.
Aku saat itu menunggu Audrey karena paginya ban mobil ku kempes, dan aku tidak sadar kalau Audrey sudah berada di sebrang jalan.
Karena terlalu lama menunggu akhirnya aku minta Sandy mengantarkan aku ke stasiun kereta untuk memulai perjalanan ke Bogor, tapi saat sampai di rumah jam sudah lewat dari pukul 11 malam, dan Audrey sangat marah karenanya.
Berulang kali aku menjelaskan tapi Audrey sempat tidak percaya, dia bahkan seperti tidak mau lagi melihat wajah ku, aku juga sudah menjelaskan semuanya pada paman, paman juga ikut campur untuk masalah ini.
Kembali lagi ke hari ini.....
Aku mengunyah potongan Apple dengan cepat dan meminum air putih, setelah itu aku diam dan mengambil kunci mobil milik ku, aku menuju garasi, ketika hendak membuka pintu mobil Audrey menarik tangan ku.
"Seharusnya aku yang marah, tapi kenapa seakan aku yang membuat masalah!" ucap Audrey.
"Memang aku yang membuat mu berfikir demikian? tapi kau adalah orang yang menambah masalah semakin rumit dan semakin panjang!" tegas ku.
__ADS_1
"Kau menyukai pria itu kan?" apa lagi ini? Audrey fikir setelah patah hati pada Zain aku bisa menempatkan hati pada sembarang orang!
"Kau ini kenapa? kau bertanya pertanyaan yang kau dan semua orang tau jawabannya! Audrey dimana otak jenius mu!" Final sudah aku membentaknya.
"Jadi benar kau menyukainya, Ternyata Zain tak membuat mu jera ya???"
Aku hanya menggeleng, tak mau pagi ku habis dengan berdebat dengannya aku pergi meninggalkan dirinya yang masih tidak terima dengan jawaban ku.
Sesampainya di kantor aku meletakkan tas dan mulai menyalakan komputer, aku sibuk dengan beberapa berkas yang harus ku serahkan kebagian legal.
"Blevin!" tegur seseorang dia itu Dito dia adalah orang bagian produksi, dia mengatasi iklan disini.
"Ya, ada apa Dito?"
"Kau tau, saran mu memang sangat menarik, kami sudah menentukan sepasang artis yang cocok untuk produksi iklan kita."
"Siapa?"
Dua bulan lalu mereka menghancurkan segalanya, kepercayaan, cinta dan perasaan ku, tapi sekarang mereka bisa bebas bermesraan di depan ku, jangan harap Zain!
"Siapa mereka? aku bahkan tidak mengenal mereka?" ucap ku acuh.
"Dito, aku harus keruangan legal, untuk meresmikan satu dokumen, kau lanjutkan saja pengerjaan iklan ini, ku harap hasilnya akan maksimal." ujar ku, aku berjalan dengan tergesa, rasa marah dan sakit menyeruak begitu saja dalam dada ku.
Siang ini paman Anderson mengajak ku untuk makan siang bersama, aku menyetujuinya, kami tiba di restoran pada pukul 12 tepat, kemudian aku melihat Audrey datang dan duduk tepat di hadapan ku, dengan malas aku memesan makanan.
"Jadi ini alasan paman mengajak ku makan siang jauh dari kantor?" ucap ku.
"Kalian sudah dewasa, selesaikan semuanya secara baik baik."
__ADS_1
"Apa maksud paman? aku sudah menjelaskan semuanya secara benar, lalu apa salah ku, hanya dia saja yang menganggap masalah ini masalah besar!" ujar ku.
"Kau mencintai pria itu Be?" tanya paman.
"oh... jadi kalian berpendapat seperti itu? Tuhan! haruskah otak kalian yang cerdas dan membanggakan itu tercemar! Audrey sebenarnya apa mau mu? Kalian berfikir aku bisa dengan mudahnya mencintai seseorang setelah luka di hati ku tak kunjung sembuh! Terserah pada mu Audrey, aku sudah muak dengan semua ini!" Tanpa banyak bicara, aku meninggalkan mereka berdua bahkan makan siang pun saja tidak sedikitpun ku makan.
Sesampainya aku di kantor aku disuruh Bu Misye datang ke bagian produksi iklan, aku disuruh mengantarkan sesuatu pada Dito.
"Dit, ini dari Bu Misye." ucap ku sambil menyorongkan dokumen berwarna kuning.
"Makasih ya Vin, oh ya mau kenalan gak sama pasangan artis itu?" aku menggeleng dan membalikan badan, namun lagi Dito menarik ku.
"Tunggu bentar, nih aku kenalin sama kamu." Dito menyeret ku ke bagian makeup.
"Zain, Alexa saya mau kenalkan kalian kepada seseorang, nah ini dia, dia Blevin Victoria." Mata ku bertemu dengan mata Zain, aku juga menatap Alexa dengan raut kebencian, kenapa juga aku harus berhadapan dengan perempuan perebut macam mereka.
"Hai." ucap ku datar, Zain dan Alexa hanya tersenyum menanggapinya.
"Dito,sudahkan? kau puas, aku masih banyak hal yang lebih berguna untuk membuang waktu, jadi permisi." ucap ku tegas.
Aku melangkah dan berusaha menenggelamkan perasaan hancur ku, kenapa harus bertemu dengannya lagi, kenapa!
Setelah selesai dengan segala berkas yang ada aku bersiap untuk pulang.
Aku memacu mobil ku di jalan bebas hambatan dengan kecepatan tinggi, aku berteriak di dalam mobil, dan air mata ku jatuh dengan derasnya tanpa ku pinta.
Bagaimana bisa, aku yang mengisi harinya dengan segala yang ku punya, aku menemaninya mendukung setiap karirnya selama 2 tahun, dan ini kah balasannya, bermesraan, bercumbu dan menebar keromantisan di depan mata ku! Aku bisa gila rasanya!
Sampai di rumah aku masuk kedalam kamar, mandi dan berpakaian setelah itu aku membaringkan badan di ranjang. Aku haus aku akan turun ke dapur dan mengambil minum tapi lagi, mereka membicarakan ku bersama Haruka.
__ADS_1
Sebenarnya Audrey itu bertemu dengan wanita ular ini dimana? kenapa wajahnya sangat baik bak malaikat tapi hatinya bagai api neraka.