Straight Devil

Straight Devil
Menggoda


__ADS_3

Pagi ini aku mendapati istriku berada di dapur entah kemana para pelayan, dia hanya sendirian disana. Tangannya begitu cekatan mencuci piring dan membalikan sesuatu yang sedang di masaknya.


Dia berbalik badan dan terkejut menatap ku yang juga menatapnya.


"Sedang apa kau disini?" tanya istriku.


"Menatap seseorang yang sedang menyiapkan sesuatu?" jawab ku, aku mendekati piring yang di bawanya itu.


"Apakah ini bisa untuk dimakan?" tanya ku.


"Tentu, kau yang akan me jadi kelinci percobaan pertama ku." ucapnya, lalu dia melangkah menuju meja makan.


"Kemana Sinta dan yang lain?" Aku harus menanyakan keberadaan para pelayan disini.


"Kenapa kau membutuhkan sesuatu?" tanyanya lagi.


"Tidak, hanya saja..." aku menggantungkan kalimat ku.


"Mereka sudah ku pecat semuanya kecuali Nina dan Sinta, mereka ku liburkan untuk 5 hari kedepan, mereka butuh cuti." jelasnya dengan nada yang cukup santai.


Aku punya ide untuk menggodanya sekarang.


"Itu bukan alasan supaya kau bisa mendekati ku bukan?"


"Apa maksud mu?"


"Dengan ketidak beradaan mereka disini, maka kau akan leluasa mendekati dan berlaku seenaknya pada ku bukan?" selidik ku padanya.


"Audrey!" dia mulai berteriak lagi.


"Ini rumah bukan hutan!" tegas ku sambil mengunyah makanan yang dibuatnya tadi.


"Bagaimana rasanya?" dia mulai mencari tau hasil dari masakannya.


"Salty." Ujar ku.


"Hanya sedikit kan? kau bisa memakannya bukan?" Aku sedikit meminum air dan menelan makanan tadi, aku menyuguhkan garpu dengan telur berisi daging cincang yang diolahnya tadi.


"Enak, masih bisa dimakan." jawabnya.

__ADS_1


"Memang, tapi aku lebih suka jika tidak mengunakan garam."


"Kenapa?" penasaran rupanya.


"Hidup ku sudah sangat asin seperti air laut saat ku bersama mu." ujar ku.


"Jadi..."


"Jadi aku sudah cukup bicara dengan mu, aku pamit, jaga rumah ini dengan baik, dan pikirkan gaun apa yang akan kau gunakan nanti malam ke acara itu." ujar ku.


Kami sudah sepakat akan datang bersama nanti malam ke pesta pernikahan klien ku, awalnya aku mengajak Dio dan Raga, namun sepertinya mereka berdua menolak karena ada kencan yang harus dilakukan mereka berdua, Dio dengan pasangannya Maudia, sementara Raga dengan Sasha.


Waktu berlalu dengan cepat, aku sedang bersiap di kantor ku, aku sudah mandi dan mengenakan kemeja berwarna biru tua, aku membawa dasi dan jas ku kedalam mobil, sebelum pergi aku akan menjemput Blevin dirumah meminta dirinya memasangkan dasi dan membenarkan penampilan ku.


Pintu gerbang rumah telah terbuka, aku masuk kedalam, menemui Blevin yang sedang menata rambutnya dengan sebuah jepitan berwarna silver.


"Sudah selesai dengan riasan mu nyonya?" sapa ku saat mendapatkan dirinya bercermin, makeup tipis terlihat natural dan segar, pewarna bibir yang terlihat halus dan lembut membuatnya menjadi amat sangat cantik.


"Tinggal menjepit rambut ku." jawabnya, aku menarik tangannya dan membantu untuk memasang jepit rambut itu, aku menjepit rambut depannya yang sebenarnya sudah ditata olehnya.


"Bisa bantu aku untuk mengenakan ini." Pinta ku, dia menggambil dasi ku dari tangan ku, kemudian kerah ku di rapihkan, dia sedang membuat simpul dasi di leher ku, jika dilihat dari sudut ku, dia benar-benar sangat menawan, dress biru yang senada dengan pakaian ku, sungguh indah dipadukan dengan dirinya.


"Selesai, kau belum menyisir rambut mu?" Tanyanya, kemudian dia mengambil sisir dan merapihkan rambut ku, dia juga meminta ku tidak menggunakan kacamata.


"Sebenarnya bisa, aku hanya minus 0,25." jelas ku.


"Jangan di gunakan, aku lebih suka melihat mu tanpa kacamata." ujarnya.


"Bisa berangkat sekarang?" Tanyanya, dia mengambil tas genggamnya beserta ponsel.


Kami menuju ketempat pesta diadakan.


"Kau tuan Audrey bukan?" tanya seorang perempuan yang sedang berbahagia pada hari ini.


"Ya... Selamat atas pernikahan kalian." ucap ku tersenyum menanggapinya.


"Terimakasih sebelumnya tuan, anda sudah menyempatkan diri untuk hadir, lalu apakah dia istri mu, anak dari tuan Diego, pemilik IDM?"


"Ya, Sarah, dia adalah istri ku, cantik bukan?" ucap ku asal.

__ADS_1


"Sangat menawan, sudah hampir satu tahun ya kalian menikah?"


"Ya betul sekali, menikah adalah hal paling indah yang pernah ku rasakan Sarah."


"Tuan, nyonya silahkan nikmati sajian yang ada, aku akan menyapa yang lainnya, sekali lagi terimakasih telah menghadiri undangan kami." Ucap Sarah dengan senyumnya yang menawan.


Kemudian saat aku sedang bercengkrama dengan beberapa teman seprofesi ku, seorang wanita yang merupakan penggemar ku saat kuliah di Tokyo datang dan memeluk ku.


"Audrey... Ya Tuhan aku tidak menyangka akan bertemu dengan mu disini." ucapnya dengan semangat luar bisa.


"Ya, apa kabar?" ucap ku kaku.


"Aku baik, bagaimana dengan mu, sudah lama kita tidak bertemu, akhirnya kita bertemu disini, oh ya Audrey berikan aku kontak mu, sungguh aku tidak mau kehilangan mu lagi." ucapnya dengan gaya yang energik.


"Ini kartu nama ku, kau bisa menghubungi kantor ku, jika memang perlu." ujar ku.


"Audrey, aku sungguh merindukanmu."


"Fey.. Perkenalkan dia Blevin, dia istri ku." Sanggah ku sebelum dirinya lebih jauh lagi, aku tidak mau ada pertumpahan darah disini nantinya.


Blevin mengulurkan tangannya berusaha untuk sopan dan berlaku baik.


"Blevin Victoria Clark, senang berkenalan dengan anda." Blevin membungkuk, saat jabatan tangannya tidak disambut.


"Aku Feyla." singkatnya, Fey masih saja menggoda ku dengan menggenggam tangan ku.


"Nona Feyla, maaf tapi sepertinya kami akan pulang, karena ini sudah larut dan bayi kami butuh istirahat, kami datang hanya untuk menghormati undangan bukan untuk mengenang masa lalu."


Apa? ini Blevin? bayi? bayi siapa? Aku terkekeh dalam hati, kemudian aku tersenyum pada Blevin, aku sedikit merengkuh Blevin dari samping dan sedikit berakting, dengan mengelus perutnya lembut.


"Baby sudah lelah rupanya, kenapa tidak bilang, baiklah Feyla, kami akan pulang sekarang, jika kau memang perlu dengan ku, hubungi saja kantor ku." ujar ku, melepas kesan tidak suka yang tidak mungkin ku tunjukan pada Feyla.


Saat di mobil wajah Blevin langsung berubah. Aku tertawa dengan keras, dan Blevin semakin ingin memakan ku.


"Jangan tertawa! aku menyelamatkan mu dari wanita itu!"


"Aku tidak minta di selamatkan... Bayi kita sudah lelah?" ledek ku padanya yang sudah merah padam.


"Audrey!!!!"

__ADS_1


"Lain kali beralasan yang lebih bagus sedikit, jika Feyla tau kau tidak hamil, dia akan semakin terus mengejar ku, alasan mu sungguh jelek sayang." ujar ku, aku benar-benar tertawa dengan lepas sekarang, bayi siapa Blevin??


Bayi James dan Jeny?


__ADS_2