
Akibat hujan yang mengguyur kota Surabaya sejak tadi malam, kami belum sempat meninjau kembali lokasi pembangunan.
Aku menyuruh Gita untuk meminta dokumen perencanaan kembali kepada salah satu staf kami.
"Gita, kalau bisa suruh mereka untuk mengirimkan laporan terakhir dari proyek kita di Tokyo." Pinta ku pada Gita.
"Baik pak." ucapnya sigap.
Aku masih menikmati secangkir teh yang tersedia di meja kamar hotel ku.
Aku jadi teringat akan istri ku, bagaimana sebenarnya perasaannya setelah di tinggal tiga hari oleh ku.
Aku berinisiatif untuk menelpon ibu, untuk mengetahui keadaan Blevin.
"Hallo, ibu bagaimana keadaan mereka?" tanya ku.
"Mereka?"
"Iya... menantu dan cucu ibu."
"Cucu ku?" lagi ibu bertanya dan aku baru sadar jika ibu belum tau bahwa Blevin sedang mengandung.
"Em...maksud ku Blevin." Jawab ku gugup.
"Jelaskan pada ibu Audrey!"
"Iya ibu Cucu ibu, Blevin tengah mengandung, kami baru tau satu Minggu yang lalu, aku titip mereka pada mu selama aku tidak ada." jelas ku pada ibu.
"Mereka dalam keadaan baik anak ku, Audrey... ibu mau bertanya dan jawablah dengan jujur."
"Baik Bu." Jawab Audrey pasrah.
"Kalian bertengkar?"
Apakah Blevin bicara pada ibu? mengapa ibu bisa berspekulasi seperti itu?
"Bertengkar? tidak." Jujur ku, kami memang sedang tidak bertengkar, hanya aku yang malas bicara panjang dengannya.
"Beberapa hari yang lalu ibu menemuinya, bahkan kami berbicara sepanjang hari, ibu menemani dirinya di rumah, dia kelihatan murung dan kurang bersemangat, awalnya ibu kira hanya perubahan mood atau ada yang mengganjal darinya, Blevin masih menutupi semua rasa sedihnya sampai saat ia menumpahkan tangisnya pada ibu."
__ADS_1
"Blevin menangis?" Aku nampak penasaran.
"Iya, dia bilang, dia mengaku bersalah padamu, dia menyesal telah melakukan semuanya pada mu di masa lalu, semua itu dia lakukan hanya karena dia ingin bebas menentukan langkah tanpa harus ada ikut campur dari orang tua atau kakeknya." Ucap ibu yang memang kelihatan serius.
"Ibu hanya ingin berpesan mulailah berlaku baik padanya, terlebih saat ini dia sedang mengandung, suasana hati menjadi faktor penting dalam pertumbuhan janin kalian."
"Baiklah Bu aku akan mencoba, doakan saja supaya aku bisa merebut sepenuh hatinya."
"Tanpa harus kau merebut kau sudah memiliki dirinya Audrey, memiliki adalah hal yang mudah tapi membuatnya bertahan dan bahagia di sisimu adalah hal yang rumit yang harus selalu kau amati, menikah adalah untuk saling memperbaiki, ibu harap setelah ini kalian bisa saling untuk berbagi."
Aku hanya tersenyum miris, terlihat sekali banyaknya kurang ku disini, aku nyaris tidak pernah memahami hatinya, bahkan aku nyaris tidak perduli padanya, aku hanya mementingkan diriku dan kenyamanan ku sendiri untuk terus merubah serta mengejeknya.
"Aku akan lebih memperhatikan menantu mu itu Bu, aku berjanji."
"Baiklah Audrey selesaikan semua pekerjaan mu, ibu tidak akan menggangu, oh ya... sore ini ayah dan ibu akan berkunjung lagi, ada yang mau kau titip?"
"Tolong belikan Blevin roti kacang di toko kue Roster Break, dia sangat suka roti kacang disana."
"Baiklah ibu akan bawakan untuknya nanti."
"Terimakasih ibu."
Di lain tempat nampaklah Blevin yang sedang terdiam melamun di halaman samping, dia mengelus perutnya yang masih rata belum membuncit sedikitpun.
"Jika kau tumbuh dan lahir kau ingin menjadi siapa sayang? ibu mu yang menyebalkan di hadapan ayah mu atau ibu mu yang sebenarnya? tapi mungkin kau ingin menjadi seperti ayah mu saja? sosok yang perfeksionis dan selalu berpikiran aneh." Blevin tersenyum kecut.
"Mama tidak perduli kau mau menjadi siapa, yang terpenting adalah kau tumbuh dengan baik di bawah asuhan mama, mama akan membebaskan dirimu menjadi apapun yang kau mau, mama menyayangi mu, sayang." Kini air mata Blevin jatuh, sedari tadi pagi Blevin memang kelihatan murung dan tidak berselera.
"Silahkan masuk Nyonya, nyonya Blevin berada di halaman samping." ujar Sinta pada nyonya Hana.
"Terimakasih, apakah dia sudah makan? ini roti tolong hidangkan ya..."
"Nyonya Blevin baru makan sup tapi hanya sedikit, hanya dua suap, sedari pagi dia tidak berselera."
"Baiklah, aku akan menemuinya."
"Saya permisi nyonya." ucap Sinta pada ibu majikannya itu.
Nyonya Hana memandangi Blevin dari jendela kaca pembatas halaman, kakinya memaksanya untuk masuk dan mengusap lembut kepala serta pundak menantunya yang sesegukan akibat emosi yang di pendam.
__ADS_1
"Sayang kau kenapa?" Ucap Hana dengan perasaan iba.
"Ibu? kau disini?" tanya Blevin.
"Ya... ayah juga datang bersama ibu, bagaimana hari ini, kau baik? mengapa menangis?"
"Tidak ibu, aku hanya sensitif hari ini, aku bisa mengatasinya."
"Cucu ibu baik baik saja kan?" tanya Hana lagi.
"Ibu tau darimana?" Ucap Blevin penuh pertanyaan.
"Audrey." ucap nyonya Hana singkat.
"Dia menghubungi mu?"
"Ya... dia juga memesankan roti kacang kesukaan mu."
"Lalu dia bilang apa lagi? kapan dia pulang?" ucap Blevin kesal penuh harap.
"Mungkin beberapa hari lagi, kau tidak menghubunginya? ataukah dia tidak bisa di hubungi?" selidik nyonya Hana.
"Ibu, kesalahan ku tempo hari, mungkin dia tidak akan pernah memaafkan ku." ucap Blevin ragu.
"Siapa yang tidak akan memaafkan siapa anak ku?" tanya tuan Andi pada anak menantunya itu.
"Ayah?"
"Kau adalah ibu dari keturunan kami, Blevin dia akan memaafkan mu, jangan berpikir begitu sehingga kau bersedih, ayah akan membawa anak itu pulang dan meminta maaf pada mu."
"tidak usah ayah, harusnya aku yang minta maaf mengajak cucu mu pulang larut malam, dan menemani ku pergi ke tempat seperti itu." ucap Blevin menyesal.
"Lalu apakah kau membahayakan cucu ku? apakah kau minum alkohol atau bir? kau mabuk?" tanya Andi berturut-turut.
"Aku masih punya hati untuk tidak mabuk atau menyentuh semua itu ayah, aku ibunya yang akan menjaganya." ucap Blevin sedih.
"Ya... kau berhak berteman dengan siapapun, dan melakukan apapun selama itu tidak membahayakan kalian berdua, ayah akan bicara pada Audrey, sudahlah sayang jangan menangis lagi, nanti cucu ku sedih melihat mu bersedih."
Blevin tersenyum dan sedikit melupakan permasalahannya yang tidak jelas itu dengan Audrey, bahkan dia memakan satu buah roti kacang yang di hidangkan di atas meja bersama teh bunga.
__ADS_1