Straight Devil

Straight Devil
Sosok My B


__ADS_3

Audrey telah pergi melangkah bersama Dio yang selalu terlihat minimalis dan optimis.


Aku terpana antara bahagia dan sedih sebenarnya, ketika aku tau bahwa di ruangan Audrey terdapat foto pernikahan kami.


Dengan figura berwarna hitam, seukuran meja kerja, kami terlihat baik baik saja di foto itu, aku terlihat sungguh menawan, dan senyum Audrey terkesan sangat tulus dan bahagia.


Mungkin ini yang di nantikan dan diharapkan olehnya, aku bis tersenyum lepas dan bahagia, jadi dia menyaksikan ku di dalam foto itu.


Aku masih berdiri tegak terperangah, aku tidak percaya bahwa hal yang tidak pernah aku lakukan begitu berharga untuk seseorang, sampai sampai dibuat mewah di ruang kerjanya.


Aku melangkah menuju sebuah pintu di sudut ruangan, aku membukanya, ternyata pintu itu adalah kamar tidur, lengkap dengan toilet kecil di dalamnya, hanya ada shower dan closet disini.


Lemari pakaian yang cukup besar berada di ruangan ini, kesan soft dari warna abu dan hitam, serta lampu berwarna warm white, membuat segalanya menjadi mewah, tempat tidur dengan kasur halusnya, ini mirip hotel?


Aku mengakhiri petualangan ku di kamar itu, aku memilih duduk di kursi kerja milik Audrey, aku membuka laci kerjanya, memang aku ini sedikit geratak orangnya.


Buku bersampul hitam miliknya, merupakan buku yang enam atau lima tahun lalu aku temukan.


Ingat tidak dengan nama My B... ya... Ini buku yang berisi lukisan karakter my B milik Audrey.


Perlahan aku membuka lembar demi lembar, aku memaknai setiap kata yang di tulisnya di sana.


Monday morning sunny.


...Pertama kalinya dia bisa tersenyum pada ku, aku bahagia, tapi tidak tau apakah dia bahagia sungguhan ataukah hanya pura pura, tapi tak apa, aku bahagia meski hanya untuk kepura-puraan....


...My B, aku hanya bisa menyaksikan kebahagiaan mu secara diam....

__ADS_1


1.


Suka...


Darimana mulainya ya...


Hari ini Haru menelpon ku, dia bilang dia mencintai ku, tapi aku sudah punya cinta yang baru. Gadis berambut cokelat yang menghipnotis ku, matanya yang berbinar, serta senyumnya yang seperti morfin, My B karakter mu sungguh luar bisa.


membuat ku gila.


2.


Setelah dua halaman itu aku melihat gambar seorang wanita dengan syal, dan jaket bertuliskan my Frist Love My B.


Cklek...


"Itu milik ku! Lancang sekali kau membaca yang bukan hak mu!" Audrey berteriak dan merampas buku itu, dia marah? kenapa? dia takut rahasianya di ketahui oleh ku, aku kan tokoh yang menjadi rahasianya.


"Audrey?" Aku masih bingung dengan raut wajah Audrey yang menyeramkan.


"Belajarlah sopan santun, meski itu milik suami mu sendiri, hargailah privasi orang lain, meski itu suami mu sendiri!" Ucapnya dengan nada penuh penekanan.


"Maaf Audrey." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut ku.


"Kenapa? kau mau bertanya siapa tokoh yang ku gambar? Kau mau tau siapa cinta pertama ku? siapa orang yang selama ini aku cintai? kau mencari tau tentang ini sejak lama kan?" Ucapnya berteriak pada ku.


Aku mengangguk dan menahan rasa takut yang sudah ada di atas kepala.

__ADS_1


"My B adalah sebuah tokoh yang berada di dalam dirimu!" tunjuknya pada ku, dengan nada marah.


Aku nampak bingung, apa maksudnya.


"Sebuah tokoh yang terpendam dalam dirimu, kesopanan, kasih sayang, kelembutan, ekspresif, dan satu lagi tidak pernah putus asa." Ucapnya sedikit melemah.


"Audrey? kau melihat semua itu dalam diriku?" Audrey hanya mengangguk.


"Itu bukan aku!" Jawab ku tak kalah tajam.


"Itu bukan aku, itu Bella!" Ucap ku menahan air mata.


"Apa maksud mu Blevin? ini tidak ada hubungannya dengan Bella, kau yang bersama ku, bukan Bella!"


"Bella sama persis dengan apa yang kau sebutkan tadi, itu bukan aku, aku tidak memiliki kelembutan sedikit pun, aku penuh dengan ambisi dan balas dendam! aku bukan Bella, dan karakter yang kau maksud!"


Berasa di cabik hati ku, bagaiman bisa Audrey menggambarkan ilusi yang berada dalam diriku, dia berharap aku seperti itu? Tidak mungkin Audrey, aku jauh dari semua itu.


"Blevin! Tunggu kau mau kemana! Blevin!"


Audrey berteriak, sementara aku terus melangkah menuju lift sambil membendung air mata, agar tidak jatuh.


Aku naik taksi dan pergi, aku kembali ke rumah dan menyerahkan bungkusan yang di beli Audrey tadi kepada Sinta, bahkan Sinta yang membayar ongkos taksi ku tadi.


"Sinta, panaskan ini di microwave, lalu bawa ke halaman samping."


"Baik nyonya." Aku masuk kedalam kamar dan mengganti baju ku, aku juga cuci muka agar menyamarkan tangisan ku.

__ADS_1


Kenapa sejak aku kecil semua orang selalu menggambarkan sosok ku yang seperti itu, kenapa? padahal semua itu adalah Bella, Bella yang selalu di inginkan semua orang, Bella yang selalu di kenal dengan kelembutan dan ketulusannya.


__ADS_2