Straight Devil

Straight Devil
Dia Kembali


__ADS_3

Hari berganti menjadikan cerita panjang penuh kebimbangan, aku tidak tau bagaimana keadaan Blevin di dalam mansion besar milik tuan Diego itu.


Seminggu yang lalu Blevin dinyatakan boleh pulang dari rumah sakit, itu membuat ku kehilangan rasa khawatir akan kondisinya yang belum stabil.


Setiap hari aku mengantarkan bunga mawar kepada Blevin tanpa harus bertatap dengannya, bunga bunga itu ku ambil dari halaman samping rumah kami, pohonnya Blevin yang menanam.


"Tuan lagi? kenapa tidak masuk saja kedalam?" tanya satpam yang memang tidak tahu masalah diantara kami.


"Tidak, berikan saja pada istri ku, titip salam untuknya, jaga kesehatan dan jangan lupa minum obat." Ucap ku getir menahan hampa yang kian hari ku rasa, menertawakan kebodohan yang aku buat sendiri.


"Baiklah tuan."


Di kantor aku hanya sibuk memikirkan Blevin, menatap foto pernikahan yang terbingkai indah menyapa siapapun yang masuk keruangan ku.


"Jangan di pandang terus, Gue tau Lo kangen, coba untuk bertemu, mungkin Blevin juga merasakan hal yang sama dengan Lo."


"Di, apa gue lepas dia aja ya... gue gak bisa biarin dia tersiksa dengan perasaan yang kaya gini."


"Drey, semua perlu di perjuangkan, Lo sama Blevin masih bisa bertahan, Lo pergi ke rumah tuan Diego jemput dia, gue yakin dia mau."


"Gue gak akan lakuin itu Di, Blevin minta waktu dua Minggu untuk memikirkan kesempatan kedua buat gue."


"Yaudah, terserah." Dio melangkah pergi meninggalkan ruangan ini.


Sore ini aku pulang lebih cepat, aku menyempatkan diri untuk mampir ke toko roti untuk membeli roti kacang kesukaan Blevin.


Aku sangat merindukannya, apakah dia akan memberi kesempatan kedua untuk ku? hanya itu yang selalu menjadi fokus ku.


Kembali ku datangi mansion besar milik tuan Diego, ayah mertua ku, terlihat pintu gerbang di buka, ayah mertua ku juga baru kembali dari kesehariannya.


"Audrey! kau kesini, silahkan masuk!" sapanya, dia menyuruhku untuk masuk namun aku akan tetap memenuhi janji ku pada Blevin, sampai saatnya semua siap aku baru bisa menemuinya.


"Saya hanya ingin mengantar ini untuk Blevin ayah, bagaimana kondisinya?" Tuan Diego tersenyum dan memeluk ku.


"Dia lebih parah dari mu, semalaman dia bahkan tidak tidur, dia hanya menatap bingkisan yang kau berikan setiap harinya."


Benarkah Blevin seperti itu?


"Sebaiknya salah satu diantara kalian melunturkan ego, Audrey saya lebih suka Blevin si pembangkang dari pada putri diam yang tidak bersemangat menjalani hidup."


"Boleh aku masuk?" Aku memantapkan diri untuk bertemu dengannya.

__ADS_1


"ayo." Ucap ayah dengan senyum.


Betapa aku terkejut mendapati keadaan istri ku, tatapan kosong, berada di kursi roda, mengamati buket bunga yang tadi pagi ku berikan.


Aku bersimpuh dihadapannya aku menatap matanya yang kosong.


"Kau datang? kau melanggar semua perkataan ku." ucapnya lemah.


"Aku tidak perduli meski harus melukai mu, atas keputusan mu, aku hanya mau melihat keadaan mu, Blevin maafkan aku." ucapku berurai air mata.


Blevin tersenyum, "Kau menangis, mengapa?"


"Karena kau menyiksa dirimu sendiri, karena kau tidak bisa kembali bangkit menjadi Blevin ku." Blevin masih tersenyum.


"Ini yang kau inginkan bukan? diri ku yang kau gambarkan." Teringat pada tokoh yang ku gambar beberapa tahun lalu, tokoh yang membuat Blevin marah.


"Aku mengabulkan semua permintaan mu, tidak ada yang sempurna Audrey, kau ingin aku kembali seperti apa yang kau gambar, namun ini yang harus kau terima, Blevin yang menyerah dalam keadaan."


"Kembali lah bersama ku, jadilah apa yang engkau mau, aku mencintaimu apa adanya sekarang."


"Audrey, bisakah kita bersama untuk selamanya, berjanji untuk tidak meninggalkan ku dalam keadaan apapun?"


Aku memeluk Blevin aku tidak bersuara, aku hanya menikmati sedikit waktu jika memang ini yang tersisa untuk ku.


"Kita pulang sekarang!" Blevin tersenyum dan mengecup pipi ku singkat.


Jam menunjukkan pukul delapan malam, kami baru sampai di rumah, Blevin tertidur selama dalam perjalanan.


Aku menidurkan dirinya di kasur, aku mengganti bajunya dan menyelimuti tubuhnya, nampak kurus, dan pucat, aku mengecup keningnya.


"Selamat malam my wife."


Aku pun segera menyusulnya untuk tidur.


Hari sudah mulai pagi, aku membuatkan sarapan pagi untuk Blevin, makanan sehat yang ku dapat dari internet.


Setelah semua terhidang di meja makan, Sinta dan Nina menyapa ku.


"Tuan masak semua ini?"


"Ya..."

__ADS_1


"Semoga nyonya cepat sembuh dan bisa kembali beraktivitas."


Aku kembali ke kamar mendapatkan istri ku sudah terbangun dan menyisir rambutnya di meja rias.


"Syukurlah kau sudah bangun, aku sudah membuat sarapan untuk mu, aku akan membawa mu untuk sarapan sekarang."


"Audrey... aku belum mandi." ujarnya.


"Mau ku mandikan?" tawar ku.


"Apa kau bisa memandikan ku?" tanyanya sedikit menggoda.


"Kau sudah sehat ya???"


"Kenapa?"


"Sudah bisa menggoda ku? ayo... ku mandikan." ujar ku sambil menggendong Blevin.


Aku memandikannya di bathtub, dia tampak tersenyum menatap ku yang menyabuni tubuhnya.


cup... Kecupan singkat mampir di pipi ku.


"Terimakasih, sudah mau melunturkan ego mu, maafkan aku tidak bisa menjaganya."


"Aku juga minta maaf karena terlalu kasar pada mu." Aku mengecup bibirnya, saat aku melepaskannya Blevin malah menahan tengkuk ku, jadilah seluruh baju ku ikut basah karena Blevin memeluk ku erat.


"Baju ku basah."


"Aku juga akan memandikan mu Audrey." Aku terkejut dengan perkataannya.


"Tidak kau tidak boleh terlalu lama disini, kau akan kedinginan."


"Kau tidak akan membiarkan ku kedinginan."


"Kenapa?"


"Kau akan selalu berusaha menghangatkan ku kan?" Aku tersenyum dan membilas badannya, dan menggendongnya sampai ke kasur.


"Berpakaianlah kita akan sarapan, kau tidak boleh telat minum obat."


"Baiklah suami ku." Aku tertawa mendengar hal langka yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Dan akhirnya dia kembali menjadi Blevin yang memang seharusnya, aku mencintainya dan aku rasakan hancur disaat dia tidak bisa ku gapai.


__ADS_2