
Pagi hari ini aku terbangun, menatap indahnya bidadari yang sedang berdiri membawa nampan berisi makanan dengan rambut coklatnya yang di ikat memperlihatkan leher jenjangnya, aku tersenyum menatap dirinya penuh minat.
"Makan dulu, Nina sudah membuatkan bubur untuk mu." ucapnya seraya duduk di tepi kasur yang sedang ku tiduri.
"Aku mual." tolak ku dengan angkuhnya, ku pikir dia yang membuat bubur.
"Kau harus makan Audrey, wajah mu sudah pucat."
"Blevin kau tidak tau rasa mual ku saat melihat makanan, aku sudah coba untuk memakannya menahan rasa mual, tapi aku kembali muntah!" Jelas ku kasar.
Wajah Blevin seketika berubah menjadi murung, namun tetap saja tidak membuat ku luluh dia malah tambah cantik.
"Cobalah sedikit saja, aku suapi." Mohonnya lagi, aku tetap tidak bergeming saat sendok makan berisi bubur itu berada di depan mulut ku.
"Audrey, ayolah." desaknya lagi, Aku membuka mulut dan mencicipinya sedikit, namun kembali rasa mual itu datang, seketika Blevin membungkam mulutku dengan kecupan singkatnya.
"Blevin?" Aku masih tidak percaya dengan apa yang dia lakukan.
"Kenapa? satu suapan satu kecupan, bagaimana?" tawarnya pada ku.
Aku mengangguk, dia tersenyum.
"Kau sudah memaafkan tindakan ku tempo hari?" tanya ku padanya.
"Lupakan saja, aku sudah terbiasa dengan watak mu yang selalu susah mengucapkan kata maaf." ujarnya sambil menyuapi ku.
"Sudah dua sendok, berarti dua kecupan!" ujar ku memintanya, dia melupakan kecupan yang dia janjikan.
"Baiklah." uajrnya dia mengecup dahi dan pipi ku.
"Kenapa di pipi dan dahi?"
"Aku tidak bilang akan mengecup mu di tempat yang sama Audrey!"
"Sudahlah, aku mual, aku sudah selesai." tolak ku lagi pada sendok berisi bubur yang akan dia suapi lagi.
"Kenapa setiap kali kau sakit aku yang harus selalu di susahkan?" tanyanya menggerutu padaku.
"Karena kau orang yang seharusnya menjaga ku agar tetap baik baik saja." ujar ku sembarangan, sesaat dia ingin pergi sambil membawa nampan tadi, aku menariknya agar duduk di pangkuan ku.
__ADS_1
"Kau mau kemana?" ujar ku saat mata indahnya menatap ku.
"Aku mau menemui Davi."
"Ahhh... sampai kapan kau berteman dengan pria aneh itu?" Aku malas jika sudah membalas Davi.
"Dia bukan pria sebentar lagi, dan kau tidak usah cemburu!" uajrnya mengejek ku.
"Bukan pria lagi?"
"Ya... Davi datang hanya untuk bertemu dengan ku, sebelum dirinya akan menjalani operasi transgender, dia akan menikah dengan kakak tingkat kami."
"Serius?"
"Iya Audrey, Davi akan menjadi perempuan sungguhan, dia akan menikah dengan senior Billy."
"Billy? Pria tampan yang digemari perempuan di kampus?"
"Iya..."
"Pantas saja dia juga mendekati ku saat kau menjual nama ku sebagai seorang homo." ucap ku kesal mengingat kejadian itu.
"Iya, tapi aku normal." ucap ku sinis, sambil mengelus perut rata Blevin yang berisi benih ku.
"Iya aku tau, Audrey maafkan aku atas kejadian dulu."
"Sepertinya sulit di maafkan."
Wajahnya berubah menjadi murung.
"Sulit di maafkan jika kau belum mengakui sendiri ke laki lakian ku." Ujar ku sambil tersenyum.
Cup...
Blevin mengecup singkat pipi kiri ku.
"Aku bonuskan satu karena kau sudah memaafkan ku."
"Aku tidak bilang begitu." ujar ku bingung.
__ADS_1
"Sejak malam di rumah nenek Tagashi aku sudah mengakui keperkasaan mu, dan malam malam yang lalu, bahkan sekarang dia berada aku sudah melunturkan cap homo pada mu."
Tatapan lembutnya mampu menghipnotis diriku.
"Audrey, sekarang izinkan aku pergi menemani Davi, izinkan aku menghabiskan waktu dengan sahabat ku itu."
Aku melepaskan pelukanku padanya dan dia kembali menyambar bibir ku.
"Thanks untuk kebijaksanaan mu, cepat sembuh aku menunggu mu." ucapnya sambil berkedip.
Blevin mau sampai kapan kau tidak setuju dengan perasaan mu, aku sudah melihatnya sejak awal, ketertarikan mu pada ku, tapi kau gengsi Blevin.
Hari ini berlalu dengan cepat, sedari tadi siang Blevin pergi dengan Davi, entah mereka berdua kemana, akhirnya ku putuskan untuk mengganti pakaian dan tidur.
Saat aku terbangun di tengah malam aku melihat Blevin dan Davi baru kembali ke rumah, aku enggan bertanya pada Blevin, aku memilih diam dari pada bertengkar.
Keesokan paginya aku juga enggan memulai pembicaraan dengan Blevin dan Davi yang terlihat semangat sekali menyantap sarapannya.
"Hari ini aku dan Dio akan pergi ke luar kota, jaga bayi kita, jika terjadi sesuatu kabari aku!" ucap ku sinis, Nina datang membawa koper ku.
"Nina, taruh itu di bagasi mobil."
"Baik tuan."
"Audrey? berapa lama kau akan pergi?"
"Aku akan sering berpergian, proyek hotel yang berada di Surabaya mengharuskan ku mengeceknya sebulan minimal satu kali." terang ku pada Blevin.
"Dengan siapa kau akan pergi?"
"Dengan Dio, mungkin juga dengan Gita."
"Gita?"
"Ya... dia sekertaris baru ku, baru dua bulan ini dia bekerja." jelas ku pada Blevin.
"Hati hati." ucapnya lesu, biar saja aku memang berubah dingin padanya.
"Aku pergi." pamit ku padanya yang masih mematung, aku tidak berpamitan seperti biasanya, biasanya sebelum berangkat aku akan mengusap perutnya, tapi kali ini lebih baik acuh sampai dia tau dimana kesalahannya.
__ADS_1