Straight Devil

Straight Devil
Tamparan Kedua


__ADS_3

Aku tidak tau dan sungguh sungguh bingung saat ini, perkataan Audrey tadi seakan menampar ku.


"Blevin, bisakah kau bantu aku sebentar?" Audrey berteriak dari dalam kamar, apa lagi yang mengusiknya kali ini.


"Ada apa?" Aku datang dengan kantung makanan di tangan ku.


"Letakan dulu kantung ciki itu, bantu aku memasang dasi." menyebalkan sekali manusia ini, memanggil hanya untuk memasang dasi?


"Lakukan saja sendiri, kau punya dua tangan, aku sibuk!" ujar ku ketus.


"Sibuk apa? mengunyah ciki di tangan mu itu, lagi pula kau harus tau satu hal." Audrey menarik nafas kasar.


"Apa yang harus ku tau? kau semalam ini berpakaian rapi... kau mau kencan?" jawab ku duduk di ranjang sambil mengunyah ciki yang ku makan.


"Kencan? ide yang tidak buruk, tapi aku bukan ingin berkencan, malam ini aku akan menghadiri pertemuan besar di hotel Maroon, semua yang hadir haruslah berpakaian formal." Ujar Audrey membuang dasinya.


"Dan satu hal yang perlu kau tau, tuan sempurna ini tidak bisa memakai dasi, dan ku harap kau tidak merendahkan ku karena itu."


Aku tertawa dan menghempaskan kantung ciki tadi, aku beranjak dari duduk ku kemudian menghadapkan tubuh Audrey pada ku.


"Jadi tuan serba bisa ini tidak bisa memakai dasi? pantas jika aku jarang melihat mu mengenakan dasi ketika berangkat, tapi kenapa saat pulang kau memakai dasi? siapa yang memakaikannya?" tanya ku sambil membuat simpul dasi di lehernya.


"Dio, dan hari ini dia tidak ikut menghadiri pertemuan itu, dia masih di Manchester." Aku cukup kaget, selama ini Dio yang sangat setia memakaikan dasi untuknya.


"Oh ya... biasanya kau tidak pernah menggunakan sprei itu, kemana sprei kesukaan mu?" Tanya Audrey penasaran, memang sejak beberapa Minggu ini aku tidak mengganti sprei itu.


Gawat jika Audrey marah bagaimana ya...?

__ADS_1


"Kau diam? kenapa? bukannya kau selalu mengganti dengan warna kesukaan mu itu?"


Aku rasa dia tidak akan marah, mungkin saat tau jika itu semua juga ulahnya.


"Aku membuang sprei itu, berikut juga piyama biru milik mu." Aku segera beralih dan membenarkan kerah baju Audrey.


"Kenapa?"


"Semua salah mu, saat kau demam bulan lalu, kau itu buang air kecil di ranjang, kasur, sprei,selimut dan seluruh baju mu basah dan itu sangat amat bau dan tidak mungkin untuk ku cuci, jadi aku lebih memilih untuk membuang semuanya." Kesal ku pada Audrey.


"Kau marah?" ucap ku lagi saat dia menarik nafas dan memakai kacamata minusnya.


"Tidak, biar ku carikan warna yang sama dengan sprei kesukaan mu itu, aku juga akan mencari piyama baru, tentunya juga yang sama persis seperti gaun malam mu." ucapnya santai.


"Gaun malam?" tanya ku.


Dia beranjak keluar dari kamar sambil membawa tas kerjanya.


Audrey, maaf ternyata aku salah paham pada mu selama ini.


Aku masih gusar, mata ku tidak bisa terpejam, rasanya aku sudah lelah tapi kenapa mata ku tidak mau menuruti ku untuk terlelap.


Dari pada aku hanya diam dan melamun lebih baik aku membuka koper dan menyuci baju kotor ku.


Jam menunjukkan pukul tiga pagi, Audrey belum juga kembali, apakah pertemuan itu lebih penting daripada aku?


Loh? kenapa aku berpikir demikian? tidak mungkin Audrey akan perduli pada ku.

__ADS_1


Seketika pintu apartemen terbuka, Audrey terlihat mengantuk, dia membuka sepatu dan jas miliknya, setelah itu tanpa perduli dengan keberadaan ku dia masuk kedalam kamar dan tidur.


Mungkin dia sangat lelah, aku memutuskan untuk tidur di sofa ruang tv, tak lama dari itu aku tertidur dengan pulas.


Hari hari kami berjalan seperti biasa, dia bicara aku jawab, dia diam, ya... aku diam.


Kalian tau, beberapa hari ini aku di sibukan dengan bersih bersih rumah dan kursus memasak, tapi aku masih enggan memperlihatkan semuanya pada Audrey bisa bisa iblis itu akan besar kepala nanti.


Pernikahan kami sudah berjalan 4 bulan lamanya, itu tentu mengundang pertanyaan ayah ku, dia terus meminta cucu dari ku, dan aku? mana bisa memberikannya, hati ku masih menolak Audrey, bahkan bersentuhan dengannya saja pun aku malas.


Tentang, sprei dan piyama? Audrey sudah membeli yang baru, dan sudah dua hari Audrey pergi tanpa ku tahu kemana, saat Dio menelpon ku kemarin, Dio juga menanyakan Audrey, berarti Audrey juga menghilang dari Dio, dan kemana iblis itu?


Ibu mertua ku juga kesusahan untuk menghubungi Audrey, tapi dia menyarankan ku untuk mencari Audrey kesebuah alamat, aku tau alamat itu, kawasan perbukitan di sekitar Bogor.


Aku mendatangi rumah berpagar coklat yang cukup tertutup, mau apa Audrey berada di rumah besar seperti ini?


"Permisi, maaf pak saya mau cari tuan Audrey." ucap ku pada satpam yang berada di pos.


"Tuan Audrey saat ini tidak berada di rumah ini, tapi di dalam ada nyonya Haruka." ucap satpam itu.


"Haruka? siapa Haruka?" tanya ku lagi.


"Haruka adalah nyonya rumah ini, nona, istri dari tuan Audrey."


Jantung ku seperti mau copot sekarang, bagaimana bisa, aku istri Audrey satu satunya!


Aku pergi tanpa mau bertanya apapun lagi, sakit rasanya, ku kira selama ini sudah mengenal dan salah paham pada Audrey ternyata di belakang ku, Audrey juga sama seperti Zain.

__ADS_1


Baiklah Audrey, kau sudah membuka celah bagi ku untuk menjadi yang pertama maka jangan salahkan aku jika aku akan selalu menjadi yang utama di dalam hidup mu!


__ADS_2