Straight Devil

Straight Devil
Teman


__ADS_3

Matahari sudah mulai naik ke peradaban, seseorang masih terlelap menahan kedua matanya untuk terpejam di dalam selimut tebal, permukaan batal yang basah menandakan tangisnya pecah semalam.


Orang itu adalah Blevin Victoria Clark, wanita manja yang kini telah berubah status sebagai staf marketing pada perusahaan iklan dan perfilman tanah air.


Audrey telah sibuk dihalaman belakang, dia juga enggan membangunkan Blevin yang tertidur dengan sangat pulas, Audrey bahkan menelpon paman Anderson untuk menyampaikan bahwa keponakan kesayangannya itu tidak dapat pergi ke kantor karena insiden kecil tadi malam, paman Anderson mengerti dengan cerita Audrey, akhirnya pada hari ini Blevin di bebas tugaskan.


"Bagaimana tuan, apakah ini sudah cukup untuk dua kuda mu?" tanya seorang pria yang merupakan seorang suruhan Audrey untuk membuatkan James dan Jeny kandang, super besar itu.


"Seperti yang ku mau, sisa pembayaran telah ku transfer ke rekening mu, kau boleh pergi dan terimakasih." Kemudian orang itu pergi dan Audrey bersama pak Ali yang ikut tinggal di rumah itu berniat memandikan James dan Jeny.


"Tuan, biar saya saja." pinta pak Ali.


"Tidak apa, kata orang jika menyukai sesuatu kau harus benar² ikut masuk kedalamnya bukan?" tanya Audrey.


Mereka memandikan James dan Jeny berdua, bahkan kandang yang semula menjadi awal tempat menaruh para kuda itu, akhirnya di bersihkan oleh penjaga kebun.


Audrey mencuci kaki dan tangannya sebelum masuk kedalam rumah utama.


""Sinta, apakah nyonya belum bangun?" tanya Audrey pada kepala pelayan.


"Nyonya? nyonya Haruka sudah bangun tuan, ada di dapur menyiapkan makan siang untuk tuan." ujarnya.


P"Maksudku nyonya Blevin!" ucap Audrey sedikit muram.

__ADS_1


"Oh... nona Blevin, dia sepertinya masih tidur." jawabnya.


Tanpa mau berkata apapun lagi, Audrey melangkahkan kakinya menuju kamar Blevin, tidak biasanya Blevin seperti ini, ini sudah pukul 12 siang, tapi dia belum juga terlihat di sudut manapun.


tokk... tokk.. Audrey mengetuk pintu kamar Blevin.


Audrey membukanya dengan kunci cadangan, Audrey hanya menghela nafas menatap mata bengkak milik istrinya itu.


"Kau menangis ya... emh... Blevin kenapa kau tidak pernah memperlihatkan ekspresi di depan ku selain ekspresi marah, jika kau mengerti perasaanku seperti apa pada mu, kau pasti akan melarang ku untuk melakukannya, Blevin tiga tahun menjadi supir mu, membuat ku faham akan dirimu, dan tiga tahun terpisah ternyata juga tidak membuat ku merubah perasan ini." ucap Audrey pelan.


Blevin mengeram, merentangkan kedua tangannya, lalu dia membuka kedua matanya, ada Audrey tepat di depannya sekarang.


"Kau? jam berapa sekarang!" bentak Blevin yang panik karena sinar matahari sudah cukup terik.


"Lalu kenapa tidak ada yang membangunkan ku, aku terlambat untuk bekerja!" teriaknya.


"Tenanglah, sekarang mandi berpakaian, lalu kita makan siang, aku akan menjelaskan setelah makan siang." ucap Audrey.


Akhirnya Blevin mandi dan berpakaian, harum, rapih, mengagumkan itulah Blevin setelah mengenakan lip cream berwarna pink soft.


Blevin duduk di kursi meja makan, Audrey melarang para pelayan untuk melayani Blevin, dia sendiri yang akan mengambilkan Blevin makanan.


"Aku memesan makanan ini khusus untuk mu, jadi sekarang kau harus menghabiskannya." ucap Audrey sambil menuangkan sup tomat kesukaan Blevin, tidak lupa Audrey juga mengambilkan Wagyu steak untuk Blevin.

__ADS_1


"Kau masih ingat semua makanan favoritku Audrey?" tanya Blevin.


"Aku akan selalu mengingat semua yang disukai oleh mu." ucap Audrey, di sisi kanan Audrey terdapat Haruka yang berusaha menetralkan rasa gelisahnya.


Setelah makan siang Audrey menunjukan kandang baru milik James dan Jeny.


"Bagaimana kau suka, dan sekarang Haruka akan kembali tinggal di paviliun." jelas Audrey.


"Kenapa?"


"Kejadian semalam mengingatkan ku akan rumah itu, seharusnya hanya kau yang memegang kekuasaan di sana bukan orang lain, biar mereka semua tau batasannya, Haruka akan kembali ke paviliun."


"Audrey? lalu bagaimana dengan izin ku tidak masuk ke kantor hari ini?"


"Aku sudah menceritakan semuanya pada paman, dan paman mengerti tentang keadaan mu, paman juga bilang kalau kau sebenarnya tidak suka menangis, tapi kau akan sangat rapuh jika sendiri."


Audrey menggenggam kedua tangan Blevin.


"Terimalah aku sebagai teman mu, Blevin, aku tidak mau dianggap lebih jika kau bisa menjadikan ku teman, itu lebih baik, dari pada kau menganggap ku musuh." ucap Audrey.


"Baiklah jika kau mau berteman, kita akan berteman, tapi ini baru tahap awal, aku belum bisa menjadikan kau benar-benar teman Audrey." Blevin menatap Audrey dan melepas genggamannya.


"Tidak apa, mulai sekarang jangan sungkan mengatakan apapun yang kau rasakan kepada ku."

__ADS_1


Blevin hanya mengangguk dan berlalu dengan senyumnya.


__ADS_2