
Seperti biasanya makan pagi tanpa sapaan, berkali sudah aku meminta maaf, meminta agar istri ku itu bisa berdamai dengan ku, nyatanya? tetap saja, tapi aku suka dengan keras kepalanya itu.
Setelah satu Minggu lamanya, akhirnya aku meminta ibu untuk memperbaiki keadaan ku dan Blevin.
"Ayolah Bu, bantu aku untuk memberi penjelasan padanya, aku sudah mencoba selama satu minggu ini, tapi dia tetap saja menyalahkan ku."
"Apa yang membuatnya semarah itu kepada mu, aku sangat mengenal menantu ku, dia tidak mungkin marah tanpa alasan yang jelas Audrey!" tegas ibu ku.
"Bu, ku mohon kali ini saja, beri pengertian padanya, bahwa aku bukan seperti apa yang dia fikirkan."
"Baiklah nanti malam ibu akan datang ke rumah mu, mungkin akan menginap." aku memeluk ibu seraya mengucapkan terimakasih.
Setelah menemui ibu aku datang ke sebuah toko kue, membeli sebuah roti yang Blevin sukai.
"Roti kacangnya saja 1 box, dan jangan lupa masukan juga choco frappe nya."
"Baik tuan." Jawab pelayan itu.
"Saya mau gunakan layanan pesan antar, bisa kirim ke alamat ini?" tanya ku, mana mungkin aku kembali ke rumah dan memberikan ini untuknya, yang ada dia akan berteriak lagi padaku.
Sebenarnya aku tidak takut pada Blevin, namun saat dia berteriak rasanya telinga ku hampir pecah, aku tidak suka dengan suara bising.
Aku meninggalkan toko itu, setelah membayar, ku harap kali ini ibu berhasil membujuk menantunya, setidaknya Blevin sedikit melunak pada ku.
Sesampainya di kantor, resepsionis yang berjaga di depan lobby memberikan ku sebuah kartu undangan pernikahan, salah satu klien ku akan menikah 3 hari lagi, dan sepertinya aku akan mengajak Dio saja, itu lebih baik dari pada mengajak Blevin, mengajak Blevin hanya akan membuat ku sakit hati dengan penolakan.
Saat memasuki ruangan ku, suasana sunyi dan tenang akan selalu menyapa serta memberikan ketenangan untuk diriku sendiri.
__ADS_1
Foto pernikahan aku dan Blevin terpajang disana, foto itu cukup besar dengan figura hitam yang membingkainya, disana Blevin tersenyum, padahal saat itu bisa ku perkiraan dia sangat amat ingin membunuh ku.
Setumpuk dokumen perancangan dan juga beberapa desain gedung sudah ku kerjakan, hari juga sudah petang, Dio mengisyaratkan ku bahwa sekarang waktunya untuk pulang.
Sesampainya di pintu rumah pelayan mengambil tas ku, dan satpam memindahkan mobil ku.
"Dimana nyonya mu?" tanya ku pada Sinta.
"Nyonya dengan ibu anda berada di taman samping." jelasnya, aku datang disana tapi aku hanya sedikit mengintip dan tidak mendengar apapun.
Jadi sebelum makan malam aku memutuskan untuk mandi, karena rasa gerah sudah menyerang ku sejak tadi, aku masuk ke kamar membuka baju ku dan mandi.
Setelah mandi aku keluar dengan menggunakan handuk yang terbelit di pinggang ku.
"Kenapa kau disini?" ucap ku, aku terkejut mendapati Blevin berada di kamar ku, dia tidak pernah masuk kesini sebelumnya, dan ku fikir kejadian siang di Minggu kemarin akan membuat tidak pernah masuk kesini.
"Baju mu." ucapnya datar dan memberikan baju yang dipegang nya pada ku.
"Terimakasih." Aku tersenyum padanya.
"Semua demi ibu mu!" tukasnya dan pergi menutup pintu kamar ku dengan kencang.
Setelah berpakaian aku keluar dari kamar, kami akan makan malam sekarang, Aku duduk di kepala meja, sementara ibu di kiri ku, dan Blevin di kanan ku, hidangan sudah terhidang dengan cukup baik.
Ibu tersenyum pada Blevin, entah apa maksudnya tapi tatapan Blevin menandakan bahwa itu isyarat.
Blevin berdiri dan memberikan nasi ke piring kosong didepan ku, dia juga menaruh berbagai makanan lainnya, dia bahkan menghidangkan sup ke mangkuk ku.
__ADS_1
Aku yang bingung dengan perilaku Blevin hanya mampu mengucap. "Terimakasih."
"Itu sudah tugas ku." ucapnya.
Setelah makan malam kami semua masuk kedalam kamar, aku berada di kamar ku, mengerjakan rancangan desain ruangan sebuah restoran, melihat kembali apa saja yang aku perlu tambahkan disana.
"Kau mau apalagi?" ujar ku mendapati Blevin yang ada di dalam kamar ku di depan pintu Dangan piyama dan bantal guling miliknya.
"Sudah ku bilang semuanya karena ibu!" ucapnya marah, matanya seakan mau keluar.
Dua jam berlalu, sepertinya aku sudah mengantuk, melihat Blevin sudah terlelap di ranjang, membuat ku tersenyum, terimakasih ibu, kau memang malaikat penolong ku.
Aku tidur membelakangi Blevin, awalnya aku mau merengkuhnya, tapi teringat perkara waktu itu, aku urung.
"Audrey..." Mendengar Blevin menyebutkan nama ku, aku berbalik menghadapnya.
"Ada apa?"
"Aku melakukan semuanya karena aku menyayangi ibu mu, jadi anggap saja aku sedang mencoba untuk membuat ibu sedikit tenang, berusaha membuat ibu senang, bukan karena aku kalah dengan mu." ujarnya.
"Tenang saja, aku tidak akan mengacau percobaan mu, bay the way, apa yang membuat mu mampu menjadi seperti ini? ibu cerita tentang apa?" tanya ku.
"Ibu berkata, ibu kehilangan anak perempuannya, ibu bercerita tentang ambisi mu, ibu bercerita bahwa setelah melahirkan putrinya itu, ibu kehilangan rahimnya, ibu tidak bisa lagi mengandung, dan kau harapan terakhir ibu untuk mendapatkan kembali semangatnya, mangkanya saat kau bilang kau ingin menikah, ibu hanya berpesan, asalkan wanita itu bisa menjaga kehormatan dan sopan santun, tidak perduli siapa dia kau bisa menjadikannya istri."
"Ya, itu semua benar, ibu menyuruh ku menikah dengan Haruka saat pertama kali ibu mengenalnya, tapi ibu tau aku tidak cinta pada Haruka, ibu memang ingin memiliki anak perempuan untuk bisa di samakan dengan anaknya, tapi kau tetaplah kau, tidak bisa sama seperti Audrina, Audrina adalah adik kecil ku yang tak pernah bisa tergantikan, aku mau kau menjadi dirimu, bukan orang lain." ucap ku.
"Blevin, jika kau masih belum bisa percaya atau memaafkan ku, tidak papa, kembalilah ke kamar mu, jauhi aku." Aduh... aku ini kenapa juga harus bicara begitu.
__ADS_1
Tapi Blevin malah menghadapkan wajahnya ke wajah ku, dia menatap mata ku, dia mengecup ku sekilas.
"Lupakan semuanya aku setuju dengan mencoba awal baru."