
"Kau tidak bisa bertahan dengan sikap dan pemikiran ku atau karena Haruka?" Dan aku diam seribu bahasa, pertanyaan menjebak apalagi ini Audrey!
Jika aku menjawab Haruka! maka Audrey akan salah paham, tapi jika aku menjawab karena sikap dan pemikiran Audrey, kenapa aku melibatkan Haruka dalam pertengkaran ku?
"Bukan karena keduanya, ini semua karena keputusan ku sendiri!" ucap ku final, aku mau bicara apalagi coba?
Audrey masih berada di atas ku, dia mengungkung ku dengan kedua tangannya, matanya mengiris tajam seperti ingin menerkam ku.
"Jangan pernah berfikir untuk berpisah!" ucapnya singkat dan dia menempelkan bibirnya di bibir ku, lumayan lama tanpa ada ******* atau semacamnya.
Aku memiringkan kepala ku, aku menolak perlakuan Audrey.
"Tetaplah seperti ini dulu, aku ingin memeluk mu, maafkan sikap ku pada mu Blevin." ujarnya nada sendu dalam setiap ucapannya membuat ku seperti tertikam belati, ada rasa sakit namun aku tak tau apa yang ku sesali, dan apa sebabnya.
Aku mengalah, mengalah untuk iblis seperti Audrey, dua hari sudah berlalu semenjak pertengkaran ku dengan Audrey pagi itu.
"Sudah mau berangkat?" tanya Haruka, entah itu untuk Audrey atau untuk ku, karena aku dan Audrey datang bersama ke meja makan.
Kemarin aku membahas lagi tentang minat ku di perusahaan paman, Audrey mengizinkan tapi, ada syarat yang harus ku penuhi, yaitu tidak boleh pulang terlambat, tidak boleh kembali ke rumah lebih dari jam 8 malam.
"Emm... ya Kami mau berangkat sekarang." Audrey tersenyum menanggapi pertanyaan itu, Aku? aku hanya diam dan duduk menikmati segelas susu.
"Blevin, hari ini aku akan mengantar mu, bertemu paman dan tidak perlu menggunakan mobil mu." Perintahnya, semalam mobil ku sudah tiba pak Darto supir pribadi ayah yang membawanya kemari.
Aku hanya mengangguk menanggapi ucapannya.
__ADS_1
"Ini kali pertama mu berada di kantor paman, jangan membuat ulah dan semangat!" Aku tersenyum menatap Audrey, entah kenapa emosi ku padanya hilang pagi ini.
Sesampainya di kantor paman, Audrey dan aku menaiki lift yang akan mengantar kami ke ruangan paman Anderson.
"Permisi, bisakah kami bertemu tuan Anderson?" ucap Audrey.
"Tentu, tuan Audrey sudah di tunggu di dalam." tanpa banyak bicara Audrey tersenyum dan melangkah masuk menuju ruangan paman.
"Selamat pagi Tuan Anderson." ucap Audrey.
"Pagi keponakan ku, Hay Be, apa yang terjadi pada mu, kau nampak kurus sekarang?" ujar paman.
"Seharusnya paman bertanya pada manusia di hadapan mu itu, kenapa aku menjadi seperti ini." ujar ku membalas paman.
"Ayolah, nak kalian sudah dewasa bahkan Nichol dan Ken sudah tidak pernah bertengkar sekarang." ucap paman geram, seakan mengetahui perang dingin diantara kami.
"Be, apakah kau tidak keberatan dengan permintaan Audrey?" tanya paman.
"Tidak papa, lagi pula aku menjual kualitas bukan koneksi!" ujar ku menatap Audrey sadis.
"Baiklah, kita bisa mulai hari ini Be, kau akan di tempatkan pada bagian marketing, dan sore ini para staf marketing akan mengadakan rapat di ruang 3." jelas paman.
"Be, Sherlly akan mengantar mu kesana." Kemudian Sherlly datang dan mengajak ku ke divisi yang di maksud paman tadi.
Semua orang menatap ku di meja kerja di sudut ruangan, aku hanya tersenyum menyapa mereka.
__ADS_1
"Selamat pagi semuanya, hari ini nona Blevin Victoria akan bekerja sama dengan kalian, saya harap kalian bisa bekerjasama dengan baik." ucap nyonya di samping ku, namanya adalah Bu Misye.
"Blevin, saya tinggal selamat bekerja!" tukasnya penuh semangat.
Lalu seorang datang ke meja ku, menyapa dan memperkenalkan diri, dia menjelaskan secara mendetail tentang apa yang harus aku kerjakan, dengan sigap aku mengerti dan segera memiliki ide untuk memperkenalkan produk terbaru kami.
"Terimakasih Sandy." ucap ku saat dia hendak pergi.
"Sama sama, jika ada yang tidak di mengerti tanyakan saja pada ku, meja kerja ku ada di sebelah sana." ujarnya.
Jam menunjukkan pukul dua sore, itu artinya rapat akan segera di mulai, beberapa orang tengah memasuki ruangan dan aku menjadi terakhir yang masuk kesana.
Di depan, Bu Misye sudah berdiri dengan beberapa ide presentasi yang akan dilaksanakan guna memperkenalkan produk kami kepada masyarakat dan para investor.
"Bu, boleh saya berpendapat?" tanya ku, semua orang di ruangan itu menatap ku sekarang.
"Ya, kau boleh menyampaikan pendapat mu."
"Saya hanya ingin sedikit berdiskusi disini, sebaiknya kita gunakan seorang bintang iklan yang cukup berpengaruh dengan produk sabun ini saja, contohnya seorang model cantik atau sepasang suami istri yang sedang naik daun."
"Benar juga, tapi siapa pasangan yang sedang naik daun, dan apakah mereka mau membintangi iklan sabun mandi ini?" tanya Sandy.
"Begini, sabun mandi yang akan kita buatkan iklan di sini adalah sabun yang berfungsi pada keharuman, kelembutan, dimana menggambarkan keromantisan bukan? kalian tidak perlu repot-repot untuk mendeskripsikan kualitas sabun, saat gambaran sabun ini terpancar dari dua orang yang bermain di sebuah iklannya." ujar ku, dan semua orang baru menyadari hal itu.
"Baiklah, saya akan meminta bagian produksi untuk mencari siapa pemerannya, dua hari lagi, kita kembali berkumpul untuk merundingkan apakah artisnya pantas atau tidak." begitu keputusan Bu Misye di buat.
__ADS_1
Kami semua kembali ke meja masing-masing, para karyawan akhirnya keluar dari lantai ini setelah menyimpan berkas rapat tadi, sementara aku, aku sibuk dengan layar monitor, sibuk mengatur rencana promosi kepada investor yang akan bekerja sama pada perusahaan iklan kami.