
Langit mendung akan selalu hadir jika awan gelap selalu menghalangi mentari.
Begitu pula rasa yang singgah di dalam diri, jika kau terus menghalanginya dengan masalah demi masalah, dengan kebencian², dengan masa lalu, hidup mu tidak akan terang, selalu saja diam di tempat.
Blevin mengisi kopernya dengan tumpukan pakaian miliknya, dia sudah kalah dengan rasa marahnya pada Audrey.
Pintu kamarnya di ketuk, dia tidak menghiraukan semuanya, kakinya sudah pasti akan melangkah pergi meninggalkan rumah ini.
"Maafkan mama sayang kita harus pergi." Blevin mengusap perutnya dan berjalan keluar dari kamarnya.
Audrey keluar bersamaan dengan Blevin.
Tangan Blevin di tarik oleh Audrey.
"Blevin, kau mau kemana?"
"Aku akan pergi, jika nanti anak ini lahir aku akan mengirimnya langsung pada mu." Blevin mencoba untuk tidak memperlihatkan tangis yang ada di matanya.
"Tidak! tidak ada yang akan pergi!" ucap Audrey kasar.
"Aku akan pergi sesuai dengan keinginan ku! kau tidak bisa melarang ku!" ucap Blevin kasar.
"Di dalam perut mu ada anak ku! semua yang menjadi milik ku akan tetap tinggal di sisi ku! kau tidak akan pergi!"
__ADS_1
Audrey menarik tangan Blevin, dia membawa Blevin kedalam kamarnya, hati Blevin hancur tapi tenaganya tidak kuat untuk menahan Audrey yang juga di ujung kemarahan.
"Apa yang kau inginkan Blevin?!" tegas Audrey.
"Aku hanya pergi dari sisi mu! aku tidak tahan dengan semua yang terjadi diantara kita, pernikahan yang ingin kita perbaiki nyatanya hanya semu, kau tidak pernah mencintai ku atau perduli dengan ku, kau hanya mahluk egois yang menginginkan anak! kau hanya seorang pria yang penuh ambisi! Kehamilan ku hanya sebuah alasan untuk memberi kebahagian untuk dirimu sendiri!" Blevin terengah-engah mengeluarkan segala perang yang ada di hatinya.
"Lalu pernahkah kau perduli dengan semua yang ku lakukan pada mu! selama ini aku berusaha untuk menarik hati mu, berusaha untuk meluluhkan mu, tapi apa yang ku lihat? kau hanya menganggap ku seorang pria aneh yang merepotkan mu kan?"
Mereka berdua saling menyalahkan, mereka berdebat dengan sangat kacau, emosi keduanya memuncak saat Blevin berkata.
"Aku akan bercerai dengan mu ketika bayi ini lahir, aku mencintaimu tapi tidak bodoh!"
Dengan berteriak Blevin meluapkan semuanya, Blevin mulai merasakan rasa sakit di perutnya,
"Audrey..." rintih nya.
Audrey berbalik, menatapnya yang mulai tidak sadarkan diri.
"Blevin! Blevin bangun!" Ucapnya seraya mengangkat tubuh Blevin, Audrey yang panik memanggil para pelayannya untuk menolong Blevin, kemudian saat semuanya berkumpul Sinta menyarankan untuk pergi ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Audrey berteriak layaknya orang gila memanggil dokter agar istrinya segera di tangani.
"Kami akan melakukan tindakan silahkan bapak keluar, kami akan memeriksa pasien." ucap sang dokter yang berada di pelayanan IGD.
__ADS_1
Dokter perempuan itu memeriksa detak jantung dan denyut nadi Blevin yang hampir tidak bisa di raba, tensi darah Blevin juga sangat rendah, suster berusaha menyadarkan Blevin, dengan mengguncang tubuh dan memanggil namanya.
"siapkan oksigen, kita bawa keruangan ultra sono Gravi."
"Baik dokter!" Mereka semua bergegas pergi, sang dokter mengoleskan gel, lalu menempelkan sebuah alat, terlihat dimonitor, bahwa kantung janin sudah di kelilingi oleh darah.
"Baiklah, kabari keluarganya, untuk menemui dokter Pratama, dia pasien dokter Pratama, saya akan menghubungi dokter Pratama segera." Dokter tadi menghubungi dokter Pratama, sementara sang suster menemui Audrey untuk menjelaskan kondisi Blevin.
Audrey cukup mengerti bahwa kondisi Blevin dan bayinya dalam bahaya.
Audrey juga menemui dokter Pratama.
"Tuan, saya akan menjelaskan disini, berdasarkan pemeriksaan USG, janin yang berada di dalam kandungan nyonya Blevin sebaiknya di keluarkan, karena sudah banyak darah yang menggumpal di sekitar kantung bayi, jika di pertahankan tentu saja nanti dia akan keluar dengan sendirinya, sekarang saya menyerahkan tindakan ini pada anda, mau melakukan tindakan kuretase atau biarkan janin keluar dengan sendirinya?" tanya dokter Pratama.
"Saya mau istri saya selamat, saya sudah tidak memperdulikan bayi saya selamat atau tidak, selamatkan istri saya dok."
"Baiklah, silahkan urus administrasi nya, malam ini juga kita akan melakukan kuretase."
Audrey nampak cemas mengurus semua administrasi Blevin, dalam hatinya menyesal terlah berujar kasar pada istrinya itu.
Sebelum proses kuretase, Audrey menemui Blevin yang belum sadarkan diri, dia mengecup kening Blevin.
"Bukan bayinya yang mau aku lindungi Blevin, tapi dirimu, aku tidak sampai hati jika kau kembali menginjakan kaki ke Club', aku takut ada pria yang menggangu mu dan aku tidak bisa cepat datang, maafkan aku Blevin, semua ini kesalahan termahal yang harus ku tebus."
__ADS_1
Dengan penuh kasih Audrey melepaskan Blevin untuk masuk keruang oprasi.