Straight Devil

Straight Devil
Ketauan


__ADS_3

Pukul dua siang kedua pasangan yang baru saja menikah 5 hari lalu itu memasuki apartemen milik Audrey.


"Audrey, turunkan aku sekarang!" Blevin terus saja memukul suaminya itu agar segera di turunkan dari gendongannya.


"Kau sedang tidak enak badan istri yang sangat baik hati." ledeknya pada sang istri yang masih berada dalam gendongannya.


Audrey menurunkan Blevin di kasur, Blevin masih mendengus kasar, dia sangat tidak suka dengan apa yang dilakukan Audrey.


"Sekarang nyonya Januardy, kau harus menjadi istri yang baik, seperti apa yang ingin kau lakukan, bersihkan kamar ini terlebih dahulu, setelah itu turun ke bawah dan cucilah semua baju yang kotor." ucap Audrey dengan tegas.


"Tidak mau! kau bisa menghubungi layanan laundry." ujar Blevin, dan Audrey mulai lagi dengan kejahilannya.


"Baiklah, berarti tugas mu kosong, sekarang kau harus mengurusi kebutuhan ku, baik lahir atau batin, bagaimana?" tawar Audrey pada Blevin.


"Tidak Audrey, jangan pernah lakukan apapun pada ku, lebih baik aku mencuci saja." Blevin yang mulai emosi dan tidak mau menuruti keinginan Audrey akhirnya turun ke lantai bawah untuk mencuci.


Setelah mencuci baju dan piring kotor, ponsel Blevin berdering menandakan seseorang menghubungi nya.


"Hallo... bagaimana?" Blevin menjawab dengan riang.


"Ah... Ya, nanti malam setelah pemotretan ku selesai aku akan segera menjemput mu, kirimkan saja alamat mu." Ujar Zain yang berada di sambungan telepon.


Audrey masih mengamati Blevin yang berubah air muka saat mendapatkan telpon tadi.


Sejak tadi sore setelah mendapatkan telponnya itu, Blevin memilah baju yang akan dia kenakan, tidak mungkin dia mengenakan baju sembarangan saat akan bertemu dengan pujaan hati sekaligus idolanya itu.


Audrey dimana?


Audrey bersama dengan Dio, tuan Diego dan juga sahabat Audrey yang akan bekerja sama dengannya, namanya Raga.


Blevin pergi dengan Zain, Zain menjemput Blevin di apartemen milik Audrey, dan disinilah mereka berdua sekarang, Zain memilih ruangan private, karena dirinya adalah seorang artis dan juga dia tidak mau orang lain menyangka dirinya berselingkuh dengan istri orang.

__ADS_1


"Zain... aku merindukan mu." Blevin segera memeluk Zain dia tidak berniat untuk melepaskan Zain.


"Be, kau sudah menjadi istri seseorang sekarang, tapi apakah hati mu masih untuk ku?" tanya Zain, raut muka Zain terlihat sangat lelah saat bertanya itu pada Blevin, 2 tahun mereka menjalin hubungan tanpa restu dari orang tua Blevin, dan seminggu yang lalu Zain mendengar berita bahwa pujaan hatinya itu akan menikah dengan seorang arsitek yang sedang naik daun itu.


"Zain, kau akan selalu ada di dalam hati ku, aku sangat mencintai mu, aku juga akan menyerahkan apapun untuk mu." ujar Blevin dengan wajah sendu.


"Blevin, aku sangat mencintai mu, tapi orang tua mu tidak akan pernah mengizinkan kita bersama, dan aku sedikit meragukan mu." ujar Zain.


"Kau meragukan ku?" ucap Blevin terheran.


"Ya... kau tidak pernah mencium ku atau pun hal lainnya yang menandakan kita adalah sepasang kekasih." jelas Zain.


"Zain!!! Aku mencintai mu, cinta bukan hanya sebatas ciuman hal yang sering dilakukan orang banyak, cinta ku itu tulus Zain, cinta ku dari hati, tapi jika kau menganggap bukti cinta ku adalah hal semacam itu lebih baik..."


Tring... tring... Ponsel Blevin berbunyi, dia melihat kontak yang menghubunginya adalah tuan Diego ayahnya.


"Dimana kau?" tanya tuan Diego dari sambungan telepon.


"Jika aku menemukan mu di tempat lain, apa yang akan kau lakukan?" Blevin kehabisan kata dan...


"Siapa yang mengajari mu untuk berbohong putri ku!" tuan Diego ada di hadapan Blevin saat ini, Zain hanya bisa diam dan terpaku di sebelah Blevin.


"Audrey, hukuman apa yang kau mau untuk istri pembohong mu ini?" ucap tuan Diego marah pada Blevin.


"Ayah, aku bisa menyelesaikan ini bersama Blevin, dan kau Blevin ikut aku!" Audrey sungguh marah kali ini, dia tidak bisa untuk menahan emosinya.


"Apa yang kau lakukan Audrey!" Blevin meronta, menghentakan tangannya agar terlepas dari cengkraman Audrey.


"Lepas Audrey sakit!" teriaknya, tapi Audrey segera membuka pintu mobilnya dan memasukan Blevin kedalam.


"Turunkan aku! aku mau bersama Zain, aku mencintai Zain!" Blevin menggebu mengungkap kan perasaan yang menjadi sesak di batinnya.

__ADS_1


"Kau mencintai pria itu?! Kau boleh bertemu dengannya, kau boleh mencintai nya, kau juga boleh bersamanya tapi ingat satu hal, jangan pernah memperlihatkan kebersamaan mu dengannya di depan Ayah mu atau halayak ramai Blevin!" Audrey berteriak pada Blevin, tumpah semua emosi Audrey.


"Sama saja kau tidak mengizinkan ku untuk bersamanya!" Blevin masih menyangkal.


"Kau tau, banyak orang yang mengenal keluarga mu adalah keluarga terpandang, dan aku tidak mau image keluarga mu menjadi hancur saat kau melakukan tindakan konyol!" ucap Audrey dengan emosi yang mudah tesulut.


"Kau tau orang yang patut di salahkan untuk semua hal itu adalah kau Audrey! kau! jika saja kau tidak menikahi ku, jika saja kau tidak...ummmm... ummm!" Audrey secara paksa mencium Blevin, Blevin tentu saja menolak Audrey dengan terus memukul dada Audrey.


"Ingat satu hal dalam hidup mu Blevin, harga dirimu ada pada dirimu sendiri, aku tidak melarang kau mau berteman atau bersama siapapun, tapi ingat satu hal, kau istri ku sekarang, berlakulah sebagai wanita terhormat!" Audrey mengemudikan mobilnya dengan secepat kilat, berkali kali Audrey di teriaki orang, karena hampir saja dia menabrak pengguna jalan lain.


Tanpa kata, Audrey segera mengganti baju dan tidur, dia enggan berdebat atau memarahi Blevin, dia mau Blevin sedikit mencerna perkataan dirinya tadi.


Siang ini Audrey bersama dengan Raga berada di lokasi proyek mereka akan mendirikan bangunan di tempat ini.


"Cocok sekali Ga." ucap Audrey.


"Benarkan, Lo pasti suka tempatnya Drey, apa lagi ini cuma beberapa kilo dari pantai." sambut Raga.


"Bagus banget emang kalau di buat resort, tapi kalo dari struktur tanah dan lain sebagainya kayanya di sini rawan longsor, dan menurut BMKG, disini juga rawan Tsunami." ujar Audrey, sebagai seorang yang profesional Audrey pasti sudah memikirkan itu.


"Nah, itu dia gue minta sama Lo untuk merancang bangunan yang meminimalisir dampak seperti itu."


"Nanti gue coba rancangan ya, kalau untuk urusan bahan bangunan gue udah ada sedikit gambaran, tapi untuk struktur dan bentuknya gue masih mikir deh..." jelas Audrey sambil mengamati lokasi pembangunan.


"Yaudah, pikirin aja dulu, gue ikut karena gue cuma tanam modal doang kan." mereka berdua saling tertawa dan melempar hujatan.


Audrey berencana untuk menghabiskan Sabtu minggunya di sekitaran pantai itu, dia sedang malas dengan Blevin.


"Tidak ada telpon atau pesan yang nyangkut dari Blevin, kabar buruknya apakah wanita itu benar benar sudah tidak bisa belajar lagi, atau kah dia kabur dari ku? biar saja, aku sedang tidak mood bertengkar dengannya." monolog Audrey sambil menatap laut lepas.


Audrey berkeliling dan menatapi pantai dengan kesunyian itu, dia melamun dan terkadang tertawa sumbang, entah apa yang ada di pikirannya itu.

__ADS_1


__ADS_2