Straight Devil

Straight Devil
Menjadi Perawat


__ADS_3

Dengan langkah kesal akhirnya pak Darto supir pribadi ayah mengantarkan ku ke apartemen milik Audrey, dan kau tau?


Banyak sekali orang yang menyapa ku di malam buta seperti ini, pukul 9 aku sampai di hadapan Audrey.


Wajah pucat, dahi berkeringat,bibir pecah pecah, mata sayu dan Audrey mendekap selimut tebal dengan sweaternya.


Aku mengambil termometer digital di dalam kotak P3K.


"Audrey.. Audrey buka mata mu, aku akan mengukur suhu badan mu, kau sudah minum obat?"dia tidak menjawab.


Suhu tubuhnya sangat tinggi, aku harus memberinya makan, aku mulai menyalakan kompor dan menghangatkan kembali sup buatan ibu.


Setelah supnya sedikit mendidih, aku memindahkan supnya kedalam mangkuk, aku juga membawa beberapa obat penurun demam.


"Audrey, makan dulu ya, terus minum obat, setelah itu ganti baju mu yang basah ini." Bujuk ku.


Dengan penuh kesabaran yang aku punya, aku mencoba menyuapi Audrey, meminumkannya obat, dia masih tidak mau berbicara dengan ku, tapi aku tidak menghiraukannya, aku membuka sweater dan selimut Audrey, aku tidak tau mengapa celana Audrey juga ikut basah.


"Audrey? kau buang air kecil disini?" tanya ku dengan suara menggelegar.


Dengan kesal aku membukakan seluruh pakaian Audrey, belum jompo saja sudah menyusahkan! Tapi berapa lama Audrey dengan keadaan seperti ini?


"Audrey? kau bisa mengenakan celana sendiri bukan?" tanya ku, Audrey terlihat tidak merespon, dan terpaksa aku menurunkan celananya dan mengelap seluruh badannya, Aku menutupi aset Audrey dengan selimut, aku tidak mau menodai mata ku ini. Aku memindahkan Audrey ke sisi tempat tidur lain, menggantikan baju miliknya.


Dengan terpaksa aku memindahkan Audrey ke sofa, biarlah semalaman ini biar dia tidur di sofa dulu, aku akan mencuci kasur dan sprei nya.


Aku merebahkan Audrey di sofa, menyelimuti dan mengompresnya dengan air hangat, semoga saja demamnya turun.


Apakah kalian sudah pernah melihat tuan putri mencuci kasur? Kali ini aku mencuci kasur, ku tumpahkan deterjen dan pewangi ke atas kasur itu, dan menyikatnya, kemudian ku basuh dengan kain basah, ketika busanya hilang barulah ku keringkan dengan hairdryer.


Urin Audrey sangat bau, menyebalkan, bahkan terlihat sekali di spreinya warna putih itu sudah berubah kecoklatan, berapa hari sebenarnya Audrey seperti ini?


Aku tidak mencuci sprei miliknya, aku muntah dan lemas ketika mencium baunya, bahkan baju dan selimutnya pun ikut masuk kedalam kantung sampah, aku tidak sanggup mencucinya.


Jam dinding menunjukkan pukul dua, Audrey menggigil sekarang, siapa yang harus aku hubungi?

__ADS_1


Akhirnya ku putuskan untuk menghubungi Dio saja.


"Dio? bisakah kau membantu ku, bisa kau bawa Audrey ke rumah sakit malam ini?"


"Maaf nyonya, saya sedang berada di luar kota."


"Dio, sebenarnya berapa lama Audrey seperti ini?"


"Kemarin sore tuan Audrey tidak terlalu parah, memang bagaimana kondisinya saat ini?"


"Demamnya kembali tinggi, dan sekarang dia menggigil."


"Coba buat dia sehangat mungkin, berbagi suhu misalnya?"


"Baiklah." ucap ku asal, aku panik dan spontan aku memeluk Audrey, air mata ku turun melihat bibirnya membiru, aku tidak tau arti berbagai suhu yang sebenarnya seperti apa, namun saat membuka google, aku tidak jadi, berbagi suhu ternyata, harus memeluk tanpa menggunakan baju, oh no!


Dan bodohnya aku, aku masih saja memeluknya dan mendekap kedua tangannya.


"Audrey, jika besok pagi kau masih seperti ini kita ke rumah sakit saja ya?" tanya ku, tapi kali ini Audrey menjawab.


"Tidak." jawab ku.


"Kau boleh menangis, tapi aku tau tangisan itu bukan untuk ku."


"Audrey, pernahkah kau di hianati seseorang?" tanya ku.


Audrey tersenyum dia menatap ku dengan lekat, kemudian, Cup...


Bibir kasar dan dingin milik Audrey seakan menghangatkan bagian terdalam ku.


"Jangan menangis, aku bersama mu." ucapnya kemudian matanya terpejam lagi.


Pagi hari ini aku sudah sibuk dengan tugas ku untuk merapikan apartemen ini, lihatlah botol air minum berserakan dimana-mana, aku memungut dan mencucinya, mengisi air dan meletakan di dalam kulkas, aku juga mengecek bahan makanan yang ada.


Hanya ada asparagus kaleng dan daging kepiting beku, bagaimana jika kita membuat sup kepiting saja, ah... aku akan mencarinya di google.

__ADS_1


Aku mendapatkan resepnya, tapi tidak ada jeruk lemon disini, tidak apa, yang penting rasanya, pikir ku.


Namun sebelum menyediakan sup itu pada Audrey aku mencicipinya, Uekkk...


ini sup atau air cucian piring? yang ada Audrey akan tambah sakit, akhirnya aku mengalah, lebih baik aku memesan makanan.


Tiga puluh menit kemudian, makanannya datang, bubur sayur dan sup.


Aku memindahkan semua makanan itu ke mangkuk, aku mengecek keadaan Audrey, tadi setelah Audrey bangun aku sudah memandikan dia dan mengantarnya ke toilet untuk buang air kecil.


"Audrey, suhu mu sudah lumayan bagus, sekarang makan dan minum obatnya lagi, kau itu sungguh membuat ku repot." ujar ku kasar.


Aku dengan perasaan gamang menyuapi Audrey bubur, dia hanya mau makan sedikit, nyeri di hati ku kembali terasa, air mata ku kembali menetes.


"Tidak usah ditahan, jika kau mau menangis dan butuh sandaran, aku bersedia, aku tidak akan menyuruh mu untuk selalu kuat." Apa? manusia ini mengejek ku atau apa, dia mengelap air mata yang akan jatuh ke pipi ku.


"Audrey..." tanpa banyak bicara aku memeluknya, entahlah dorongan dari mana, tapi saat ini aku memang sedang butuh seseorang.


"Ada apa? apakah dia mengatakan sesuatu pada mu?" tanya Audrey di sela tangis ku.


"Dia jahat, semalam aku menghubungi Zain, yang menerima telpon ku bukan Zain." ucap ku singkat.


"Hai, tenang dulu, mungkin itu hanya rekan kerjanya, atau mungkin managernya bisa saja Zain sedang berada di tempat lain dan ponselnya tidak di bawa, Blevin apakah kau percaya pada Zain?". Kenapa dia malah menasehati ku?


"Entah sepertinya Zain memang sedang menghindari ku, dan ini tidak pernah di lakukan oleh Zain selama kami saling mengenal."


"Sudah, jangan buang air mata mu untuk ketidak pastian perasaan mu, kau mau ikut dengan ku tidak?"


"Kemana?"


"Manchester, bulan depan klienku meminta ku untuk meninjau sendiri pembangunan rumahnya di sana, jika kau mau aku akan mengajak mu juga." ini kesempatan ku untuk menemui Zain dan meminta jawabannya.


"Aku mau."


"Ya, Dio akan mengatur jadwal ku, dan sekarang bisakah aku tidur lagi, aku sangat lemas dan mengantuk."

__ADS_1


Aku mengangguk dan melepaskan pelukan ku, aku membawa semua peralatan kotor untuk ku cuci di lantai bawah.


__ADS_2