Straight Devil

Straight Devil
Blevin Ku


__ADS_3

Aku tidak pernah mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada diriku ini, aku marah pada Blevin sudah seminggu ini, sebenarnya hanya masalah sempele, Blevin bilang dia tidak melihat ku di sebrang jalan jadi dia meminta pria itu mengantarkan dirinya ke stasiun, yang tidak aku terima sebenarnya bukan alasan dirinya yang pulang terlambat, dan diantarkan ke stasiun.


Aku marah saat Blevin bisa tertawa seceria itu dihadapan pria lain, sementara diantara kita berdua selalu ada peperangan.


Malam ini aku kembali ke rumah, aku melihat Blevin membanting gelas ke lantai dan melukai kakinya, dihadapan Blevin ada Haruka dengan perut yang sudah membuncit dan beberapa asisten rumah tangga kami.


"Kau bisa bicara apapun tentang ku tapi tidak untuk menjelekan atau mengejek orang tua ku! kau bisa memiliki Audrey jika kau mau, silahkan tapi hanya aku disini yang tau status mu sebenarnya!" Blevin berteriak dan membanting gelas itu persis di depan Haruka.


"Blevin!" suara ku menggelegar ke seluruh penjuru ruangan, tapi lagi Blevin berlari menuju kamarnya.


"Apa yang terjadi?" tanya ku pada Haruka dan sekelompok pelayan rumah kami.


"Nona Blevin menyangka kita sedang membicarakan kedua orang tuanya tuan." ucap Sinta, dia kepala pelayan disini.


"Wajar saja Audrey, dia terlihat lelah dan sensitif, lagi pula itu hal biasa, mungkin dia salah paham, kami hanya membicarakan tentang seorang wanita yang masuk ke rumah pria tanpa status." ucap Haruka.


Jika apa yang disampaikan Haruka benar, seharusnya Blevin tidak akan semarah itu, harusnya Haruka lah yang tersindir dan marah.


"Baiklah, ini sudah malam, kau harus istirahat Haru, aku akan ke kamar dan istirahat juga, kalian bereskan semua ini."


"Baik tuan." Dan aku berjalan menuju kamar ku.


Setelah mandi dan berpakaian, aku sepertinya harus menemui Blevin aku juga hendak meminta maaf.


tok... tok... Cklek...


Aku membuka pintu kamar Blevin yang memang tidak terkunci, aku memandangi dirinya yang sedang terisak mengobati luka di kakinya.


"Apakah seperih itu, hingga air mata mu menetes terlalu banyak?" Aku mengambil alih obat di tangannya.

__ADS_1


"Kakimu tertancap kaca, aku harus mencabutnya." Blevin hanya diam dan menundukkan kepalanya, kurasa tangisnya semakin keras dan saat aku mencabut kacanya, darah segar semakin banyak menetes.


"Maaf." ujar ku.


Mata Blevin menatap ku seolah bertanya untuk apa kata maaf itu.


"Maaf sudah tidak percaya dengan perkataan mu, dan maaf karena ulah Haruka, dia bicara apa pada mu?"


"Seperti apa yang dia katakan pada mu?" jawabnya, seolah dia tau jika Haruka menjelaskan sesuatu.


"Jadi semua salah mu? kau salah faham, tapi seharusnya Haruka yang tersinggung, karena dia yang berada di rumah kita tanpa status." terang ku.


"Jadi dia berbohong? ku kira dia benar-benar jujur pada mu Audrey." aku hanya meliriknya.


"kau mau tau apa yang dia katakan atau tetap mempercayai dirinya?" Tanyanya pada ku.


"Tentu aku mau meminta keterangan dari mu, apa yang dia katakan, aku tidak pernah melihat mu seperti tadi."


Benar benar Haruka, darimana mereka bisa berkata hal seperti itu di rumah ini, dan sepertinya aku harus mengumumkan siapa nyonya yang sebenarnya.


"Yasudah, tenangkan dirimu." Aku kembali ke kamar ku untuk istirahat.


Di kamar aku mulai heran dengan perubahan sikap Haru, dulu saat kami masih sama sama seorang mahasiswa Haruka selalu lembut dan bersikap layaknya seorang wanita terhormat, bahkan dia tidak pernah bicara tidak baik, tapi kenapa sekarang Haru berubah?


Aku tidak pernah memiliki perasaan apapun pada Haruka, aku hanya ingin menolongnya seperti saat dia menolong ku, menolong ku mengejar karir dan ambisi ku, tapi kenapa sekarang seakan Haruka berambisi untuk memiliki ku, semua perhatiannya beberapa kali saat Blevin pergi bekerja, bahkan dimalam Blevin pulang terlambat.


Haruka mengatakan mungkin saja Blevin sedang bersama kekasihnya, Siapa kekasihnya? hanya ada Zain dalam otak manusia bodoh itu, atau kah pria yang bersamanya saat di kantor?


Aku berfikir keras saat itu dan Blevin tiba di rumah pada pukul 11 malam, dengan wajah lelah, aku hanya bisa menegurnya, aku mencari tau kebenarannya lewat tuan Anderson, tapi lagi ku dapatkan keterangan bahwa itu adalah Sandy teman satu divisi Blevin.

__ADS_1


Aku cemburu pada Sandy dia bisa membuat Blevin tersenyum seperti itu, senyum yang terakhir kali ku lihat, senyuman untuk supir pribadi yang mengantar nonanya kembali ke rumah, senyuman yang terjadi sebelum badai yang menghantam kami berdua saat itu.


Malam ini aku kembali teringat akan senyuman manis Blevin yang membuat ku tidak bisa tidur semalam karenanya.


"Audrey, bisa antarkan aku ke sebuah mall, I want to buy something for my friend. "


"Tentu saja nona Blevin." ucap ku.


Sesampainya di sebuah mall Blevin mengajak ku ke toko boneka, dia membeli boneka beruang besar berwarna abu² untuk temannya.


"Kenapa kau tidak membeli boneka babi saja, lucu warnanya pink?" tanya ku menyarankan.


"Tidak! aku tidak suka babi."


"Kenapa?"


"Babi itu pemalas, dia itu jorok dan yang utama dia itu rakus!" Jawabnya.


Kemudian kami mampir ke salah satu kedai ice cream, Blevin memesan satu scoop besar.


Ada seorang pria di sudut kedai sedang bermesraan dengan kekasihnya, sang pria terpeleset saat hendak mau keluar dari mejanya, kejadian itu sangat lucu, sehingga kekasihnya juga ikut terjatuh kelantai karena di tarik oleh pria tadi.


Blevin tertawa lepas menyaksikan itu.


"Hahaha... pria itu keterlaluan..." Cantik sekali jika dia tertawa lepas seperti itu.


"Audrey kau sebagai seorang pria jika terjatuh jangan pernah mengajak kekasih mu ya... kasihan."


"Aku tidak akan pernah mengajak kekasih ku dalam kesusahan nona." jawab ku.

__ADS_1


Hari itu, aku benar-benar telah terpikat oleh cucu majikan ku rupanya.


__ADS_2