Straight Devil

Straight Devil
Keterbukaan


__ADS_3

Dibawah temaramnya purnama yang menyinari keheningan malam, terdapat dua insan yang saling mencoba, Audrey dan Blevin.


Audrey mencoba dan sangat berupaya untuk mengubah sedikit demi sedikit sebuah karakter wanita yang telah merebut masa depannya katanya...


Sementara Blevin, dia mencoba untuk tetap tenang berupaya menahan rasa sakit yang dia terima akibat dari rasa cinta dan percaya yang ia buat kepada seseorang yang bahkan dengan mudahnya berpaling.


"Mau coba hidangan milik ku?" tanya Audrey pada wanita yang ada dihadapannya kini, ya... wanita yang katanya akan ia ubah karakternya.


Blevin membuka mulutnya, menerima suapan dari garpu milik Audrey.


"Salmon?" tanya Blevin.


"Tentu, aku sangat suka ikan dibandingkan dengan meat." jawab Audrey cepat, Audrey menelan air mineral yang dia pesan tadi.


"Bagaimana rasanya patah hati?" tanya Audrey kembali memecah hening.


"Aku tidak tau, rasanya aneh." lalu Blevin menaruh peralatan makannya di meja, pertanda dia selesai.


"Ceritakan, aku tidak pernah merasakan patah hati? apakah rasanya seperti kegagalan atau kekecewaan?" tanya Audrey lagi.

__ADS_1


"Kau tau, yang aku rasakan bukan keduanya, yang aku rasakan hanya seperti luka yang tak berdasar, di satu sisi aku tidak menginginkan dia kembali, namun di sisi lain, jika aku mengingat kebersamaan kita selama ini, rasanya ini seperti mimpi buruk yang harus segera aku tinggalkan."


"Kau tidak mau Zain kembali padamu?"


"Tidak! hey... aku seorang Clark, di dalam keluarga ku, selalu menjunjung tinggi yang namanya kesetiaan, dan kau tau saat waktu aku bicara dengan ibu?" Audrey ingat Blevin keluar dari kamarnya dengan wajah yang sulit di artikan.


"Saat itu ibu menampar ku, tapi dia juga tidak sepenuhnya menyalahkan aku, ibu bilang kenapa aku tidak menolak saja pernikahan malam itu, ibu pikir kau dan aku saling mencintai dan aku sudah putus dengan Zain..." Blevin sedikit membenarkan rambutnya yang tergerai indah.


"Ibu meminta ku untuk memperbaiki keadaan, dan aku semakin terluka saat ibu membuat pilihan, bercerai atau memperbaiki keadaan, kau tau mungkin selama ini aku terlalu banyak menyimpulkan, tapi kali ini aku akan meminta penjelasan dari mu, katakan apa alasan utama kau menikahi ku secara tiba-tiba dan tanpa persetujuan ku sebelumnya?"


Audrey kembali menyesap air mineralnya dan mengulum senyum pada Blevin, matanya menatap Blevin tajam dan wajahnya mulai mendekat.


"Maksud mu?"


"Blevin, selama menjadi supir pribadi mu selama dua tahun, aku baru sadar saat tiga tahun berpisah dari mu, aku baru sadar jika ada yang menginginkan mu di dalam diriku, beberapa bulan ini hubungan kita berubah, kau menjadi lebih menyenangkan di mata ku, kau menjadi lebih santai dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, atau saat pertama kita bertemu kembali, dan aku sadar bukan aku yang mengubah mu, kau memang terlahir seperti itu, semua yang aku lihat dan aku rasakan bukan perubahan dari mu, itu merupakan perubahan dari perasaan ku, perasaan yang semakin lama semakin menghangat, yang mengubah dirimu di mata ku."


"Singkat saja tuan, kau terperangkap dalam sebuah permainan mu sendiri?"


"Tidak, aku tidak sedang bermain, aku menikahi mu karena memang aku mau, dan untuk melindungi mu dari Zain awalnya." Blevin tau apa maksud dari perkataan Audrey.

__ADS_1


"Dan kau tau raja iblis, aku tidak bisa membalas setiap titik perasaan mu itu pada ku, aku berharap bisa selalu mendapatkan tempat di hati seseorang tapi nyatanya, aku selalu terluka disaat aku mempercayainya, jika kau bertanya tentang Haruka atau sikap dan perilaku mu, jujur ku katakan karena keduanya, aku tidak tahan dengan rasa marah di dalam diriku saat Haruka berada lebih dekat didekat mu, aku benci saat kau bersikap manis dan penuh senyum dihadapannya."


"Dalam kata lain kau cemburu nyonya?" tanya Audrey.


"Tidak Audrey bukan cemburu, jauh lebih ke membenci pada setiap penghianat, kau tidak jujur telah melindunginya, kau tidak pernah mengatakan sebuah alasan sebelum aku mengetahuinya, kau tau Zain berbohong kepada ku terlalu jauh dan melukai ku terlalu dalam, itu sulit untuk ku."


"Jadi nyonya apa alsan mu memilih untuk memperbaiki keadaan ini? bukankah lebih mudah untuk bercerai saja?"


"Tidak semudah itu, aku masih memikirkan hal berharga yang kau renggut dari ku, dan aku masih berpikir tentang reputasi keluarga ku."


"Jadi bisakah sekarang kita saling percaya, aku akan berusaha, tapi tidak berjanji, karena jika aku berjanji aku takut berhutang pada mu, setuju untuk saling memperbaiki meski tanpa cinta, bukan tanpa, tapi sepihak?"


"Audrey..."


"Ayolah." Audrey menyodorkan tangannya agar di jabat oleh Blevin.


"Tidak Audrey, tunggu aku sampai luka ku sedikit membaik, tapi sebelum itu jangan berharap banyak padaku." ucap Blevin tulus.


Perubahan diri seseorang sebenarnya bukan hanya karena orang itu sendiri yang mau berubah, tapi cara pandang dan cara kita merasakan itu semua, perlahan namun pasti kita tidak bisa merubah karakter atau sikap seseorang tapi diri kitalah yang merubah cara pandangnya, atau orang itu sendiri yang sudah memiliki karakternya dari awal tapi dia tidak memperlihatkannya.

__ADS_1


__ADS_2