Straight Devil

Straight Devil
Kesaksian Haruka


__ADS_3

"Drey... Benjamin dan Gibran ada di lobby, dia nyari lo!" seru Dio dengan panik.


Siang ini aku sedang berada di kantor, untuk membahas beberapa kerjasama dengan sebuah perusahaan konstruksi, kantor ku sekarang merupakan tempat para arsitek muda berkumpul, baik yang masih mengenyam pendidikan atau arsitek yang masih butuh banyak wawasan.


Aku membuat tempat ini sebagai wadah berkumpul sebenarnya tapi, ide dari Dio untuk membuat sebuah kantor yang mengurus perancangan desain bangunan atau rumah idam nampaknya cukup baik, di awal tahun kami hanya mampu membuat 3 bangunan gedung di dalam negri, tapi menginjak tahun kedua Raga memberi kami kesempatan untuk membuat resort yang di kelolanya sekarang, dan di tahun ke tiganya tuan Saga dan profesor Brich meminta aku, Dio dan Aris membuat sebuah rumah idaman milik tuan Saga, profesor Brich juga meminta kami membuat sebuah gedung di Tokyo, semuanya sekarang sedang dalam proses.


"Tidak apa, suruh mereka tunggu di ruang 3, nanti gue nyusul, gue harus selesaikan desain gue, dua jam lagi." Dio nampak heran dengan jawaban ku.


"Lo, nyuruh mereka nunggu dua jam?" aku tersenyum dan mengangguk.


"Gila lo!" jawabnya lalu pergi dari ruangan ku, sementara aku melanjutkan video conference dengan tuan Saga dan profesor Brich bersama ayah mertua ku juga tentunya.


Ayah mertua ku memang ikut serta dalam proyek antara aku dan prof. Brich, karena dia merupakan pemegang saham terbesar dari studio film yang sedang kami garap.


"Tuan tuan sepertinya saya harus undur diri, jika ada hal yang perlu di bicarakan atau keluar dari rencana semestinya tolong hubungi saya, sebisa mungkin saya akan meminimalisir masalah yang ada." ucap ku saat akan mengakhiri perbincangan.


Satu jam berlalu, sepertinya tuan Benjamin dan Gibran sudah tidak sabar untuk melakukan serangannya pada ku, terbukti dengan banyaknya keamanan yang berada di lantai 3 dimana ruangan meeting room 3 berada.


Aku perlahan berjalan dengan santai, sedikit menaikan kaca mata ku yang sedikit melorot.


"Selamat siang tuan tuan." ucap ku dingin namun ada sedikit senyum di bibir.


"Akhirnya kau datang, dimana putri ku!" ucapnya.


"Tenang tuan Ben, aku memang akan menyerahkan putrimu, tapi ada satu hal yang harus kau ketahui terlebih dahulu." ujar ku, lalu Dio membawa dokumen dengan amplop berwarna biru tua.


"Apa yang harus aku tau keparat!" ucapnya kasar.

__ADS_1


Aku menadahkan tangan ku pada Dio dan Dio menyerahkan amplop itu.


"Semuanya telah terbukti dengan beberapa hasil visum dan keterangan dari anak mu sendiri tuan Ben, cobalah mengerti tentang apa yang dirasakan putri mu itu." ucap ku, tuan Ben membuka amplop itu, dia mendengarkan suara Rendy yang sedang berbicara dengan Haruka, bahkan dengan gamblang Haruka menyebutkan bahwa Gibran yang menyiksanya.


"Lalu bagaimana ceritanya kau bisa sampai kemari?" tanya Rendy dalam rekaman itu.


"Aku kabur, pria yang menikahi ku itu membuat ku trauma, dia memukul ku dalam keadaan mabuk, dia tidak mencintai ku tidak sama seperti apa yang dia katakan tempo hari pada ayah ku, aku sungguh tidak ingin bertemu dengannya lagi tuan, bantu aku untuk pergi darinya." ucap Haruka sambil terisak.


Lalu tuan Ben melihat hasil dari visum yang dilakukan Rendy saat Haruka di bius total oleh Rendy seraya mencari bukti tentang kebenaran² yang ada.


"4 bulan lalu anak mu di temukan oleh orang suruhan ku, saat itu anak buah ku yang bernama Rendy menyembunyikan identitasnya, aku menyuruhnya untuk menyelidiki semuanya, saat Haruka di temukan banyak luka lebam di daerah wajah, paha dan lengannya, beberapa hari kemudian, kami mendapat kabar bahwa Haruka ternyata tengah mengandung, aku datang ke rumah sakit yang di tunjuk Rendy untuk mengobatinya, aku awalnya ingin memulangkan dia kepada mu, tapi menurut Rendy, sebaiknya Haruka di sembunyikan dulu, aku menurut dengan semua sekenario Rendy, dan sekarang putri mu dalam keadaan mengandung ada di dalam lindungan ku bersama dengan istriku."


Tuan Benjamin menatap Gibran dengan penuh murka, dia menampar Gibran emosi diantara keduanya semakin memanas.


"Tuan Ben, ikutlah dengan Dio dan Rendy untuk menjemput Putri mu, biarkan kesalahan Gibran pihak keamanan ku yang mengatur." ucap ku, sementara itu aku melangkah keluar menghubungi para pelayan ku dirumah untuk menyiapkan Haruka agar segera di bawa pulang oleh orang tuanya.


Keadaan rumah sedang kosong saat ini, para pelayan sedang membereskan pakaian milik Haruka, Rendy dan tuan Benjamin datang, Haruka merasa ketakutan dan tidak mau menemui mereka.


"Aku mau kembali asalkan aku tidak mau bertemu dengan Gibran, dan berjanjilah untuk tidak memisahkan aku dari bayi ku."


"Kau tidak akan berpisah dengan siapapun, kau tetap akan memiliki semuanya kami semua akan bersama mu."


Perlahan namun pasti Haruka mau kembali kepada orang tuanya, dia nampak memeluk sang ayah dengan menangis.


Setelah selesai dari seluruh pekerjaannya Audrey menyempatkan diri untuk menjemput Blevin di tempat kerjanya, saat itu Blevin memang sudah akan kembali ke rumah, bahkan dia sudah turun ke lobby.


Audrey menunggu Blevin di lobby dan segera menariknya untuk pulang bersama.

__ADS_1


"Audrey? kenapa kau ada disini?" tanya Blevin terkejut.


"Hanya mau menjemput nyonya ku." jawabnya singkat.


"Oh ya?" Blevin tidak menanggapi apapun dia sedang malas dengan Audrey, jika menatap Audrey dia teringat beberapa adegan di malam itu.


"Kenapa kau beberapa hari ini menghindar dari ku?" tanya Audrey.


"Aku tidak menghindar hanya saja jadwal ku sangat padat, dan bertemu dengan Zain setiap hari membuat ku tidak berselera untuk bicara." jujur Blevin, tapi tidak sepenuhnya jujur.


"Oh ya?? kau menemui Zain? berapa kali seharian ini?"


"Tiga kali, saat makan siang, saat mau menyerahkan berkas kebagian produksi dan saat rapat dewan divisi." jelasnya.


"Bukankah Zain hanya seorang aktor?"


"Tentu, tapi dia juga punya peran di perusahaan ini, dia menanam saham sekitar 20%, itu milik ibunya."


Audrey nampak biasa di awal tapi saat melihat ekspresi Blevin berubah mulai muram, dia mencubit hidung Blevin, hal yang paling Blevin hindari selama ini, dia paling benci jika hidungnya di sentuh.


"Audrey!!!"


"Ternyata kau masih sama Blevin yang ku kenal 6 tahun lalu."


"Kau mengingat semuanya Audrey?"


"Jelas, bahkan aku selalu ingat makian yang keluarkan untuk ku saat aku telat menjemput mu di bar, padahal kau tau alasan ku saat itu."

__ADS_1


"Ya... kau sedang melakukan pekerjaan penting, mendesain."


Kemudian keduanya seperti kembali ke masa lalu, mereka kembali dalam mode saling menyinggung.


__ADS_2