Straight Devil

Straight Devil
Pondasi


__ADS_3

"Selamat pagi nyonya Audrey? bagaimana dengan tidurmu?" Audrey menyapa ku saat mata ku kembali terbuka.


"Jam berapa ini?" tanya ku tanpa menghiraukan sapaannya.


"Pukul tujuh pagi." ucapnya santai, kami masih terbalut selimut kini, aku mematikan AC di kamar Audrey dan membuka jendelanya.


"Kau mau kemana?" tanyanya lagi.


"Mandi dan sarapan, mengecek James dan Jeny." Kemudian aku pergi menutup kamar Audrey.


Setelah mandi dan berpakaian, aku menuju ruang makan, mengambil beberapa potong roti dan menyajikannya di piring.


"Sinta, ibu dimana?" tanya ku, sedari tadi aku tidak melihat ibu.


"Ibu mertua anda sudah pergi sejak pukul enam tadi." ucapnya.


"Baiklah." Aku tersenyum pada Sinta dan meminum susu yang dibuatnya tadi.


"Selamat pagi..." sapa Audrey pada kami semua yang berada di ruang makan ada aku, Nina dan Sinta.


"Selamat pagi tuan." ucap mereka berdua.


"Sinta, dimana sarapan pagi ku." tanya Audrey.


"Maaf tuan..."


"Aku menyuruhnya untuk tidak membuat sarapan mu." potong ku.

__ADS_1


"Kenapa?" dia mulai lagi, kenapa harus ada alasan untuk setiap tindakan?


"Karena aku yang akan membuat menu makan mu sekarang, Sinta bawakan makanan tuan mu kesini." Ujar ku.


Beberapa saat Sinta membawa satu set kotak makan dan satu piring makanan untuk Audrey.


"Blevin, kau tidak salah? aku tidak bisa sarapan sebanyak ini." protesnya, memang sarapan Audrey adalah sarapan khusus untuk seorang pria yang menjalankan program kesuburan, aku menyiapkannya sendiri tadi.


"Sinta, bawalah roti lapis ini untuk pak Ali di kandang." suruh ku pada Sinta.


"Makanlah, kau meminta ku memperbaiki semuanya kan, maka aku akan memperbaikinya, mencobanya dari awal membuat sebuah pondasi, bahkan rumah tangga kita sekarang seakan seperti rumah tanpa pondasi kan? hanya seperti hayalan." Ucap ku lagi untuk membuat Audrey berhenti bertanya.


Kami makan dengan tenang, aku mengerti ekspresi wajah Audrey.


"Cobalah untuk terbiasa, makan sehat dan selalu dalam pengawasan ku." ucap ku, sebenarnya aku masih ingin bertanya tentang dirinya, tapi aku takut akan mengacaukan hatinya.


"Blevin, aku pergi sekarang!" ucapnya, kemudian dia pergi sambil mengecup keningku, dan berlalu dengan seenaknya.


"Pak Ali, bagaimana keadaan mereka?"


"Keduanya sehat nyonya, nanti sore dokter Cristal akan datang memeriksa Jeny lebih lanjut." terang pak Ali.


"Baiklah, pak Ali, aku mau bertanya sesuatu padamu." ucap ku seraya tersenyum dan menatap matanya yang seakan penuh kerinduan pada anak dan istrinya yang jauh berada di sebrang sana.


"Ya...nyonya."


"Berapa kali sudah aku bilang padamu, jangan memanggilku nyonya, aku tetap Blevin yang dulu, yang selalu berada dalam gendongan mu, panggil aku nona atau nak saja." protes ku.

__ADS_1


"Baiklah nona." dia tersenyum.


"Berapa lama kau tidak melihat keempat putri mu, dan istri mu?" tanya ku, matanya benar-benar tidak bisa berbohong, dia merindukan mereka semua.


"Cukup lama nona, sekitar 15 tahun, sejak pertama kali aku mengurus kuda mu."


"Apa alasan mu selama ini masih tetap percaya pada istri mu, apakah kalian berdua masih sama-sama berkomunikasi?"


"Nona, setiap rumah punya pondasi, rumah tangga kami terbuat dari 6 buah tiang yang menopang dindingnya."


"Maksud mu?" tanya ku penasaran.


"Pondasi kami terbuat dari kepercayaan dan saling, enam tiang kami adalah putri kami, tujuan kami, landasan agama kami, perjalan kami yang begitu tidak mudah, pemikiran kami, dan satu hal penting kami tidak pernah mempermasalahkan kelemahan diantara kami."


Pak Ali menatap mataku. "Nona, kau masih muda dan penuh dengan ambisi, kau begitu cerdik dan tepat mengambil keputusan, aku terpisah begitu lama dari istri dan anak ku, kami jarang saling menghubungi, tapi kami saling terhubung dengan adanya anak anak kami...


Nona, kau punya pondasi mu sendiri untuk membangun semua yang kau impikan, kau hanya saja harus mendasari semuanya dengan keberanian."


"Pak, aku dan Audrey bukan seperti suami istri yang berjuang, aku tidak mencintai Audrey sedikit pun."


"Nona, konsep dari cinta itu bertumbuh seiring berjalannya waktu, konsep cinta itu saling menerima, yang aku tau adalah obat jatuh cinta itu menikah, tapi menikah bukan racun untuk orang yang tidak saling mencintai, Nona percayalah tuan Audrey adalah pria yang baik, dalam agama ku, seorang pria adalah pemimpin, dan seorang wanita adalah makmum setianya, saat kau membangun rumah mu dengan pondasi kesetiaan, kau akan dapatkan kepercayaan, saat kau membangun rumah mu dengan pondasi cinta, kau akan dapatkan kasih sayang, saat kau bangun rumah mu dengan pondasi saling, maka kau akan dapatkan kekuatan, nona melangkah lah lebih jauh, buat rumah yang senyaman mungkin, selagi masih ada sisa puing dalam dirimu."


Aku hanya bisa tersenyum dan terdiam cukup lama, mencerna kata demi kata yang diutarakan oleh pak Ali.


"Jika pak Ali ingin pulang ke kampung halaman, maka aku akan pesankan tiket, temuilah mereka, urusan James biar aku panggil orang lain untuk mengurusnya."


"nona..."

__ADS_1


"Pak Ali, selagi masih ada kesempatan, mengapa tidak mencoba, mereka merindukan mu, begitu juga dengan kau, pulanglah ku beri izin selama satu Minggu, atau 10 hari." aku tersenyum dan dia meneteskan air matanya, aku tau dia tidak bisa kembali ke kepada keluarganya karena biaya, dia bahkan rela berjauhan demi menyembuhkan istri tercintanya, kebutuhan 4 orang putrinya menjadikan dia semakin kuat berada disini, dia terikat hutang oleh ayah ku untuk pengobatan kanker paru-paru istrinya selama 10 tahun terakhir ini.


Aku harus membangun pondasi ku sendiri.


__ADS_2