
Jangan di pikir aku tidak tau siapa yang menghubunginya tadi, aku tau itu Zain, dan orang itu yang membuat Blevin hampir saja terjerumus, jangan pikir aku tidak tau apa yang akan di lakukan Zain pada Blevin tepat 2 tahun yang lalu.
Langkah kaki ku terhenti saat seseorang pria di asrama menyebutkan nama Blevin malam itu, aku yang mengetahui kemana arah pembicaraan mereka bertiga, aku tidak pernah tau siapa mereka namun saat nama Zain di sebut aku mengerti, Zain adalah pria yang di temui Blevin di cafe kampus kemarin sore.
"Ya, tentu saja Blevin ada disana juga, ah... Zain memang tau barang bagus yang masih orisinil." ungkap salah satu dari mereka.
"Memangnya malam ini ada pesta lagi?" pria berambut keriting itu bertanya.
"tentu, Zain menyiapkan pesta di RosClub malam ini, karena Blevin ulang tahun dan juga Zain akan membuat satu pertunjukan nanti." ucap pria berkulit gelap.
Tanpa memikirkan apapun lagi, aku mencari tempat bernama Ros club' di ponsel ku, ketika menemukannya, aku segera datang ke rumah kakek, menanyakan keberadaan Blevin, nyatanya Blevin belum kembali dari tadi sore, kakeknya pikir Blevin bersama ku, langsung saja ku ambil kunci mobil dan mencari Blevin.
Cukup jauh perjalan ku tempuh, pada akhirnya aku menemukan club' itu, dua orang pengawal menghajar ku karena aku memaksa masuk tanpa menggunakan kartu pengenal.
Tapi seorang wanita bernama Marisa datang menghampiri ku dan dia mengizinkan aku masuk kedalam club'itu, Marisa adalah seorang yang pernah menawar ku saat ide gila Blevin itu muncul.
"Terimakasih nyonya Marisa, aku berhutang banyak pada mu." ucap ku sungguh sungguh.
"Tidak apa Audrey, yang terpenting sekarang kau dapat menemui anak majikan mu itu di dalam, dan masalah tempo hari terimakasih sudah menyadarkan ku, bahwa semua yang aku lakukan itu tidak sehat, karena mu aku jadi berpikir dua kali untuk melakukan semua itu lagi." Marisa adalah seorang pemilik club' ini sebenarnya, dan dia juga selalu berganti pria setiap kali ingin bermain.
Untungnya aku tepat waktu, Blevin hampir saja di paksa meminum obat terlarang itu, kondisi Blevin sedikit mabuk tapi sedikit guyuran air akan menyadarkan dirinya.
Aku berlari ke arahnya bersama dua orang yang tadi memukuli ku.
"Blevin! Bajingan!" Aku menonjok tepat di tulang hidung pria berbaju merah, dia yang ingin memasukan obat itu kedalam mulut Blevin. Setelah aku memukulnya, tiba tiba polisi datang dan lewat pintu belakang akhirnya aku dan Blevin bisa pulang dengan selamat.
Sampai di rumah kakek terus bertanya namun aku berkilah, bahwa Blevin berada di rumah temannya dan meminum sedikit wine. Kakek percaya malam itu, tapi hanya untuk malam itu, keesokan harinya polisi datang dan memeriksa Blevin, dan saat tes keluar barulah aku terpaksa menceritakan semuanya pada kakek, tanpa Blevin tau bahwa Zain adalah dalang dari semua itu, pria pengecut itu, dan sebenarnya aku sedikit murka saat malam dimana Blevin dan dirinya masih saling berhubungan, tapi mau gimana lagi Blevin sepertinya tidak akan percaya dengan semua perkataan ku.
__ADS_1
Pagi hari ini aku mendapat kabar dari Dio bahwa tuan Benjamin hari ini berada di kantor, Dio tidak tau apa dari maksud kedatangannya yang jelas dia ingin menemui ku.
"Kau mau kemana Audrey? bukannya hari ini kau tidak akan pergi ke kantor? katanya mau menghabiskan waktu bersama Blevin?" Itu ibu mertua ku yang berbicara.
"Aku hanya sebentar Bu, aku titip Blevin pada mu, jika dia macam macam cepat hubungi aku, aku hanya sebentar." ucap ku jujur, karena memang aku sedikit malas untuk pergi ke kantor hari ini.
"Yasudah, hati hati, kau mau makan siang apa biar nanti ibu bilang kepada pelayan."
"Tidak usah, aku bisa memesannya dari restoran nanti, baiklah Bu aku pamit."
Setibanya di lobby kantor, tuan Benjamin berdiri dan berhadapan dengan ku.
"Ada perlu apa datang ke sini tuan?" sapa ku, aku enggan berbasa basi dengannya.
"Dimana kau sembunyikan putri ku!" ucap nya tegas penuh penekanan.
Bruak!!! Plak!!!
Tuan Ben memukul ku sampai pelipis ku lebam dan perut ku terasa sakit dan mual.
Beberapa orang termasuk keamanan menyeret ku dan membawa ku keruangan, sementara tuan Ben diamankan.
"Dio, hari ini jadwal gue kosongkan?" tanya ku pada Dio.
"Ya, Lo mau gue anter pulang?" tawarnya.
"Boleh, kayanya gue juga pengen muntah, pusing gue gak bakal bisa nyetir kalo udah kaya gini." keluh ku, karena memang pukulan itu tepat di pelipis dan bagian ulu hati ku, rasanya sungguh lemas.
__ADS_1
"ayo gue bawa lu pulang."
Dio mengantar ku sampai ke kamar Blevin, aku memilih untuk sementara waktu di rumah itu, karena ku rasa jika di apartemen hanya akan menambah para ibu khawatir.
Setelah dokter memeriksa ku, ibu dan ayah ku datang, mereka mencemaskan ku, selama ini aku tidak pernah berkelahi atau mendapat luka separah ini.
"Dio, tolong jelaskan pada kami apa yang sebenarnya terjadi?" itu ibu ku.
"Nyonya Hana, tuan Benjamin datang ke perusahaan, dia menanyakan keberadaan putrinya tapi ketika Audrey menjawab dia tidak terima dan langsung saja memukul Audrey sampai seperti ini." jelas Dio.
"Keterlaluan Benjamin, apa maunya lagi, Audrey sudah tidak pernah menghubungi putrinya lagi, tapi kenapa orang itu selalu menyalahkan Audrey, terlebih sekarang Audrey sudah nikah dengan orang yang sangat di cintainya." oh no! ibu mengatakan apa sekarang, wanita yang sangat ku cintai? Aku melirik Blevin wajahnya sedikit syok tapi ada seringai disana.
"Bu, apakah aku harus mencari Haru?"Tanya ku sedikit melihat reaksi Blevin.
"Untuk apa?"
"Bagaimana pun Haru adalah wanita yang sangat baik dan juga selalu memberikan jalan keluar dalam setiap permasalahan ku."
"Tapi Audrey, ibu pikir membantu mencari Haruka hanya akan membuat Haruka merasa kau masih perduli dan memiliki rasa padanya." terang ibu pada ku.
"Bu, yang ibu takutkan sebenarnya bukan itu, tapi ibu takut jika aku membuat luka di hati seseorang bukan?"
"Jelas anak ku, bagaimana tidak kau sudah memiliki Blevin, dia menantu ku dan kau tidak boleh menyakitinya sedikit pun." ucap ibu pada ku.
"Baiklah, tapi aku kan meminta Seseorang mencari Haru untuk mengamankan dirinya, hanya sekadar ingin tau bukan untuk ikut campur, percayalah Bu aku tidak akan menyakiti siapapun disini." mata ku mengarah pada Blevin dan menggenggam tangan Blevin, mengisyaratkan bahwa kami saling mencintai.
"Baiklah kami keluar, kalian berdua dalam kondisi sama sama sakit, lebih baik istirahat sekarang."
__ADS_1
Mereka pun keluar tinggallah aku dan Blevin yang canggung saat ini.