
Aku terbangun dari tidur singkat ku, rasanya badan ku sangat tidak nyaman sekarang, aku memutuskan untuk memakai pakaian ku tadi, tapi sepertinya sudah tidak bisa dikenakan, bagian depannya sudah robek, dress yang ku kenakan sudah robek karena ulah iblis itu, dimana sekarang pria itu?
Cklik... pintu kamar mandi terbuka, aku menatap Audrey dengan rambut basah dan handuk yang melingkar di bagian pinggang.
Dia membawa jubah mandi dan mengulurkannya pada ku.
"Pakai ini, aku akan mengganti dress mu tadi." Aku ingin marah dan menamparnya, tapi seakan itu semua tidak sanggup aku utarakan.
Aku mengambil jubah mandi itu dan membelakangi Audrey untuk memakainya.
"Aku tidak akan minta maaf pada mu, itu semua milik ku, aku berhak karenanya, Blevin tatap aku!" ucapnya lembut tapi penuh penekanan disana.
Aku menatapnya dengan paksa, aku mencoba untuk tidak menangis.
"Plak!!!" Tamparan ku mengenai pipinya.
"Kau bisa menyakiti aku dengan apapun, tapi tidak dengan cara seperti ini! kau pikir aku apa?"
"Aku tidak berfikir apapun tentang mu, aku hanya mau kita saling membutuhkan, kita saling imbang, dan saling mengerti posisi kita di sini, kau istri ku, bukan musuh ku!"
Tangis ku pecah tanpa bisa dicegah, aku berlari membuka pintu kamar Audrey dengan keadaan hancur, aku menutup kamar ku dan menguncinya, rasanya ini semua tidak mungkin, bagaimana aku bisa menjadi milik Audrey, aku belum bisa mencintai dia, bahkan aku muak dengannya.
Aku melihat jam di dinding, sekarang sudah pukul delapan malam, kami kehadiran tamu, entah siapa, aku enggan melihatnya lebih jauh, biar saja Audrey yang menemaninya, lagi pula itu temannya.
Aku terpaksa harus turun kelantai bawah untuk mengambil air minum, tidak ada satupun pelayan yang lewat ke depan kamar ku, yahhh mau bagaimana lagi, aku sudah sangat haus.
Ketika aku harus menuju dapur, pastilah aku akan dilihat oleh para tamu Audrey, dan satu diantara mereka memanggil ku.
"Nyonya Audrey, apakah kau tidak mau menyapa kami?" dia adalah pria pengantar kuda itu, Raga.
Aku tersenyum masam dan kembali menyapa.
__ADS_1
"Selamat malam, ku pikir kehadiran ku akan mengganggu pembicaraan kalian." ujar ku, karena sedari tadi mereka sangat asyik mengobrol.
"Blevin, kesini sebentar." Audrey menyuruh ku untuk bergabung, lantas haruskah aku bergabung dengan menggunakan piyama tidur.
"Ayolah nyonya, setidaknya kami harus mengenal mu lebih jauh, kau adalah istri dari sahabat kami." Ucap Dio, kali ini dia hadir sebagai sahabat Audrey bukan seorang asisten.
"Baiklah, aku akan sedikit membuang waktu ku bersama kalian." final ku.
Kami sedikit berbincang tentang bisnis, kemudian tentang kehidupan.
"Ya... istri ku sedang hamil sekarang nyonya, usia kandungannya baru 4 bulan, dan aku merasa tidak sabar untuk menggendong anak kami." ucap Roni, dia merupakan teman Audrey yang berasal dari satu universitas yang sama dengan Audrey saat di Tokyo.
"Ya... anak sangat berharga untuk kami, kami berumah tangga sudah hampir 5 tahun, tapi kami baru bisa dipercaya saat ini, setelah melakukan proses inseminasi." itu istrinya yang berbicara.
"Lalu tuan Audrey, nyonya Blevin, kapan kalian berencana memiliki momongan, pernikahan kalian hampir satu tahun, tapi nyonya belum juga mengandung, cobalah untuk konsultasi ke dokter." ujar Raga.
"Kenapa kau meminta kami untuk konsultasi, bagi ku rumah tangga tanpa anak bukan masalah, dibanding harus saling menyalahkan nantinya." ucap ku dengan ketus.
"Sudahlah Raga, mungkin saat ini kami masih harus saling menyesuaikan diri, tidak mudah untuk seorang mengambil keputusan besar tentang anak." jawab Audrey.
Aku yang mulai risih dengan pembicaraan ini, sebaiknya pergi menjauh, aku kembali ke kamar dengan alasan sudah mengantuk.
Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi, tapi mata ku juga tidak mau terpejam, aku mendapati ketukan pintu bergemakan suara Audrey dari luar.
"Blevin, kau sudah tidur?"
"Belum." aku membalas pertanyaannya.
"Boleh aku masuk?"
Tanpa menunggu jawaban dari ku dia masuk sendiri ke kamar ku, entahlah dia mau bicara apa.
__ADS_1
"Blevin, ada apa dengan mu?"
"Apa?"
"Kau semakin cantik saja setiap malam."
"Dasar tukang merayu, aku tidak suka dengan pria Pemaksa dan perayu seperti mu."
"Tidak suka dengan Pemaksa dan perayu, atau tidak suka dengan ku?"
"Aku tidak suka semua yang berkaitan dengan mu!" tegas ku, aku menarik selimut dan masa bodo dengan Audrey.
Tapi tanpa di duga dia memeluk ku dan memaksa membuka selimut ku.
"Kau menghindar terus, Blevin..." dia menggelitik ku tanpa ampun, huh... rasanya ingin ku tendang saja manusia ini.
"apa yang kau inginkan Audrey!" tegas ku.
"Mudah, tidur dikamar ku malam ini, aku tidak bisa tidur."
"Tidak mau, tidur saja sana sendiri, kau pikir setelah tindakan mu tadi siang aku bisa memaafkan mu?"
"Blevin, kau itu istri ku, kau harus terbiasa tentang itu." tegas Audrey kembali, terbiasa katanya, oh tidak...
"Kau tau, kau itu menyakiti ku!"
"Tapi kau menikmatinya tadi."
"Audrey....!!!" Aku berteriak di depan telinganya, dan dia segera pergi dari kamar ku.
Dia sudah mulai gila rupanya.
__ADS_1