
Waktu berlalu dengan begitu cepat 10 hari sudah berlalu, cuti para pelayan pun sudah habis, pak Ali pun sudah kembali ke rumah ini.
Rumah terasa sepi dan membosankan, sejenak aku kembali mengingat 2 tahun tahun masa ku bersama Audrey, aku seorang nona, sementara Audrey? He is my driver.
Jika dipikir bagaimana bisa seorang nona berbagi ranjang dengan supirnya, bagaimana bisa seorang anak dari raja perfilman menikah dengan seorang arsitek yang ku pikir dia tidak dapat menghidupi ku, nyatanya kami berbalik, aku yang tidak bisa menyesuaikan Audrey dengan diriku.
Seminggu lalu Audrey pergi keluar negri beralasan ada proyek baru yang harus ditangani olehnya padahal itu hanya alibinya, dia marah pada ku, dia tau semua rencana ku.
Harusnya aku yang marah padanya, dia tidak pernah bilang apapun tentang kondisinya, yang sangat subur itu.
Audrey tidak mengalami penurunan kesuburan! itu hanya akal akalan ibu mertua ku agar aku mau hamil.
Tringgg.....( Ponsel berbunyi)
"Hallo." sapa ku datar.
"Sudah mau menjawab panggilan ku?" Audrey berbicara dengan santainya, aku memang tidak pernah mau menerima telpon darinya, bahkan seberapa banyak pesan darinya tidak satu pun ku baca.
"Ada apa?" Jawab ku.
"Bisa kita lupakan semuanya? ini bukan tentang keadaan ku, atau obat-obatan yang kau berikan tapi ini tentang hubungan yang mau dibawa kemana, Blevin dengar, aku tidak akan pernah menceraikan mu dengan alasan apapun, kau sudah memilih untuk bertahan? maka bertahanlah!"
Entahlah pikiran ku serasa hilang, tiga hari lalu aku memang meminta pengacara ku untuk mengurus perceraian kami dan mengirimnya pada Audrey.
"Bagaimana jika aku memilih untuk menyerah? Kau tidak tau rasanya dibohongi dengan perkara seperti itu Audrey! Kau pikir mudah menjadi aku, merelakan tubuh ku untuk mu, merelakan rasa malu yang harus ku tahan setiap kali kau menyentuh ku! Kau pikir dimana nurani ku? aku seakan berharap banyak pada mu! bahkan aku takut menanyakan semua ini pada mu, karena untuk sekedar menjaga perasaan mu! aku memposisikan diriku seakan berada di posisi mu! Jangan pernah bermain lagi Audrey! aku sudah muak!" Ponsel pun ku matikan.
Aku teringat bagaimana aku mengetahui semuanya, malam sepulang dari pesta itu kami melakukanya, bahkan Audrey mengambil cuti dan mengosongkan jadwalnya sampai 3 hari ke depan, itu permintaan ku, kami berdua melakukannya setiap saat, aku awalnya hanya ingin berlaku seperti seorang istri yang normal.
__ADS_1
Dua hari setelah itu aku bertemu dengan seorang dokter ahli dari rumah sakit ternama, aku berkonsultasi dengannya, dia menyuruhku untuk membawa Audrey datang.
Sampai akhirnya Audrey datang dengan seribu bujukan ku, dokter memeriksa dirinya, aku hanya bilang pada Audrey bahwa aku hanya ingin mengecek kesehatan kami.
Keesokan harinya hasil dari pemeriksaan keluar, dokter menjelaskan bahwa Audrey tidak sedikit pun mengalami gejala atau hal semacam yang aku keluhkan padanya.
Aku tidak habis fikir dengan itu semua, aku menyetir dengan kecepatan penuh sampai hampir saja menabrak pengguna jalan yang lain, aku datang untuk bertemu dengan Ibu mertua ku.
"Kenapa ibu berbohong pada ku?"
"Ada apa sayang?"
"Audrey tidak mengalami penurunan kesuburan, dan apakah semua alasan itu karena Audrey yang menyuruh mu ibu!"
Ibu tidak bisa menjawab dia hanya memeluk ku, aku berontak dan pergi.
Aku mengeluarkan semua suplemen yang ku dapat dari dokter selama dua Minggu ini, aku selalu memberikan suplemen itu pada Audrey saat sarapan dan malam hari.
Botol-botol itu berhamburan ke lantai, Audrey kaget dengan yang aku lakukan.
"Jadi selama ini?"
"Ya... kau sudah tau semua itu bukan! kau tidak sakit! kau hanya memanfaatkan nurani ku Audrey! Terserah apa yang mau kau lakukan! aku sudah tidak perduli, kau menikmati semua permainan ini kan? aku berusaha untuk membuat mu kembali normal, tapi kau? kau menghancurkan perasaan ku yang terdalam Audrey!"
"Kau bermain dengan obat bahkan merahasiakan pemeriksaan itu dari ku Blevin! Maaf tapi aku harus pergi sekarang!" Ucap nya dia segera pergi dengan koper dan pakaian pakaiannya.
Hati ku rasanya tercabik, sampai hati dia melakukannya pada ku.
__ADS_1
Mengingat kejadian itu membuat ku sedikit mual sekarang, lebih baik aku istirahat sebentar.
Aku tertidur dengan begitu pulas semalam sampai aku tidak sadar bahwa sekarang sudah pukul 12 siang, aku terbangun juga karena Sinta mengetuk pintu kamar ku.
Diruang makan sudah ada ibu ku, dia datang? untuk apa?
"Selamat siang putri tidur!" sapanya.
"Hai Bu, kau bawakan makan siang untuk ku?" Jawab ku seraya mengecup pipinya.
"Ibu memasak udang saus Padang dan cumi masak hitam, ibu tau kau sangat suka mangkanya ibu membawa sebagaian untuk mu."
Mata ku langsung tertuju pada udang saus Padang aku mengambil nasi dan mulai menikmati makanan itu.
"Audrey belum kembali?"
"Belum, biar saja." ucap ku.
"Blevin, Pengacara menghubungi kami..."
"Ya ibu, aku melakukannya, aku melakukannya dengan pikiran sehat dan tanpa tekanan." Jawab ku tajam.
Setelah makan ku selesai aku mencuci tangan dan tak mau membahas masalah ini.
Aku pusing sekarang.
"Bu, ku mohon jangan ikut campur urusan ku dengan menantu iblis mu itu!" ucap ku seraya masuk kedalam kamar, biarlah aku sejenak beristirahat Bu, maaf aku kasar pada mu.
__ADS_1